PART IV
___________________________________________________________________________
Kei berjalan mendekati kolam kecil yang ada di taman yang ia masuki, bunga dengan beragam warna berjejer sepanjang jalan setapak pada taman itu, tanaman merambat yang tumbuh sejengkal di atas kepala Kei membuat suasana taman begitu romantis, taman yang begitu indah membuat Kei merasa berada di surga. Ia mendekati kolam yang jernih itu dan bayangan dirinya muncul di atas air, hal yang cukup janggal bagi Kei, karena seharusnya arwah tidak memiliki bayangan, ia menyentuh pipinya dan tidak bisa merasakan apa-apa, sosoknya yang kasat mata membuatnya bingung dari mana bayangan itu datang, tak lama kemudian karena penasaran, ia menyentuh pantulan dirinya yang muncul di atas air, dan tiba-tiba saja gadis itu tersedot masuk ke dalam kolam kecil di hadapannya.
Kei terbangun di sebuah ruangan kosong berwarna putih, dalam kebingungan yang cukup menyeramkan, ia bangun dan melihat sekitarnya. Ruangan itu benar-benar kosong, dan hanya ada satu pintu untuk keluar dan masuk. Dari celah pintu yang terbuka, Kei mendengar suara orang-orang yang sedang adu mulut, ia mendekati pintu itu dan mengintip dengan seksama. “Kau tidak bisa memperlakukanku seperti ini! Aku juga punya hak untuk bahagia Louvin!” teriak pria dengan rambut klimis berwarna putih kepirangan, ia berteriak ke arah sebuah singgasana besar berwarna emas yang menyembunyikan wajah pemiliknya. “Kau tidak mengerti Raven, aku melakukan hal ini untuk kebaikanmu! Arwah itu berbahaya! Kau telah dibutakan olehnya!” sebuah tangan yang jari-jarinya dihiasi beberapa cincin hitam muncul menunjuk ke kehampaan udara di sampingnya.
“Louvin benar Raven... kau tidak seharusnya mengejar arwah itu” seorang pria dibelakang Raven menepuk pundaknya, “Kau juga Cyan! Kau tidak seharusnya membela Louvin! Kau juga pernah kan jatuh cinta dengan mortal?!” Raven membentak Cyan yang terlihat pucat, “Cukup Raven!! Cyan sudah mendapat hukumannya, dan dia sadar kalau perilakunya salah! Bukan seperti kau yang terus membangkang!”, “Kalau begitu hukum aku! Ubah aku menjadi arwah pendamping! Hapus semua ingatanku agar aku tidak bisa jatuh cinta lagi! Itu kan keinginanmu?!” kemarahan Raven semakin memuncak, wajahnya semakin merah. “Aku tidak bisa! Okay?!” sosok yang disebut sebagai Louvin itu berdiri, dengan rambut pirangnya yang panjang, matanya yang berwarna hijau emerald, jenggot tipis yang juga berwarna putih kepirangan.
Louvin menghadap ke belakang singgasana emasnya, tempat arwah Kei mengintip dan menguping pembicaraan mereka sedari tadi, wajah Louvin terlihat sedih dan marah, Louvin memandang hampa ke arah Kei yang sedang gemetar melihat sosoknya yang tinggi besar, Kei yakin ia pasti terlihat jelas oleh Louvin karena ia berdiri tepat di ambang pintu, tapi tampaknya Louvin sama sekali tidak melihat mahluk apapun dihadapannya. “Apa maksudmu? Kenapa kau tidak bisa?” Raven terlihat bingung dengan kefrustasian Louvin, Louvin menarik nafas dan menghelanya dengan berat, “Dengar ini baik-baik. Ada banyak hal yang tidak boleh kuberi tahukan padamu, salah satunya adalah hal ini. Tapi aku akan memberitahukan ini karena aku tau kau akan terus mengejarku untuk meminta jawaban” Louvin menatap Raven dengan serius. “Alasan aku tidak bisa mengubahmu menjadi arwah pendamping adalah....” belum sempat Kei mendengar jawabannya, ia merasa tubuhnya ditarik paksa dari TKP, dan saat ia tersadar, ia sudah terbangun di ruang kerja Raven dengan Raven dan Ares menatapnya khawatir.
Kei pusing dan merasa mual, ia segera menarik tong sampah yang tak jauh dari tempatnya duduk dan mengeluarkan isi perutnya. Raven dan Ares berpandangan satu sama lain, mereka sepakat bahwa dugaan mereka benar, Kei telah memasuki dunia mereka. Jika mortal memasuki dunia Watchers dalam bentuk arwah, efeknya pada tubuh mereka akan sama seperti gegar otak, maka dari itu mereka akan mual dan pusing setelah memasuki portal. Sewaktu mereka sibuk mengurus sesuatu di rumah Louvin, alarm peringatan tiba-tiba saja berbunyi, alarm itu memperingatkan kalau ada mahluk selain Watchers yang melewati portal, dan ternyata mereka mendapati Kei masuk ke dalam kolam ingatan. Kolam yang berisi berbagai macam ingatan dari beberapa Watchers utama Louvin, terutama mereka yang memiliki posisi penting.
“Kamu nggak apa-apa kan?” Raven menepuk punggung Kei, dan Kei langsung merangkak menjauh dengan panik, “Ka..kalian.. mahluk apa kalian?!” Kei menunjuk Raven dan Ares dengan gemetar dan mata membelalak. “Tunggu Kei, aku bisa jelasin..” Raven merangkak mendekati Kei, “Berhenti disitu!!” teriakan Kei mengejutkan Raven yang akhirnya duduk tak jauh dihadapan Kei. Raven menghela nafas, “Look.. aku tau kamu pasti ketakutan sekarang, aku bisa jelasin semuanya selama kamu mau dengerin aku, oke?”, “Raven, kita harus pergi sekarang, keadaan di rumah Louvin sedang kacau, dan Louvin sudah mengetahui apa yang terjadi, sebentar lagi akan ada Watchers yang datang kesini” Ares menepuk pundak Raven.
“Okay, kalo gitu sekarang kita pergi” Raven mengangguk menatap Ares dibelakangnya, “Kei.. aku mau kamu packing sekarang, bawa barang-barang yang penting. Aku bakal jelasin semuanya di jalan” Raven menatap mata Kei dengan intens, dan tatapan itu membuat Kei segera mengangguk. Selagi Kei mengepak barang-barangnya dalam kebingungan dan ketakutan, Raven mengambil beberapa buku penting dari rak bukunya, pedang miliknya yang ada di dalam salah satu kotak kaca, serta beberapa berkas-berkas penting, sementara Ares sudah menunggu di dalam mobil bersama dengan arwah pendampingnya yang di multi fungsikan sebagai supirnya. Mereka segera masuk ke dalam mobil Ares setelah selesai mengambil barang-barang keperluan mereka, dan selama 5 menit pertama perjalanan mereka berlangsung hening.
Kei yang belum sepenuhnya mengerti apa yang terjadi hanya gemetar ketakutan di tempat duduknya karena dikelilingi oleh mahluk yang tidak ia ketahui jenisnya, pikiran Kei kalut memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya, dan siapakah orang-orang yang membawanya ini, apakah Raven adalah pria yang selama ini ia kenal? Apakah Raven benar-benar mencintainya? Atau selama ini hubungan mereka hanya kebohongan diantara kebohongan lainnya? Hanya dengan memikirkan hal itu saja air mata Kei perlahan mengalir.
Raven menyadari kalau Kei sedang menangis disampingnya, ia menyodorkan tissue pada Kei, Kei terkejut dan menghindari tatapan Raven, pria itu menarik tangan Kei dan meletakkan tissue di tangan Kei, “Makasih” suara Kei terdengar bergetar menahan sesegukannya, Raven tersenyum getir melihat wanita yang ia cintai takut dengan siapa dia sesungguhnya, Raven tentu saja tidak menyangka hal ini akan benar-benar terjadi. Padahal Danny telah memperingatkannya beberapa kali kalau identitasnya dapat terkuak di tangan Kei, dan sekarang setelah semuanya benar-benar terjadi, untuk pertama kalinya ia tidak tau apa yang harus ia lakukan.
RAVEN
“Masih berapa lama lagi kita sampai di rumah El?”, “Sebentar lagi, sekitar 15 menit lagi” Ares melirik jam tangannya, “Kau sudah menghubunginya?”, “Sudah, dia bilang dia akan menyiapkan barrier setelah kita sampai”, “Tapi kau yakin dia tidak akan mengkhianati kita? Kau tau sendiri Louvin punya banyak mata-mata”, Ares menggeleng “Aku yakin karena dia adikku, dan dia sangat menghormatimu. Suatu kehormatan baginya untuk membantumu”, aku menarik nafas panjang “Baiklah kalau begitu, kuharap kita belum sempat terlacak oleh suruhan Louvin”. Aku mengetuk-ngetukkan jariku dengan gelisah, kalau sampai Louvin tau Kei lah yang menerobos ke dalam portal, pasti ia akan menghukumku lebih berat lagi. Terlebih lagi Kei masih gemetar ketakutan di sebelahku sekarang, aku tidak tau bagaimana cara menenangkannya karena yang ia takuti adalah aku.
“Kei... aku udah janji mau jelasin semuanya ke kamu, kamu mau denger ini sekarang atau nanti aja waktu kita udah sampai?” aku menatap Kei khawatir, “Na-nanti aja” suaranya terdengar bergetar akibat menahan tangis. Sekarang aku benar-benar ingin berteriak sekeras mungkin, terlalu banyak tekanan dalam satu waktu dan aku tidak tau harus berbuat apa, Watchers mungkin mahluk spesial, tapi kurang lebih emosi kami sama seperti manusia, kami bisa merasa sedih, khawatir, marah, dan sebagainya. Di saat-saat genting seperti ini tekanan yang datang luar biasa hebat karena ini adalah Louvin yang kita bicarakan, sosok yang tega merobek-robek kulitku dan menyatukannya kembali dan kemudian merobeknya lagi, Watchers lain mungkin tidak tau betapa kejam dan teganya Louvin, tapi aku benar-benar tau bagaimana dia, setelah seumur hidup aku tinggal bersamanya, ia adalah sosok yang keras dan kaku, tidak akan pernah menerima jawaban ‘tidak’.
Kami sampai di depan rumah El, dan kulihat ia berdiri di teras rumahnya dengan tatapan khawatir. Electra adalah salah satu murid didikanku yang paling pintar, sudah lama sejak terakhir aku bertemu dengannya, mungkin sekitar 700 tahun yang lalu. Ia menghambur memelukku sesaat setelah aku menginjakkan kaki di atas teras rumahnya, aku tersenyum dan mengusap kepalanya “Tolong bantu Kei turun dan masuk ke dalam rumah, aku akan memasang barrier di sekeliling rumahmu”, “Aku saja yang memasang barriernya, kakak masuklah dan istirahat”, “Tidak apa-apa, barrierku jauh lebih kuat dibanding milikmu, sekarang bantulah Kei masuk ke rumah”, “Oh iya, kau benar juga” ia manggut-manggut, “Kalau begitu setelah selesai memasang barrier langsung masuklah, sudah kusiapkan kamar untukmu”, aku mengangguk mengerti, dan ia segera pergi mengantar Kei masuk ke dalam rumah.
Setelah aku selesai memasang barrier, aku segera masuk untuk mendiskusikan beberapa hal dengan Ares dan Electra, termasuk apa yang harus kami lakukan ketika mereka menemukan Kei dan aku disini, tentunya aku tidak akan membiarkan mereka menggeret kami berempat tanpa perlawanan. Bagi manusia yang melewati portal, hukumannya adalah penghapusan memori, dan tentunya aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi, bukan hak Louvin untuk menghapus memori Kei, apa lagi Kei masuk ke dalam portal karena kecerobohanku. Aku tidak yakin Kei siap mendengar kebenarannya, tapi aku juga berharap kalau ia bisa mengerti dan menerima siapa aku sesungguhnya, bukan sebagai mahluk asing, tapi sebagai pria yang benar-benar mencintainya.
KEI
Aku menatap kosong selagi duduk di pinggir kasur, untuk kesekian kalinya aku kembali menghela nafas, sebenarnya apa yang saat ini sedang terjadi? Apakah kami dalam bahaya? Semua tekanan dan kekhawatiran ini membuat kepalaku hampir meledak, ditambah lagi aku tidak tau apa-apa tentang identitas mereka yang sebenarnya. Tak terasa, air mataku kembali mengalir, tiba-tiba aku merindukan Mama dan kak Sasha, kalau sesuatu terjadi padaku... dadaku sesak, tak sampai hati aku membayangkan Mama yang akan kehilangan putri semata wayangnya ini.
Suara pintu yang terbuka mengagetkanku dan membuatku cepat-cepat menghapus air mata yang sedari tadi tak henti mengalir, hanya terdengar suara sepatu yang beradu dengan lantai kayu, aku dapat merasakan seseorang duduk di seberang kasur, memunggungiku yang sedang menatap keluar jendela, beberapa saat kemudian terdengar helaan nafas berat. “Maafin aku Kei..” suara Raven yang sangat kuhapal memecah keheningan, aku tetap diam dalam dilema, dilema karena saat ini aku ingin berlindung dan menangis di pelukan Raven, tapi aku takut karena tak mengetahui Raven yang sebenarnya, bahkan aku sempat berpikir apakah namanya benar-benar Raven.
“Nggak seharusnya kamu terlibat dalam duniaku.. karena kecerobohanku kamu jadi terancam bahaya kaya gini”, “Bahaya apa yang kamu maksud?”, “Apa kamu siap mendengar kebenarannya? Semua kebenarannya?”. Aku tertegun mendengar pertanyaan Raven, apakah aku benar-benar siap mendengar kenyataannya? Aku masih takut, namun rasa penasaran lebih menggangguku sedari tadi. “Aku.. siap” dengan suara bergetar aku menelan ludahku, aku pikir lebih cepat aku tau maka akan lebih baik.
“Kami disebut Watchers, setidaknya pada masa ini. Kami sudah hidup sejak ribuan tahun yang lalu, beda zaman maka panggilan kami juga berbeda. Kami adalah perwujudan sehelai bulu sayap malaikat yang jatuh, wujud asli kami berbentuk seperti manusia namun dengan tinggi 12 kaki dan rambut putih kepirangan. Kurang lebih fungsi tubuh kami seperti manusia, semua emosi dan kebutuhan dasar juga seperti manusia. Tugas kami adalah menuntun manusia berjalan sesuai ketentuan yang ditetapkan-Nya”, “Apa maksudnya menuntun manusia?” aku perlahan menengok kebelakang, “Semua manusia yang ada di dunia ini harus berjalan sesuai ketetapan Yang Maha Esa, semua hal-hal kecil telah diatur, secara tidak langsung sebenarnya tidak ada yang namanya kebetulan. Misalnya saat seseorang menjadi pengusaha sukses yang kaya raya, selain karena usahanya sendiri, kami Watchers juga punya andil dalam kesuksesannya” ia tersenyum samar.
“Contohnya saat aku memarahi seorang karyawan di kantor dengan keras, mungkin orang lain mengira aku ini bos yang kejam dan tak punya perasaan, tapi aku tidak asal memarahinya, kami Watchers punya trik khusus untuk membolak-balik perasaan seseorang. Hati orang itu sebenarnya sedang kutempa agar ia dapat menjadi lebih baik, karena kata-kataku yang merendahkannya, ia termotivasi untuk membuktikan padaku kalau ia bisa lebih dari perkiraanku, dan dengan begitu ia bisa menjadi manusia yang berjalan sesuai ketetapan-Nya. Kurang lebih seperti itu tugas kami, mengarahkan manusia sesuai jalan yang di tetapkan” Raven tersenyum melihat aku yang mendengarkan ceritanya dengan seksama.
“Kami punya pimpinan, ia dipanggil Louvin. Ia bertugas untuk mengatur dan mengajari semua Watchers generasi pertama, ia yang membuat peraturan dan hukuman bagi kami. Taman yang dimasuki oleh arwahmu tadi adalah taman milik Louvin, dan kolam yang kamu lihat itu adalah kolam ingatan, beberapa ingatan penting disimpan disana. Ia lahir 100 tahun sebelum aku, dan diajari langsung oleh malaikat Gabriel untuk menjadi tangan kanannya dalam mengawasi semua aktivitas manusia. Sebenarnya Louvin lebih seperti kakak bagiku dari pada atasan, dan ia menentang kami untuk memiliki perasaan pada manusia, atau ia biasa menyebut kalian mortal, ia bahkan membuat peraturan khusus yang ketat tentang hal ini. Louvin bisa jadi sangat mengerikan saat ia marah, dan kejadian tadi sudah pasti akan membuat ia marah” Raven menghela nafas menatap lantai, sementara Kei merasa jantungnya terhenti sejenak.
“Jadi bahaya apa yang kamu maksud?” Kei menatap Raven khawatir, “Louvin pasti akan mengincar kita berdua untuk dihukum. Hukuman bagi manusia yang melewati portal adalah penghapusan memori, dan hukuman untuk Watchers adalah dibakar hidup-hidup, atau mungkin lebih parah, tergantung kondisi dan situasi dimata Louvin”, “Tunggu dulu... bukannya kau akan mati kalau dibakar hidup-hidup?!” Kei membelalakkan matanya, “Ya, tapi aku akan hidup kembali setelah mati, jadi sebenarnya penyiksaan itu benar-benar menyakitkan karena aku akan terus hidup setelah mati” Raven tertawa pasrah, sementara air mata Kei sudah menggenang membayangkan siksaan yang dilalui oleh Raven, pria yang dicintainya.
“Aku... punya pertanyaan..” Kei menatap Raven ragu-ragu, “Apa? Kamu boleh tanya apa saja kok” laki-laki itu tersenyum hangat. “Apa perasaanku buat kamu ini benar-benar perasaanku, atau kamu yang mengendalikan perasaanku?” Kei mencengkram seprei dengan tangannya yang gemetar, “Perasaan itu nyata milikmu Kei..” Raven menyentuh punggung tangan Kei dengan lembut, “Tapi?” Kei melihat kata yang tertahan dari bibir Raven, “Tapi... pertemuan kita memang bukan sepenuhnya takdir.. lebih tepatnya aku yang mencarimu. Sejak berabad-abad yang lalu” Raven tersenyum pilu, ia tau kalau apa yang ia perbuat salah, secara tidak langsung ia memaksa Kei untuk jatuh cinta padanya di setiap siklus kehidupan arwah Kei.
“Apa maksudmu sejak berabad-abad yang lalu?” Kei menatap Raven dengan alis bertaut, “Setiap kali arwahmu pergi ke alam baka, maka tak lama kemudian arwah itu akan dilahirkan kembali dalam tubuh yang berbeda. Kalian para manusia mungkin mengetahuinya sebagai reinkarnasi, proses ini terjadi pada setiap mahluk hidup, roda kehidupan dan kematian itu banyak dikenal oleh manusia dengan sebutan Samsara. Dalam samsara milikmu, aku selalu ada, aku selalu mencari dimana arwahmu ditempatkan kembali di dunia. Jadi sebenarnya kita sudah mengenal satu sama lain secara tidak langsung sejak 1500 tahun yang lalu”, “Seribu.. lima ratus.. tahun yang lalu?!” Kei tidak bisa berhenti memelototi Raven, “Lalu umurmu...”, “Aku kurang lebih berusia.. 4500 tahun”, Kei membeku ditempat duduknya, “Jadi.. kau ada hampir di setiap kejadian di dunia ini?” Kei menatap Raven kagum sekaligus tercengang, “Tidak semuanya, mungkin aku hadir di hampir semua kejadian besar yang mempengaruhi manusia di bumi” Raven tersenyum mengingat sejarah-sejarah besar yang telah dilalui umat manusia.
“Raven... apa aku perlu tau hal lain tentang Watchers?” Kei menatap Raven penasaran, “Hm.. ada beberapa sebenarnya. Salah satunya tentang kekuatan kami, aku bisa mengendalikan berbagai elemen di sekitarku, Ares bisa mengetahui isi pikiran manusia, sementara Electra bisa mengendalikan benda-benda dengan pikirannya, dan masih ada beberapa kekuatan yang berbeda di setiap Watchers”, “Aku.. ingin tau sesuatu, apa boleh?”, “Tentu saja” Raven tersenyum lembut, “Setiap kali kau bertemu denganku, ditubuh dan waktu yang berbeda, apa kau tetap seperti kau yang sekarang? Maksudku apa kau selalu sebaik dan sehangat ini?”.
Raven tertegun mendengar pertanyaan Kei, namun tak lama kemudian ia tersenyum, “Aku... jujur saja aku tidak pernah tau apakah aku berubah, atau apakah aku merubah sikapku. Namun setiap kali aku bersamamu, aku menjadi seperti ini, aku merasa bebas menjadi diriku sendiri. Aku hanya fokus membuatmu nyaman dan bahagia di sisiku, dan tidak pernah memikirkan hal yang lainnya. Kebahagiaanmu adalah prioritas bagiku” Raven perlahan menyelipkan rambut pirang kecoklatan itu kebelakang telinga Kei, dan hal itu sukses membuat pipi Kei merah merona. “Jadi.. kau tetap Raven yang selama ini ku kenal dan kusayang?” Kei menatap Raven dengan mata besarnya, mata yang membuat Raven jatuh hati pada pandangan pertama.
Lelaki itu tersenyum hangat, “Ya.. tentu saja. Apa kau mau kutunjukkan ingatan-ingatanmu yang sebelumnya?”, “Kau.. bisa melakukan itu?” Kei menatap Raven tak percaya. “Mendekatlah” Raven semakin mendekat sembari melihat Kei bergerak mendekatinya, tiba-tiba Raven menarik Kei dan bibir mereka bertautan dengan hangat. Semua ingatan itu kembali mengalir ke pikiran Kei selagi mereka berciuman, dan Kei meneteskan air mata. Air mata kerinduan karena mereka dipisahkan berkali-kali dengan berbagai bencana dan kesedihan yang diciptakan oleh Louvin. Selagi semua memori itu kembali, selama itu pula semua emosi yang dirasakan oleh arwah Kei ikut kembali, membuat Kei meneteskan air mata yang tak ada habisnya.
Setelah mereka selesai, Raven mengusap lembut pipi Kei yang dibasahi oleh air mata sembari tersenyum, sementara Kei mengusap pipi Raven dan menatapnya dengan penuh rindu, mereka berdua tertawa kecil, tanpa bicara pun mereka telah mengetahui isi pikiran masing-masing. “Nama kamu beneran Raven atau beda lagi?”, “Iya, nama asliku memang Raven”, “Oh iya, bisa nggak kamu tunjukin ke aku wujud aslimu?”, “Wujud asliku? Kayaknya nggak bisa di ruangan ini deh, terlalu pendek”, “Nggak perlu sama persis, cukup penampilannya aja” Kei tertawa kecil melihat Raven yang kebingungan.
Tak lama kemudian Raven merubah rambutnya menjadi putih kepirangan, ia pun turut mengganti pakaiannya menjadi setelan jas serba putih. Kei yang melihat perubahan ajaib di depan matanya tidak dapat menutup rahangnya kembali ke tempat semula. Rambut Raven yang berubah warna helai demi helai, alisnya, struktur wajahnya yang agak berubah juga terlihat jelas di depan mata Kei. Ia mengelilingi Raven di tempat pria itu berdiri, “Gimana? Lebih suka yang ini atau yang biasanya?” Raven tertawa kecil melihat wanitanya terkagum-kagum seperti anak kecil, “Kamu.. kok mirip kaya albino ya? Serba putih gini” Kei menahan tawanya, “Ya memang gini wujud asliku”, Kei manggut-manggut mengerti, “Tapi mau yang ini atau yang biasanya, dua-duanya aku suka kok” Kei tersenyum dan memeluk Raven erat sementara Raven tersenyum lebar.
______________________________________________________________________________________________________________________________________________________
TO BE CONTINUE
___________________________________________________________________________
Cerita ini hanya fiktif belaka guna memenuhi tugas.
Beberapa hal yang di paparkan dalam cerita tidak sepenuhnya fakta, melainkan imajinasi dan subjektivitas penulis.
Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, hal tersebut adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.
Cerita ini hanya fiktif belaka guna memenuhi tugas.
Beberapa hal yang di paparkan dalam cerita tidak sepenuhnya fakta, melainkan imajinasi dan subjektivitas penulis.
Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, hal tersebut adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.
©DinaAuliaLee