KEI
“Aku akan menemukanmu
kembali di kehidupanmu selanjutnya, tunggu aku” ia tersenyum dalam kobaran api
yang sudah memenuhi ruangan.
Aku terbangun dengan nafas
terengah-engah dan tetesan keringat yang sebesar butir-butir jagung, aku menitikkan
air mata, entah kenapa rasa sakit di dadaku terasa begitu nyata, padahal itu
semua hanya mimpi.
Jam dindingku menunjukkan
pukul 5 pagi, kupegangi kepalaku yang pusing karena mimpi si*lan barusan. Sudah
beberapa hari ini aku bermimpi tentang laki-laki itu. Laki-laki yang
mengucapkan janji akan menemukanku di kehidupanku yang selanjutnya. Awal mimpi
itu muncul, aku menganggapnya sebagai bunga tidur semata, dan aku melupakannya
begitu saja. Sebulan kemudian mimpi itu muncul lagi, dan frekuensinya semakin
sering. Sekarang setiap 2 hari sekali aku pasti bermimpi tentang laki-laki itu.
Kata-kata pria itu selalu
sama, “Aku akan menemukanmu kembali di kehidupanmu selanjutnya, tunggu aku”.
Tapi anehnya, di dalam mimpiku, tempat ia mengucapkan kata-kata itu
berbeda-beda, awalnya pria itu mengucapkan janjinya di tengah laut saat sebuah
kapal pesiar karam. Ketika ia tenggelam, pandanganku berubah gelap seketika.
Dan mimpi-mimpi selanjutnya memiliki pola yang sama, perang, bencana alam,
kecelakaan mobil, dan sebagainya. Sepertinya ia selalu mengucapkan janji itu
saat ia hendak meninggal. Aku merasa seolah-olah aku melihat kilas balik
kehidupan-kehidupanku yang sebelumnya.
Dan aku selalu terbangun
dalam kondisi panik, putus asa, dan sakit hati, seolah-olah aku ini...
kekasihnya? Entahlah aku tak tau pasti, seandainya aku mengenal orang itu, aku
pasti sudah mencarinya, namun ada satu hal yang mengusikku. Aku tidak pernah
bisa melihat dengan jelas rupa pria itu. Hanya senyumnya dan senyumnya saja
yang kuingat. Senyum hangat dan tegar itu, bukan jenis senyum yang mudah untuk
di lupakan.
Aku menghela nafas dan
menggelengkan kepalaku, bukan saatnya aku larut memikirkan mimpi tak jelas itu,
saat ini aku harus bangun, mandi, dan bersiap untuk pergi ke bandara untuk
menemui teman-teman bandku yang sudah menungguku untuk manggung di Bali.
Terlebih lagi karena aku
bukan tipe orang yang percaya hal-hal konyol seperti itu, walaupun aku mewarisi
bakat indigo dari Mama, aku tidak percaya dengan konsep kehidupan setelah
kematian. Bisa melihat mahluk halus bukan berarti aku percaya akan paham paham
mistis yang orang-orang lain percayai, selama aku tidak mengalaminya sendiri,
aku tidak akan percaya omong kosong orang-orang itu.
_______________________________________________________
Sudah sekitar 4 tahun sejak
Keila Nataschenka Chenobog meninggalkan
rumah dan menjadi vokalis band ‘Black Diamond’. Terlahir kaya serta dianugerahi
wajah cantik dan body yang aduhai tidak akan pernah menjamin kebahagiaan batin,
hidup malah terasa penuh dengan masalah, setidaknya itulah yang Kei rasakan.
Band ‘Black Diamond’ yang
beranggotakan 4 orang itu cukup sukses dan stabil, walaupun bukan band yang
sangat terkenal, band itu selalu punya kesempatan untuk menjadi pembuka atau
penutup di konser-konser band ternama lainnya. Dibawah naungan perusahaan
rekaman ternama, mereka mampu meningkatkan skill bermusik mereka setiap harinya, 2 buah album bergenre pop dan jazz lahir dari hasil dari kerja
keras mereka selama beberapa tahun belakangan.
Ponsel Kei berdering, nama
Kafka muncul sebagai nama pemanggil, “Udah dimana Kei?!” Kei langsung
menjauhkan ponsel itu dari telinganya karena teriakan Kafka yang membuat
telinganya pengang, “Aduh.. Kalo ngomong gak usah pake toa bisa gak Ka? Ini gue
udah di terminal 3, lo dimana?” perempuan itu menyisir terminal 3 dengan
pandangannya, mencari sosok jangkung Kafka di antara lautan manusia, “Gue udah
di depan gerbang masuk nih. Oh! Gue liat lo!” lambaian tangan Kafka terlihat di
depan gerbang masuk, “Oke otw” Kei menenteng ransel beserta gitar ke arah gerbang
masuk.
Kafka adalah manager band
‘Black Diamond’, ia memiliki kepribadian yang ceria dan selalu positif, mungkin
faktor bawaan orok. Untuk posisi manager, Kafka terbilang cukup muda, ia baru
menginjak 24 tahun, tak jauh berbeda dari Kei yang berumur 23 tahun. Walaupun
Kei tak pernah mengatakannya di depan Kafka, tapi di dalam hati ia memang
mengakui kalau Kafka cukup tampan di bandingkan orang Indonesia rata-rata,
perpaduan gen Timur Tengah dan Indonesia memang mampu membuat darah di tubuh
perempuan mana pun berdesir.
Di ruang tunggu, anggota
band lainnya sudah duduk manis menunggu satu-satunya orang yang jarang on
time. “Subhanallah... Lama banget sih lo Keilaaa” Eza menatap Kei dengan
gemas, ia menghambur memeluk Eza, “Bang Eza ganteng deh kalo nggak marah-marah”
Kei berharap cengirannya itu mampu membuat Eza memaafkannya. Laki-laki 27 tahun
itu geleng-geleng kepala melihat tingkah Kei yang tak pernah berubah, selalu
ngaret. “Udah lengkap semua kan? Ayo boarding” Zen–leader sekaligus drummer
yang umurnya paling tua di antara anggota lainnya--mengangkat tasnya dan
mengantri untuk masuk ke dalam pesawat.
Sesampainya di Bali, band
itu segera check in di hotel dan pergi untuk gladi resik di sore harinya. Saat pembagian kamar, Kei kedapatan berbagi
kamar dengan Bima, ‘Yes! Bareng bang Bim’ batin Kei. Hubungan dekat mereka
sering di salah artikan dengan hubungan asmara, padahal Kei hanya menganggap
Bima sebagai kakaknya, begitu pula Bima yang menganggap Kei sebagai adik
perempuannya. Maklum, hati mereka berada di satu frekuensi yang sama dan mereka
merasa lebih cocok untuk berteman dari pada berpacaran. Bima yang lebih tua 2
tahun di banding Kei, sering bertukar cerita dan berbagi saran dengan Kei,
mereka juga sering membuat lagu bersama.
Bagi Kei, terlahir dengan ‘resting
bitch face’ adalah kutukan sosial. Kata-kata jutek, galak, dan sombong
sudah sangat akrab di telinga Kei, bahkan wajahnya sempat membawa bencana bagi
Kei semasa SMA. Walaupun kelihatan galak, Kei sebenarnya orang yang sangat baik
dan supel, karena itu Kei punya banyak teman laki-laki semasa SMA, namun siswi
di sekolahnya tak berani mendekatinya karena ia kelihatan jutek dan bitchy,
bahkan mereka sempat menggunjingkan hal-hal yang jahat tentang Kei karena
ia punya banyak teman laki-laki.
Biasanya saat Kei menatap
mereka dengan wajah datar, mereka sudah grogi duluan, padahal bicara saja
belum. Mereka menghindari Kei seolah-olah Kei itu semacam debt.
collector atau sejenisnya. Atau kalau mereka tidak grogi, biasanya
mereka pikir Kei adalah anak songong yang suka cari ribut. Pernah juga Kei
dianggap marah, padahal ia sedang melontarkan jokes. Tentu saja hal
itu disebabkan oleh wajahnya yang terlihat tidak ramah.
Pewaris wajah itu tentu
saja adalah Papa Kei, Dimitri Chenobog adalah pensiunan angkatan darat Rusia,
yang wajahnya memang sudah seram dari sananya. Kei sering kali berharap kalau
ia mewarisi wajah lembut Mamanya seperti kakaknya Sasha, ia merasa hidupnya
pasti akan terasa lebih mudah. Walaupun Sasha laki-laki, ia memiliki paras yang
lembut dan kalem, tipe-tipe wajah seperti Ari Wibowo yang di sukai oleh
perempuan. Waktu Kei mendapatkan job di luar kota seperti sekarang, ia jadi
lebih sering homesick, ia kangen Mama dan kakaknya.
Tapi tidak
dengan Papanya, ia lah yang mendepak Kei keluar dari rumah setelah Kei menolak
mentah-mentah perintah Papanya untuk meneruskan perusahaan percetakan Chenobog
di Rusia. Ia merasa Papanya tidak adil pada dirinya, karena kakaknya boleh
mengejar cita-citanya menjadi dokter, sementara Kei harus terjebak di hawa
dingin Rusia dan menjalankan perusahaan percetakan yang tua itu, ia juga tidak
diperbolehkan menjadi musisi yang sudah menjadi cita-citanya dari dulu.
_______________________________________________________
KEI
Setelah selesai makan malam
di hotel, tiba-tiba saja aku mendengar suara laki-laki itu. suara familiar
laki-laki yang ada di dalam mimpiku itu. Tanpa sadar aku segera mengikuti suara
itu yang memanduku ke suatu tempat, dan suara itu tiba-tiba terhenti karena aku
tak sengaja menabrak seorang laki-laki tinggi berparas khas orang Eropa dengan
hidung mancung bermata biru, “I’m sorry, are you okay?” aku menggaruk
kepalaku dengan canggung, “Saya nggak apa-apa” ia tersenyum, untuk sesaat aku
terkejut karena ia fasih berbahasa Indonesia. Tapi yang membuatku lebih
terkejut lagi adalah, aku seperti mengenali senyum itu, entah kenapa senyum itu
seperti senyum yang telah lama ku dambakan.
Ia pergi melewatiku begitu
saja setelah tersenyum, aku memandangi punggungnya yang pergi menjauh ke meja
seseorang, dan lagi-lagi aku terpaku karena melihatnya duduk di meja tempat
anak-anak band berkumpul dan merokok. Aku menghentikan Kafka yang hendak pergi
ke toilet, “Eh, Ka, itu orang yang baru gabung siapa?” aku tak bisa berhenti
memandang ke arah laki-laki yang sedang tertawa itu. “Ooh.. itu kan CEO
perusahaan rekaman kita, masa lo gak tau?” ia memandangku yang sedang
menggeleng, “Eh gue udah kebelet nih, nanti lagi ya ngobrolnya” ia melepas
cengkraman tanganku dari lengannya dan pergi ke toilet.
Karena penasaran tentang
CEO itu, aku menunggui Kafka di depan toilet pria, “Ya salamm! Lo hampir bikin
gue baca ayat kursi tau gak!” Kafka memegangi dadanya saat melihat aku jongkok
di depan lorong kamar mandi. Aku segera berdiri saat mendengar ocehannya “Gue
masih penasaran sama CEO itu deh Ka”, “Penasaran sih boleh Kei, tapi jangan
kaya dedemit gitu dong” ia mengatur nafasnya karena masih shock dengan ulahku
barusan, “Emang lo belom pernah ketemu dia?” Kafka malah menatapku bingung, aku
menggeleng.
Selagi mengantarku kembali
ke kamar, Kafka bercerita banyak tentang sepak terjang laki-laki yang mencuri
perhatianku itu, ternyata ia baru di pindah tugaskan dari UK ke Indonesia satu
tahun yang lalu. Kafka bilang, orang yang bernama Raven Carrington itu seumuran
dengan bang Eza dan masih single.“Emang kenapa sih lo mendadak penasaran sama
doi? Naksir?” Kafka melirikku yang sedang melamun di dalam lift, “Nggak, bukan
gitu.. cuma rasanya gue kenal banget sama dia” aku menatap kosong ke arah pintu
lift, dari sudut mataku aku bisa melihat kalau Kafka menatapku dengan alis
berkerut.
RAVEN
“Kau tahu kan apa resikonya
kalau kau memaksa bertemu dengannya?” bocah laki-laki itu menatapku dengan
kesal, “Sudah diamlah, aku tau apa resikonya” aku berusaha fokus menatap layar
laptopku, “Kalau kau tau apa resikonya, kenapa kau malah membahayakan perempuan
itu dan dirimu sendiri? Kau lupa kalau Tuan akan menghukummu lebih berat kalau
kau tetap memaksa untuk menemuinya?” ia menghalangi layar laptopku dengan
kepalanya. “Minggirlah, atau aku akan membuka kalungku dan memasukkanmu kembali
ke sana” ancamku, “Ayolah Raven! Kalau kau di siksa, aku juga akan ikut
disiksa! Kau tau Tuan tak pernah main-main kan?!” ia malah duduk di atas laptop
dan membelakangiku.
Aku menghela nafas dan
melepas kacamataku, “Dengar.. apa yang terjadi antara aku dan perempuan
itu, adalah hal yang tidak akan pernah dimengerti oleh arwah pendamping
sepertimu maupun oleh Louvin”, “Maka buatlah aku mengerti! Kau selalu berkata
seperti itu, tapi kau tak pernah menjelaskannya padaku” bocah itu berbalik
menatapku. “Danny.. aku bukan tidak ingin, tapi hal itu memang tidak bisa di
jelaskan dan di ajarkan secara verbal. Kau harus mengalaminya sendiri, dan kita
berdua sudah tau apa jawabannya bukan? Kau itu arwah, kau tidak bisa jatuh
cinta” aku berdiri dan menjatuhkan diri di atas kasur hotel yang empuk. “Tapi
kan kau harusnya bisa untuk tidak jatuh cinta! Kau sungguh egois Raven!” Danny
pergi menembus dinding di belakang kasurku. Aku menghela nafas, bagaimana bisa
aku tidak jatuh cinta padanya? Saat semua memori indah itu terulang di
kepalaku, aku kembali merindukan perempuan itu. Andai aku bisa menjadi manusia
biasa dan hidup bahagia bersamanya....
“Dannyyy..” aku memanggil
Danny yang sudah berkeliaran selama setengah jam, tak lama kemudian Danny masuk
lewat dinding yang sama tempat ia pergi, “Apa?” Danny melirik sinis ke arahku,
“Sudah waktunya kau istirahat” aku membuka liontin kristalku, “Aku masih ingin
jalan-jalan” Danny hendak melengos pergi, “Kau tau kalau kau tak bisa membantah
perintahku bagaimanapun juga kan? Jangan memperpanjang hal sederhana ini
Dan..”, Danny berdecak kesal dan kembali masuk ke liontin kristal yang ada di
kalungku.
KEI
Aku tidak tau hotel ini
berhantu atau tidak, tapi rasanya semalam aku melihat sosok arwah anak kecil
yang berkeliaran di sekitar hotel. Dan tepat pukul 5 pagi, aku memimpikan
sesuatu yang aneh, kali ini bukan pria itu, tapi aku bermimpi kalau aku sedang
berdiri di depan pintu kamar hotel bernomor 1721, tapi entah kenapa aku merasa
sedang benar-benar berdiri di depan pintu itu. Belakangan ini indera keenamku
sering aktif dan semakin sensitif, apa karena hormonku sedang naik? Atau karena
aku sedang berada di Bali? Ya mungkin saja sih.. aktivitas arwah di pulau
dewata ini memang lebih kuat dibanding Jakarta.
Setelah mencuci muka dan
sikat gigi, aku pergi untuk sarapan di restoran hotel. Saat aku keluar dari
kamar, secara bersamaan aku melihat pria bernama Raven itu keluar dari
kamarnya. Tunggu dulu! Nomor kamar itu... kamar 1721! Tiba-tiba angin dingin
menjalari punggungku, aku membayangkan mimpiku semalam, ada apa dengan pria
itu? Kenapa aku merasa terus menerus di arahkan untuk mendekatinya? Dan kenapa
aku merasa familiar dengan pria itu?
Kepalaku terasa pening
sejenak, aku bertumpu pada tembok disamping ku, “Kamu nggak apa-apa?” suara bariton seorang
pria mengagetkanku, “Ah.. iya saya nggak apa-apa” aku tersenyum dan berusaha
menyeimbangkan tubuhku, “Perlu saya antar ke kamar?” ia melihatku khawatir,
“Nggak.. nggak usah, saya nggak apa-apa kok” aku menggeleng dan mengatur
nafasku. “Kalo gitu boleh saya temani ke tempat tujuan kamu?”, “Kalau nggak
merepotkan.. saya pengen ke restoran”, “Oh, okay. Kebetulan saya
juga ingin ke sana” ia tersenyum dan berjalan disamping ku.
Sepanjang perjalanan aku
terdiam karena aku merasakan sesuatu yang janggal dari pria ini, auranya..
terasa dingin.. seperti tertutupi oleh sesuatu? Tidak tidak.. ia tidak memiliki
aura! Umumnya di setiap mahluk hidup terutama manusia, memiliki aura. Dan
beberapa orang dengan bakat khusus seperti aku, dapat langsung melihat warna aura yang
mengelilingi tubuh mereka, tapi pria ini.. sudah kuduga ada yang janggal dari pria
ini. Sejak aku melihat senyumnya aku sudah memiliki perasaan aneh yang
membuatku penasaran, dan berada di dekatnya seperti ini membuatku semakin yakin
kalau ada sesuatu yang pria ini sembunyikan.
Kami turun bersamaan dan
aku pergi menuju Kafka dan yang lainnya setelah mengucapkan terima kasih pada
Raven. “Lo kok turun bareng dia?” Kafka duduk dan meletakkan piringnya yang
penuh di atas meja, “Tadi ketemu di depan kamar” aku menyeruput kopiku untuk
membuat mataku melek sempurna. “Gile.. masih manjur aja tuh susuk lo” bang Eza
duduk di sebelahku membawa sepiring nasi goreng, “Kurang ajar” aku menonjok
lengannya, “Nih makan. Nanti kita ke sana di anter sama bos, jadi pada di jaga
ya omongan sama kelakuan” bang Zen meletakkan piring berisi sarapan komplit ke
hadapanku, “Siap bang” kami menjawab serempak.
Bang Zen tidak pernah
banyak bicara, tapi perintahnya lugas dan tegas. Sebagai leader, kharisma bang
Zen memang tidak diragukan lagi. Apalagi saat ia menabuh drum dengan stick
andalannya itu, aku yakin orang-orang akan selalu terpesona oleh penampilannya.
“Saya boleh gabung?” suara yang familiar kembali muncul di samping meja kami,
aku bengong menatap Raven yang duduk di hadapanku saat ini. Sebenarnya apa
tujuannya pindah ke tempat duduk kami?
RAVEN
“Kau berada terlalu dekat
dengannya Raven!” Danny mengoceh dari dalam kalungku, “Diamlah! Kalau kau berisik,
aku tidak akan fokus mengobrol dengan orang-orang ini” aku bertelepati dengan bocah bawel itu. “Lagipula kenapa kau ingin
sekali berbaur dengan manusia sih?! Mereka itu sombong dan tidak ada
bagus-bagusnya!”, “Kau itu sengaja ingin membuatku kesal ya?
Sudah tugas kaumku untuk berbaur dan mengawasi manusia. Apalagi posisiku
sekarang adalah sebagai CEO, tentu saja aku harus mengawasi artis-artisku”, “Cih.. seorang Watchers yang jatuh cinta
memang merepotkan! Kenapa juga harus aku yang mendampingimu?!”. Danny membalik meja yang ada di dalam tempat istirahatnya, dan hal itu membuat kalungku sedikit bergerak, “Dannyyy!!” aku meremat kalungku saking kesalnya. Padahal aku harus menjaga tingkahku
agar normal saat berada di dekat manusia, tapi karena arwah pendamping yang
menyebalkan ini, tugas berbaurku jadi terganggu. Aku jadi merindukan arwah pendampingku yang dulu, Raina. Ia tidak pernah bawel dan penurut, bahkan ia sering memberikanku masukan yang bermanfaat. Sayangnya ia sudah terlahir kembali menjadi manusia sekarang.
Kei menatapku dengan mata
hazelnya, ia seperti berusaha untuk membaca pikiranku lewat matanya, aku merasa
di telanjangi dengan tatapannya itu. Aku berdehem “Ada apa Kei?” sebuah senyum
lembut berusaha ku torehkan di wajahku, “Nggak...” ia menatapku dengan datar dan menggeleng. Aku hanya tersenyum tipis melihat responnya, sayangnya aku tak
punya kekuatan untuk membaca pikiran seperti Ares--salah satu dari 12 Watchers utama andalan Louvin--. Aku hanya bisa mengendalikan elemen di sekitarku, seperti listrik,
suhu udara, metal, dan sebagainya. Dan menurutku hal itu tidak terlalu berguna
untuk menghadapi manusia, kecuali tentu saja saat aku berada dalam bahaya.
Anggota band yang lainnya
memelototi Kei karena responnya yang mereka rasa kurang sopan padaku, terkadang
aku lupa kalau saat ini aku berposisi sebagai CEO. Aku maklum dan sebenarnya
sudah kebal terhadap bermacam-macam kepribadian Kei, tentu saja sewaktu ia di
lahirkan kembali, kepribadiannya akan berbeda-beda. Semenjak 1500 tahun yang
lalu, aku sudah melihat sekitar 17-18 kepribadian Kei yang berbeda. Tapi ada
satu hal yang tidak pernah berubah, ia selalu penasaran denganku saat aku
menemukannya.
_______________________________________________________
Mobil van melaju menembus
keramaian kota Bali, Kei yang duduk di sebelah Raven hanya bengong sedari tadi
memandang keluar jendela. “Kafka, kalo saya boleh tau, agenda kalian hari ini
apa saja?” Raven menatap Kafka yang sedang menyetir, “Hari ini cuma jadi
pembuka dan selingan aja pak, mereka akan bawain 3 lagu” Kafka melirik ke
bangku belakang dari spionnya, Raven manggut-manggut, “Maaf saya gak bisa
nemenin kalian sampai acaranya selesai, mungkin saya bisa nonton performance awal
saja. Tapi kalian bisa bawa mobilnya kok” Raven tersenyum, “Siap pak” Kafka
mengangguk mengerti.
Sesampainya di tempat
acara, band bersiap untuk check sound terakhir dan makeup, sementara Raven
berkeliling menyapa beberapa band terkenal jebolan perusahaannya yang juga
tampil di konser ini. Selagi Raven sibuk berbincang, Kei yang sedang di
pakaikan makeup hanya memandangi Raven dari tempat duduknya, berkat keberadaan
Raven, Kei jadi lebih sering melamun mencari jawaban di otaknya, jawaban
tentang apakah pria itu adalah pria di mimpinya.
Saat ‘Black Diamond’ hendak
tampil, Raven mengawasi di samping panggung. Band itu sedang bersiap di atas
panggung, saat Kei yang baru saja kembali dari toilet mengambil micnya dan
berjalan menaiki tangga menuju panggung. Namun tiba-tiba Kei berhenti, ia
melihat sesosok arwah anak laki-laki melayang-layang di samping Raven, arwah
itu menengok dan menatap mata Kei sejenak. Kei mengerutkan alisnya dan
mengerjapkan matanya beberapa kali, berharap bahwa itu hanya ilusi semata.
Danny yang hendak berbalik
dari bahu kanan Raven untuk berkeliaran di area konser, dihentikan oleh
sesuatu. Sepasang mata memandang tepat di mata arwah itu, awalnya Danny terpaku
karena ia pikir tidak mungkin mata perempuan itu dapat melihat sosoknya, saat
Danny mengacuhkannya dan melihat ke arah Raven, ia merasa mata itu tetap
memandanginya. Ia juga dapat merasakan kalau ada seseorang dengan energi khusus
sedang menyadari keberadaannya.
Karena bagi arwah, bakat
itu bekerja dua arah, tidak hanya digunakan untuk melihat mahluk
halus, bakat itu juga memancarkan energi tersendiri bagi arwah. Dan bakat
seperti itu biasanya menarik beberapa arwah untuk mendekat dan mengganggu. Tapi
tidak bagi Danny, ketika ia berbalik menatap mata Kei, perempuan itu masih
terpaku dan menatapnya. Menyadari sosoknya yang seharusnya kasat mata untuk
manusia, arwah itu terkejut dan bersembunyi di balik tubuh Raven, energi Kei
membuatnya takut dan panik.
_______________________________________________________
RAVEN
Hm.. cukup banyak
penontonnya.. harusnya kumasukkan lebih banyak artisku ke dalam konser ini...
“Raven!” teriakan Danny mengejutkanku, “Ada apa Dan.. kenapa kau panik begitu?”
aku menanggapi Danny dengan datar, “Pe-perempuan itu! Perempuan itu dapat
melihatku!”, “Perempuan yang mana Dan..? Kau itu arwah, ingat? Manusia tak bisa
melihatmu”, “Perempuan yang kau sukai itu!” Danny menunjuk ke arah jam 3 dari
penglihatanku, aku refleks menengok ke mana Danny menunjuk. Kei melihat tajam
ke arahku, tubuhku membeku, saking terkejutnya aku tak dapat bergerak, aku
hanya menatap lurus ke arah mata Kei.
Tidak, Kei tidak mungkin
punya kemampuan seperti itu, Danny pasti hanya salah lihat. Mungkin saja Kei
sebenarnya sedang memandangiku kan? “Kei! Ayo! Giliran kalian tampil!” aku
meneriakinya karena sekeliling kami begitu berisik, aku tersenyum melihatnya
berjalan ke arahku, ia memicingkan matanya sedikit, tampaknya ia curiga padaku.
“Semangat semua!” aku memberi semangat pada Black Diamond beberapa menit
sebelum mereka mulai tampil, dan mereka membalasku dengan senyuman, kecuali
Kei.
Aku pergi setelah
penampilan pertama mereka selesai. “Itu nyaris saja kau tau?” Danny duduk di
kursi penumpang selagi aku menyetir, “Mungkin itu hanya perasaanmu Dan... Kei
tidak mungkin punya kekuatan seperti itu”, “Terserah kalau kau tak percaya
padaku, tapi aku jelas merasakan energi khusus perempuan itu” Danny bersedekap
dan memasang wajah cemberutnya. Aku terdiam memikirkan pendapat Danny, apa
benar Kei memiliki kemampuan itu?
KEI
Sepanjang penerbangan
kembali ke Jakarta, aku terus menerus memikirkan arwah yang kulihat tadi, aku
memang tidak yakin... tapi kurasa itu adalah arwah yang sama seperti yang
kulihat di hotel. Sejak pria itu muncul, banyak hal janggal yang menguras
pikiranku. Pertama saat di lift, auranya tidak normal, ia bahkan tidak terasa
seperti manusia. Kedua, saat di restoran, kalung pria itu tampak bergerak,
padahal angin saja tidak ada! Ketiga, arwah yang kulihat tadi.. apa arwah itu
berteman dengan Raven? Apa Raven juga memiliki kemampuan sepertiku? Atau
jangan-jangan... Raven adalah salah satu dari mereka?! Apa ia adalah mahluk
jadi-jadian?!
Argh! Aku tidak suka kalau
penyakit kepo ku mulai kumat seperti ini! Aku jadi banyak memikirkan hal-hal
yang tidak berguna! Aku berdecak kesal. “Dari tadi kenapa lo bengong sih Kei?
Laper?” bang Eza melepas salah satu earphoneku, “Ah.. nggak bang, cuma capek
aja, sixth sense gue mulai sensitif belakangan ini” aku
melemaskan leherku yang terasa kaku, “Jadi maksud lo ada setan di sekitar
sini?” bang Eza yang panik mulai melihat ke segala penjuru mata angin dengan
mata membelalak. “Nggak bang.. pas di Bali doang. Sekarang udah nggak” aku
terkekeh melihat bang Eza yang parno sendiri, ia memang sudah takut hantu sejak
dulu.
“Gue pikir di pesawat
ini..” bang Eza menghela nafas lega, “Di sini sih ada.. noh di deket kamar
mandi lagi liatin lo” aku menunjuk lorong kamar mandi dengan daguku, ada
sesosok arwah anak kecil yang berdiri di sana, dan sekarang ia sedang melihat
ke arah bang Eza, tidak.. lebih tepatnya ke arahku. “Jangan bercanda ah Kei..
lo mah jahat suka ngerjain gue” ia mencengkram lenganku kuat-kuat, “Dih.. kalo
gue bisa kasih liat juga gue kasih liat”, “Ogah gue, amit amit jabang bayi”
bang Eza bergidik.
Arwah itu mendekati tempat
dudukku, ‘Kakak bisa liat aku?’ ia berbicara langsung ke pikiranku, aku
mengangguk dan tersenyum, ‘Kakak tau di mana mamaku? Aku pengen ketemu mama,
dari tadi aku nanya orang-orang yang lewat mereka gak jawab’ mata arwah anak kecil
itu berkaca-kaca, sepertinya ia hendak menangis. Aku menyentuh dahinya yang tak
kasat mata itu untuk melihat memorinya sekaligus untuk menunjukkannya jalan
menuju alam baka. Ternyata anak itu meninggal karena pembajakan pesawat di
pesawat ini beberapa tahun yang lalu, ibunya sudah lebih dulu pergi ke alam
baka, tapi ia bersikukuh untuk mencari ibunya, maka dari itu ia tersesat.
“Mamamu udah ada di ujung situ, ikutin jalur putih itu ya.. nanti pasti ketemu
mama” aku tersenyum dan mengusap kepalanya, ia mengangguk dan segera mengikuti
perintahku. Sebenarnya banyak arwah yang tidak bisa menerima kenyataan kalau
mereka sudah mati, dan karena itu juga mereka terbutakan, mereka tidak bisa
melihat dengan jelas jalan menuju alam baka, terutama arwah anak-anak yang
tersesat.
Bang Eza melihatku
seolah-olah aku orang gila yang bermonolog, “Jangan ngeliatin gue kaya gitu
napa? Gue gak gila bang, tadi gue ngomong sama arwah itu, kan udah gue bilang
di sini beneran ada..” aku memakai kembali earphoneku dengan cuek, sementara
bang Eza sedikit bergeser untuk menjauhkan tubuhnya dariku karena ngeri, aku
meliriknya seraya menahan tawaku karena penumpang lain sedang terlelap.
_______________________________________________________
“Perlu dicatat: I’m
NOT a morning person” ujar Kei setiap membuat janji temu dengan teman-temannya.
Bangun di jam-jam tanggung seperti jam 10 atau jam 11 adalah rutinitas bagi
Kei, ia jarang bangun di pagi hari karena pekerjaan sampingannya dimulai pada
sore hari. Selain sibuk nge-band, Kei bekerja sampingan sebagai penyanyi café
dari sore hari menjelang malam, walaupun hasil penjualan album serta bayaran
manggung tetap mengucur ke rekeningnya, Kei tetap tidak suka berdiam diri di
rumah, ia merasa tidak berguna kalau tak keluar rumah. Walaupun Mamanya tetap
mengirimkan uang bulanan, uang itu lebih banyak ia sumbangkan atau ia tabung
untuk membeli hadiah yang akan ia berikan ke Mamanya dan Sasha saat pulang ke
Jogja.
Kei mematut diri di kaca
lemarinya sembari menata rambut pirang kecoklatannya dengan model messy
bun, kemudian mengoleskan lipstick matte merah darah kesayangannya itu ke
bibirnya. High waist ripped jeans biru pudar, heeled
ankle boots berwarna hitam, dan croptop putih yang
menunjukkan sebagian perut ramping putih mulusnya itu, menjadi kostum
pilihannya untuk manggung di café hari ini. Kei menenteng jaket kulitnya dan
turun ke lobby apartemen untuk mengecek kotak suratnya,
tiba-tiba perhatiannya teralihkan oleh kotak surat milik kamar nomor 1077,
kamar kosong di seberang kamarnya.
“Mau berangkat kerja neng?” pak Ucup satpam apartemen
mengagetkan Kei yang sedang terpaku menatap kotak surat itu. “Eh, iya pak” Kei
tersenyum ramah, “Oh iya pak, ini kamar kan kosong, kok ada yang naro surat di
situ?” Kei menatap pak Ucup penasaran, “Ooh.. itu baru aja 3 hari yang lalu
orangnya pindahan neng”, “Ada penghuni baru? Kok saya belom pernah liat? Udah
pindahan 3 hari yang lalu kan?”, “Iya neng, barang-barangnya sih udah di
pindahin. Tapi dia minta kamarnya di renovasi dulu, jadi orangnya baru bisa
pindah ke sini besok” penjabaran pak Ucup membuat Kei manggut-manggut dan
ber-oh ria.
Setelah memarkirkan mobilnya, Kei menenteng
gitarnya memasuki café. “Sore Kei..” Dafa tersenyum dan duduk di samping Kei
yang sedang menunggu gilirannya tampil, “Hm..” Kei dengan cuek merespon sembari
melihat lirik lagu yang akan ia bawakan nanti, ia mencoba mengacuhkan mantannya
yang menyebalkan itu. “Jangan galak-galak kenapa Kei, nanti cepet keriput lohh”
Dafa menyenggol bahu Kei, “Emang muka gue udah begini dari sononya. Pergi sana,
gue lagi ngehafal lagu jadi keganggu gara-gara lo” Kei menatap sinis ke arah
Dafa, “Iya iya.. caramel macchiato lo gue taro di sini
ya. Good luck Kei” Dafa mengedipkan sebelah matanya setelah
meletakkan kopi kesukaan Kei di meja. Tak lama setelah Dafa pergi, gadis
berzodiak aries itu menyeruput kopinya dan berjalan ke arah panggung kecil café
untuk tampil.
Mendekati akhir lagu kedua yang ia bawakan,
Kei melirik sekilas ke arah penonton selagi menambahkan ad-lib dalam
nyanyiannya. Ia tiba-tiba terpaku pada pintu keluar, sosok yang tidak
menghilang dari kepalanya bahkan setelah 2 minggu sejak
ia pulang dari Bali, muncul kembali di depan matanya, membawa segelas kopi
di tangan kanannya dan sibuk dengan ponselnya di tangan kirinya selagi berjalan
keluar dari café. Kei sempat curiga Dafa memasukkan halusinogen ke dalam
kopinya, namun pikiran itu cepat-cepat di tepis oleh Kei, mungkin saja ia salah
lihat, lagi pula seberapa besar peluang Raven dan Kei berada di lingkungan yang
sama?
_______________________________________________________
KEI
Berlari mengelilingi apartemen sebanyak lima kali memang menjadi
rutinitasku setiap sore, aku harus berolahraga minimal lari ringan memutari
apartemen seperti ini untuk menjaga tubuh ini tetap pada bentuknya, kalau
sempat biasanya aku akan nge-gym, tapi karena aktivitas band dan jobku semakin
banyak, aku jadi belum sempat meluangkan waktu untuk pergi ke gym. Sebelum
kembali ke apartemenku, aku menyempatkan diri untuk mengecek kotak
surat, karena Kafka bilang surat perpanjangan kontrak akan sampai hari ini.
Ternyata benar, surat perpanjangan kontrakku sudah berjejer rapi dengan
surat-surat lainnya. Aku membaca surat-surat itu di dalam lift sembari cooling
down, sesaat setelah aku turun dari lift, aku mendengar gonggongan anjing di
lorong.
Setauku sih di lantai tempat tinggalku tidak ada yang memelihara anjing, seingatku hanya kamar 1034 yang memelihara hewan, itu pun 2 ekor kucing. Sewaktu aku melihat ke arah lorong, pintu nomor 1077 baru saja tertutup. Tunggu dulu.. bukankah itu penghuni baru? Jadi dia benar-benar pindah hari ini ya.. apa itu tadi suara anjingnya? Sebenarnya aku senang kalau ada yang memelihara anjing, tapi biasanya kalau anjing di tempatkan di ruangan tertutup seperti apartemen, anjing itu akan lebih sering menggonggong. Huh.. kuharap anjing itu tidak sampai mengganggu waktu tidurku. Rasanya setelah ini aku akan menyapa tetangga baruku, dan kurasa beberapa potong kue brownies akan mencairkan suasana.
Setelah mandi dan pergi ke toko kue langgananku untuk membeli brownies, aku membawa beberapa kaleng soft drink untuk diberikan. Kutarik nafas panjang dan mulai mengetuk pintunya, tak lama kemudian terdengar suara anjing menggonggong dari dalam, ternyata benar firasatku, tetanggaku ini memelihara anjing. Kulihat gagang pintu bergerak dan pintu itu terbuka sedikit, memunculkan sedikit rambut penghuninya yang berwarna coklat karamel.
“Hai, saya dari kamar seberang, ini ada sedikit ku-” aku menunduk ke arah browniesku selagi aku membuka percakapan, dan saat aku mendongak, kata-kataku langsung terhenti karena mata itu menatap langsung ke arah mataku. Pintu kamar itu terbuka lebar di depanku menampilkan keseluruhan wujud penghuninya, “Halo. Itu buat saya? Terima kasih sebelumnya, harusnya gak perlu repot-repot” ia tersenyum dan mengambil brownies yang kupegang dan masuk ke dalam apartemennya, “Ayo masuk, gak usah sungkan. Anggap aja rumah sendiri”. Gonggongan anjing itu menyadarkanku yang sedang terpaku dengan kejadian barusan. Aku tidak salah makan kan? Atau aku sedang demam makanya aku berhalusinasi?? Tidak.. aku tidak berhalusinasi, aku benar-benar melihat sosok Raven di hadapanku, pertanyaanku yang sebenarnya adalah.. apa yang dia lakukan di sini?! Di apartemen yang sama denganku?!
_______________________________________________________
TO BE CONTINUE
_______________________________________________________
Cerita ini hanya fiktif belaka guna memenuhi tugas.
Beberapa hal yang di paparkan dalam cerita tidak sepenuhnya
fakta, melainkan imajinasi dan subjektivitas penulis.
Jika
ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, hal tersebut adalah
kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.
©DinaAuliaLee