PART III
_______________________________________________________
PERINGATAN!
CERITA DIBAWAH INI MEMUAT UNSUR DEWASA UNTUK 18 TAHUN KEATAS!
PENULIS MENGHARAPKAN KEBIJAKSANAAN PEMBACA DALAM MEMBACA KONTEN DIBAWAH INI
TERIMA KASIH
_______________________________________________________
KEI
Hm... bau bacon panggang... dan roti bakar... ah.. ini dia bau yang paling
kusuka.. bau kopi segar dipagi hari. Aku tiba-tiba membelalakkan mata, saat
melihat sekeliling, aku langsung sadar kalau ini bukan apartemenku, juga karena
aku tau di dalam apartemenku tidak ada makanan yang bisa dimasak kecuali mi
instan, jadi tidak mungkin ada wangi makanan yang menyeruak sepagi ini. Aku
menatap pahaku yang polos tanpa celana, tunggu dulu.. baju siapa yang kupakai
ini? Kemeja kebesaran berwarna biru? Seingatku aku tidak memakai baju ini
kemarin malam? Bagaimana aku bisa berganti baju? Dan siapa yang menggantikan
bajuku?!
Tiba-tiba flashback kejadian tadi
malam muncul di ingatanku, walaupun samar, aku dapat menggabungkan detil-detilnya.
Gawat... aku mencium bosku dengan agresif! Tidak.. tunggu.. aku.. aku.. aku
tidur dengannya!! Aku memegangi kepalaku dengan panik, bagaimana ini?! Ini
bukan bagian dari rencana hidupku! Aku tidak menyangka aku akan... argh!
Harusnya tidak seperti ini!
Aku berusaha tenang dan mengatur nafas, aku harus kembali pada fakta kalau
itu semua sudah terjadi, sekarang yang perlu kulakukan hanya menghadapi Raven
dan meminta penjelasan detil atas kejadian tadi malam. Aku menarik nafas, membuka
pintu kamar, dan mendapati Raven sedang bersiul dari dapur, bertelanjang dada
dan hanya mengenakan celana trainingnya, aku bengong melihat tubuhnya yang ‘oh my god’ itu, tubuh yang tak pernah
tampak saat ia mengenakan kemejanya, aku agak tak percaya kalau itu adalah
tubuh yang memelukku tadi malam. Aku berdiri di ambang pintu kamar dan
menatapnya lekat-lekat, sebenarnya aku harusnya mengakui saja kalau aku memang
menyukainya, jauh sebelum kami menjadi tetangga dan berhubungan dekat, sejak
pertama kali aku menabraknya di restoran hotel, aku sudah terpesona olehnya. Namun
aku tak pernah berpikir kalau aku akan memiliki hubungan seperti ini dengannya,
hubungan yang terlalu aneh bagiku. Kita bahkan bukan kekasih, tapi dia dan aku
sudah... ah sudahlah.. toh aku tak bisa mengubah kejadian itu juga.
“Good morning” suaranya mengagetkanku
yang sedang melamun, ia tersenyum dan meletakkan piring berisi sarapan di meja
makan, “Morning” aku tersenyum kecil
dan duduk di meja makan selagi Raven mengambilkanku segelas susu hangat. Di
meja makan kami hanya diam, hingga akhirnya Raven buka suara, “Kamu pasti punya
banyak pengalaman ya?” ia dengan tenang memotong baconnya, aku mengerutkan
alisku selagi meminum susu hangat. “Last
night was amazing by the way” ia tersenyum di seberang meja dan menatapku,
sontak aku tersedak.
“Hah? Maksud kamu?” aku terbatuk dan mengambil tissue untuk mengelap
bibirku, “Ya... kamu tau kan tadi malam kita **** (18++)****”, aku melongo
menatap Raven yang dengan lancar dan tanpa tersendat menceritakan hal-hal yang
membuat pipiku memerah. Ini memang bukan pertama kali aku melakukannya, tapi
tetap saja kalau dijabarkan secara verbal hal itu akan membuatku malu, terutama
ia mengatakannya tepat di depan wajahku, dan menatapku lekat-lekat. “Jadi...
sebenernya hubungan kita ini apa?” aku menatapnya menanti jawaban, “Ya terserah
kamu, kamu mau kita punya hubungan eksklusif atau nggak?” ia malah balik
bertanya, aku jadi terdiam menimbang-nimbang keputusan yang harus kuambil.
RAVEN
Ya Tuhan.. ia sangat cantik.. bahkan saat dahinya berkerut seperti itu,
andai saja tidak ada meja yang membatasi kami, aku pasti sudah lompat dan
menggendongnya ke kamar. Apa sesusah itu memutuskan untuk menjadi pacarku atau
tidak? Padahal Danny sudah bilang kalau ia suka padaku, lantas apa yang
membuatnya ragu-ragu? Tiba-tiba Kei terdiam menatap mataku, “Oke, aku mau jadi
pacar kamu” jawabannya membuatku tersenyum lebar, “Tapi dengan satu syarat”
lanjutnya, “Gak ada orang di kantor kamu yang boleh tau hubungan ini” ia
menatapku tajam. “Kalau anggota band?”, “Kalo mereka.. boleh, toh aku gak bisa
nyembunyiin apa-apa dari mereka” ia menggedikkan bahunya, sementara aku
manggut-manggut.
“Jadi..? Kita bisa mulai ronde kedua?” aku tersenyum jahil, sementara
wajahnya mulai memerah mendengar kata-kataku barusan, Kei berdehem “Nggak
sekarang juga kali.. aku mesti ke café nanti siang, gantiin penyanyi yang gak
bisa tampil hari ini” ia kembali fokus pada makanannya, aku tersenyum
melihatnya menahan malu. “Oke, kalau gitu aku tungguin di café ya?”, “Emang
kamu gak kerja hari ini?” ia menatapku bingung, “Nggak, kantorku lagi di
renovasi, jadi sementara kerja dari rumah dulu”, “Ooh, yaudah. Abis ini mandi
ya, aku mau siap-siap di kamar dulu” ia beranjak membawa piring kosong milikku
dan miliknya ke wastafel, “Kenapa nggak siap-siap disini?” aku bersender di
samping wastafel, “Baju, makeup, sepatu, semuanya ada di kamarku, mana bisa
siap-siap disini?” ia fokus mencuci piring.
“Kalau semuanya dibawa kesini gimana?” aku memeluknya dari belakang, “Ribet
tau, kamu pikir perlengkapan aku sedikit?”, “Maksudku, kamu pindah ke sini, ke
apartemenku” aku mengecup pundaknya yang terbuka, tiba-tiba ia berhenti
membilas piring dan berbalik menatapku, “wow
wow wow.. slow down cowboy, ga secepat itu Raven.. lagi pula tempat kita
seberangan, buat apa aku pindah kesini kalo cuma beberapa langkah aja sampe?”
Kei meletakkan telapak tangannya yang dingin di dadaku. “Jadi kalau kita pindah
ke tempat yang agak jauh kamu mau?” aku menarik pinggang Kei mendekat.
“Maksudnya?”, “Ya aku sih punya rumah di daerah Kemang, kalau kamu mau kita
bisa pindah ke sana” aku tersenyum meyakinkannya, ia menghela nafas “Kan udah
aku bilang, ga bisa secepat itu Raven..”, “I’m
28, and i’m not getting younger. Aku mau serius sama kamu Kei..” aku
menatapnya dengan mata memelas. Ia terdiam dan menatap kakinya, “Aku bakal
coba.. tapi kalo sewaktu-waktu aku mau pindah ke apartemenku lagi, kamu gak
boleh ngelarang aku ya?” ia menatap mataku dalam-dalam, aku tersenyum dan
mengelus kepalanya, “Iya.. aku janji” aku menautkan jari kelingkingku dengan
jari mungilnya.“Yaudah, aku mau ke seberang dulu, nanti aku kesini lagi kamu
udah siap, oke?” ia mengambil tissue untuk mengeringkan tangannya, aku hanya
mengangguk dan tersenyum selagi melihatnya pergi meninggalkan apartemenku.
“Satu tahap lagi yang terlewati ya?” Danny mengagetkanku dengan wujud arwahnya,
aku menghela nafas “Yah... satu tahap lagi sebelum peristiwa menyakitkan itu
terulang kembali” aku berjalan menuju kamar, “Kau harus menyelesaikan tugasmu
sebelum ‘hal itu’ terjadi. Kau tau kan?”, “Ya.. aku tau.. sangat tau..” aku
menatap kosong ke arah kasurku yang berantakan.
__________________________________________________________
Kei meletakkan boks terakhir yang ia angkut dari truk, ia memandangi rumah
megah yang ada dihadapannya, rumah yang akan ia tinggali dengan Raven. Satu
minggu setelah mendiskusikan dan merencanakan kepindahan mereka, Kei mulai
mengepak barang-barangnya dan mengurus kepindahan dari apartemennya, dan satu
minggu berikutnya ia habiskan untuk membersihkan rumah baru mereka. Sementara
Raven telah menyuruh orang-orangnya untuk merapikan barang-barangnya dari
apartemen yang baru seumur jagung ia tinggali itu, karena kesibukannya sebagai Watchers dan juga CEO, Raven tentu tidak
memiliki waktu untuk mengurusi hal-hal semacam itu. Dikarenakan benda-benda
khusus Watchers tidak boleh disentuh
oleh manusia, barang-barang Raven tentu saja ditangani oleh junior-junior Watchersnya. Sebagai Watchers pertama, Raven memiliki privillage untuk mengendalikan juniornya
tanpa bantahan atau tentangan dari siapapun selama perintah tersebut tidak
bertentangan dengan kode etik dan perintah Louvin.
Selagi membongkar barang-barangnya, Kei melihat ruangan yang akan menjadi
kamarnya dengan Raven, ruangan megah itu telah tertata rapi oleh barang-barang
Raven yang sudah lebih dulu sampai. Kasur, sofa, lemari, dan berbagai fasilitas
di dalam rumah itu terasa seperti hotel bintang lima bagi Kei, ‘Tentu saja.
Raven adalah seorang CEO, mana mungkin rumahnya tidak seperti hotel bintang
lima’ batin Kei, tiba-tiba terdengar bunyi bel menggema diseluruh rumah, Kei
segera bergegas membukakan pintu depan. Sesosok gadis dengan penampilan seperti
anak umur 15 tahun muncul di hadapan Kei, Kei yang bingung berusaha bersikap
ramah walaupun ia sudah sangat lelah karena beres-beres.
“Nyari siapa ya?” Kei menatap gadis yang setinggi dagunya itu, gadis
itu malah menatap Kei dengan bingung, “Ini bukannya rumah kak Raven?” ia
menjulurkan kepalanya melihat isi rumah, “Iya ini rumahnya Raven, saya
pacarnya. Ada perlu apa ya nyari Raven?”, “Ooh.. kamu pacarnya..” gadis itu
manggut-manggut dengan senyum mengejek sembari menerobos masuk, “Ternyata
pertunjukkannya bakal segera dimulai ya..” gadis itu menggumam pelan. Kei yang
mulai kesal dengan tingkah gadis itu mulai menunjukkan rasa tak sukanya,
“Ravennya lagi gak ada, dan saya gak boleh biarin orang sembarangan masuk ke
rumah. Jadi kalo ada yang mau disampaikan ke Raven, kamu bisa kasih tau saya”
Kei menahan pergelangan tangan gadis itu yang mulai berkeliaran masuk ke dapur.
Gadis itu menengok ke arah Kei dengan senyum mengembang, “Oh gitu ya? Oke deh.
Saya punya 2 pesan, jadi tolong diingat. Pesan pertama sekaligus peringatan
untuk kamu, jangan sampai kamu masuk ke kamar di ujung lorong lantai 2. Pesan
kedua untuk kak Raven, sampaikan ke dia persis seperti yang saya sampaikan ke
kamu” suasana di dalam rumah tiba-tiba berubah mencekam selagi gadis itu
menyampaikan pesan, Kei terdiam menyadari sekelebat aura hitam perlahan keluar
dari tubuh gadis itu. “Bilang aja pesan ini dari Tammy” gadis itu berjalan
keluar rumah dengan wajah sumringah, “Tunggu!” Kei mencekal tangan Tammy, “Apa
hubungan kamu dan Raven?”, “Saya?” Tammy menunjuk dirinya sendiri, Kei terdiam
menahan kesal, “Saya adik Raven, yang ke-10” Tammy tersenyum dan melepaskan
tangannya dari cengkraman tangan Kei yang mulai mengendur. Kei terdiam dan
tersadar, selama ini ia tidak tau apa pun tentang keluarga Raven.
__________________________________________________________
RAVEN
Danny tiba-tiba menegakkan duduknya beberapa meter sebelum mobilku mencapai
rumah, “Ada seseorang yang baru saja pergi dari rumahmu”, “Siapa? Seseorang
yang kau kenal?” aku menghentikan mobil dibawah pohon dekat rumah, Danny
menggeleng “Bukan manusia”. Aku tercekat dan segera memarkirkan mobil di
garasi, kemudian berlari masuk ke dalam rumah, “Keii!” aku berteriak memanggil
Kei dari lantai bawah namun tak ada sahutan sama sekali. Ketika naik ke lantai
2 kulihat Kei tergeletak di kasur, aku segera mengecek tanda-tanda vitalnya,
dan ternyata Kei sedang tertidur. Aku menghela nafas lega, aku sempat berpikir
yang tidak-tidak saat Danny bilang yang berkunjung ke rumah kami bukan manusia,
bisa saja mahluk itu menyakiti Kei.
“Udah pulang?” suara Kei dari kamar mengejutkanku yang sedang berganti baju
di ruangan baju, “Iya, baru aja” aku menghampirinya
dan duduk di kasur, “Capek ya?” aku mengelus kepalanya, ia mengangguk dalam
diam, “Tadi ada yang ke sini nggak?” aku memancingnya untuk memberi informasi.
“Ada.. katanya adik kamu” Kei terduduk dan melemaskan lehernya, “Adik? Orangnya
kaya gimana?”, “Cewek, kaya anak kecil gitu, kayanya sih masih ABG. Kalo nggak
salah namanya Tammy” Kei berdiri menuju kamar mandi, sementara aku terdiam.
Kenapa ia datang secepat ini? Bahkan aku dan Kei baru saja pindah rumah, kenapa
Louvin tidak bisa membiarkan kami tenang untuk sejenak saja?
“Oh iya, tadi dia nitip pesan buat kamu, katanya ‘Permukaan yang tenang
bisa jadi sangat dalam dan berbahaya. Pada bulan purnama ke 10, ia akan
diadili’, udah gitu doang” Kei keluar dari kamar mandi dan duduk di sampingku,
teka-teki yang agak rumit kali ini. Biasanya Tammy memberikan pesan yang berisi
petunjuk tentang bagaimana dan kapan bencana yang memisahkanku dengan Kei akan
terjadi. Bulan purnama ke-10 sudah jelas bagiku, itu berarti aku memiliki waktu
5 bulan bersama Kei sebelum bencana itu terjadi, tapi.. permukaan yang tenang?
Apa maksudnya? Apakah permukaan datar? Permukaan yang stabil? Permukaan yang
tidak bergerak? Tapi permukaannya bisa jadi sangat dalam? Pasir? Tidak
mungkin.. bencana pasir sudah pernah terjadi saat aku berada di Mesir dengan
wujud Kei 1 abad yang lalu.
“Hei.. are you okay?” Kei
memegang dahiku, aku terkejut dan mengangguk sembari tersenyum, “Oh iya.. kamu
belom pernah cerita apa-apa ke aku tentang keluarga kamu kan?” pertanyaan
tiba-tiba dari Kei membuatku sedikit salah tingkah, padahal aku sudah
berkali-kali mengalami kejadian seperti ini, tapi pertanyaan itu tetap saja
membuatku gugup. “O-oh.. aku belum cerita ya?” aku menggaruk kepalaku yang
tidak gatal, sementara Kei mengangguk dan menatapku dengan antusias, “Jadi...
apa yang pengen kamu tau tentang keluarga aku?”, “Pertama nama orangtua dan kondisi
mereka sekarang”, “Papaku Lord Gavin Denzell Carrington, mamaku Lady Sabrina
Ruby Carrington. Orangtuaku dua-duanya udah meninggal 5 tahun yang lalu”,
“Sorry.. aku gak maksud..” Kei tampak menyesal telah menanyakan kondisi
‘orangtua’ku, “Nggak apa-apa... udah lama juga kok” aku tersenyum dan mengelus
kepalanya. “Mau nanya apa lagi?”, “Mmm.. kamu anak ke berapa? Punya berapa
saudara?”, “Aku anak ke 2, saudaraku ada 12 orang”, Kei melongo menatapku
dengan mata besarnya, sementara aku hanya tertawa kecil.
KEI
12 saudara?! Itu keluarga atau kesebelasan sepak bola? Kulihat Raven
tertawa kecil melihatku yang sedang melongo, “Kok banyak banget? Orangtua kamu
nikah muda ya?”, “Nggak juga, mereka nikah waktu mereka umur 30an, 9 saudaraku
dari yang ke 4 sampai yang terakhir itu anak adopsi”, “Sekarang mereka semua
ada dimana?”, “Ada yang jadi dokter, pilot, guru, macem-macem sih, kakakku yang
pertama jadi pewaris perusahaan utama papa, sementara adikku jadi wakilnya, dan
adik-adik angkatku berpencar di beberapa kota di UK karena profesi mereka
masing-masing”, “Mulia banget ya orangtua kamu, ngangkat anak segitu banyak”,
“Iya, mereka emang suka sama anak-anak” Raven tersenyum dan berdiri menuju
pintu keluar, “Mau kemana?”, “Kamu nggak laper?
Aku tadi beli makanan buat makan malem, ayo turun, kita makan bareng” ia
tersenyum dari anak tangga, dan aku segera berlari dan menerjang punggungnya
untuk digendong.
Malam itu kami makan
malam seperti biasa, namun kali ini ada yang mengganjal perasaanku. Tadi Tammy
bilang aku tidak boleh masuk ke dalam kamar yang ada di ujung lorong lantai 2,
memangnya ada apa di dalam kamar itu? Dan kenapa ia bisa memberikan peringatan
seperti itu? Apa isi kamar itu sangat berbahaya? Atau ada sesuatu yang Raven
sembunyikan dariku? Aku menatap Raven yang sedang sibuk dengan tabnya di meja
makan, kurasa pekerjaannya begitu banyak hingga ia harus mengerjakannya di meja
makan. “Raven..”, “Hm?” ia mengunyah makanannya sembari fokus pada tabnya, “Aku
boleh tanya sesuatu?”, “Hm.. tanya aja” ia tetap tidak menatap ke arah mataku.
“Di kamar yang di ujung lorong lantai 2 itu ada apa sih? Kok dikunci?”, kulihat
raut wajah Raven berubah menjadi pucat,
namun tampaknya ia berusaha mengendalikan wajah terkejutnya.
“Di kamar itu.. ada barang peninggalan mama dan papaku, juga barang-barang
antik yang disimpen sama orangtuaku” Raven tersenyum menatapku dan kemudian
melanjutkan makannya, “Kenapa kamu yang simpen?”, “Barang-barang antiknya?” ia
bertanya balik, aku mengangguk. “Entah. Udah tertulis di surat wasiat kalau aku
yang harus jaga barang-barang itu” ia menggedikkan bahunya. Tiba-tiba bel rumah
berbunyi dan aku segera membukakan pintu, seorang pria jangkung dengan rambut
merah maroon dan berkacamata berdiri dihadapanku, parasnya sangat tampan dan ia
memiliki aura badboys bagiku. “Nyari siapa ya?” aku menelitinya dari kepala
sampai kaki, ia tersenyum melihatku yang penasaran, “Raven ada? Saya adiknya”,
“Ooh, tunggu sebentar ya” aku berbalik dan memanggil Raven yang sedang
membereskan piring.
“Ada yang nyari kamu tuh di depan” aku mengambil alih pekerjaannya yang
sedang membereskan piring selagi ia berjalan keruang tamu. Aku diam-diam
mengintip mereka yang sedang berbincang diruang tamu, pembicaraan mereka tampak
serius karena aku melihat raut wajah Raven yang khawatir. Tiba-tiba mereka
berdiri dan menuju ke arahku, aku terkejut dan langsung berlari untuk duduk di
sofa, mau di taruh dimana mukaku kalau aku ketahuan menguping. “Kei, bisa
kesini sebentar?” suara Raven mengejutkanku yang sedang mengatur nafas, aku
menengok ke belakang sofa dan mendapati mereka berdua berdiri di belakangku,
“Aku mau ngenalin kamu ke adikku, namanya Ares” Raven melirik Ares sementara
aku menjabat tangannya.
__________________________________________________________
Raut wajah Kei menjadi sedikit aneh saat menjabat tangan Ares, lagi-lagi
Kei gagal merasakan aura manusia normal seperti saat pertama kali ia bertemu
dengan Raven di Bali, tiba-tiba jabat tangan mereka terputus karena Danny
menerjang Ares dan menjilati wajahnya, Ares tertawa dan menepuk-nepuk pelan
kepala Danny selagi berusaha bangun. “Kalo gitu kita ke ruang kerja dulu ya
Kei” Raven menepuk pelan pundak Ares dan mereka masuk ke ruang kerja Raven. Kei
terdiam memikirkan kejanggalan demi kejanggalan yang ia rasakan baru-baru ini
selagi ia mencuci piring, ia merasa terlalu banyak hal yang Raven sembunyikan
darinya.
“Gadis itu punya kemampuan spiritual ya?” Ares mengerutkan dahinya menatap
ke arah Raven selagi Raven membuka pintu di dalam ruang kerjanya yang terhubung
dengan ruangan khusus di ujung lorong lantai 2. “Dia masuk ke pikiranmu ya?”
Raven menengok sekilas, Ares mengangguk “It
was a close call, aku sempat membaca pikirannya, dan ia langsung curiga
kalau aku bukan mortal. Untung saja
Danny cepat merespon perintahku”, Raven mengambil buku khusus milik Watchers dari rak bukunya, “Untungnya Louvin
memasang pelindung pada isi pikiranku, kalau tidak Kei pasti sudah melarikan
diri dariku”. Ares duduk di sofa sementara Raven mempersiapkan keberangkatan
mereka menuju dunia asal mereka “Oh iya, kita harus kemana tadi?” Raven
membolak balik halaman buku yang ia pegang untuk mencari kata kunci pembuka
portal, “Langsung ke rumah Louvin saja, kita sudah ditunggu oleh Nyx disana".
Ares memandangi mentornya yang
sedang serius membaca buku keramat itu “Kau cukup beruntung bisa menjadi orang
kepercayaan Louvin dan mendapat beberapa keistimewaan sekaligus” Ares menghela
nafas, Raven tertawa kecil dan mendengus, “Kalau yang kau maksud dengan keistimewaan
adalah dihukum berkali-kali dan selalu dimarahi, maka kau benar”, “Tidak
Raven... kurasa kau tidak tau betapa berharganya kau dimata Louvin”, “Pfft, what a bullsh*t. Kalau aku begitu
berharga dimatanya, kenapa ia terus menerus menghukum dan menyiksaku hanya
karena aku mencintai Kei?” Raven tersenyum sinis selagi bersiap membaca kata
kunci untuk membuka portal menuju dunia mereka.
Setelah Raven menulis huruf Ibrani kuno pada tembok di ruangan itu dan
membacanya, muncul portal berwarna putih dengan cahaya terang yang bersinar
dari dalamnya, mereka segera melangkah masuk dan berubah menjadi wujud asli
mereka, yang berupa manusia dengan tinggi 12 kaki dan rambut berwarna putih
kepirangan. Pada wujud aslinya, Watchers
memakai setelan serba putih dan tato khusus berwarna hitam di tengkuk mereka
yang berbentuk sehelai bulu, tato tersebut sudah ada sejak mereka tercipta.
Watchers adalah perwujudan dari sehelai bulu yang jatuh dari
sayap malaikat putih. Louvin yang merupakan pemimpin mereka, adalah helai bulu
pertama yang jatuh dari sayap kanan malaikat Gabriel, karena ukuran malaikat
sangat besar maka sehelai bulu sayap mereka pun juga besar, panjang sehelai bulu
sayap malaikat kurang lebih 13 kaki. Watchers
tidak mengalami proses pertumbuhan seperti manusia, mereka muncul dengan
wujud yang mereka gunakan sampai saat ini, kecuali saat mereka masuk ke dunia
manusia mereka dapat merubah fitur wajah mereka, sementara bentuk fisik dasar,
umur, dan latar belakang sudah ditentukan oleh Watchers yang bertugas mengatur penempatan mereka di dunia manusia.
__________________________________________________________
KEI
Selagi aku menonton TV dengan pikiran yang mengembara bersama Danny, aku
merasa ada yang aku lupakan dari tadi, apa ya? Hm... Oh iya! Aku belum
menyuguhi minuman pada Ares! Aku segera membuatkan kopi dan membawanya ke ruang
kerja Raven di lantai 2, kuharap aku tidak mengganggu mereka. Aku mengetuk
pelan pintu ruangan kerja Raven, namun tak ada jawaban dari dalam, dan saat
kubuka pintunya kulihat ruangan dalam keadaan kosong. Aku meletakkan nampan
yang berisi 2 cangkir kopi dan sepiring buah di atas meja kerja Raven, alisku
bertaut karena mereka tiba-tiba menghilang seperti ditelan bumi, “Raveenn?” aku
memanggil namanya selagi mencarinya ke penjuru ruangan, namun hasilnya nihil.
Aku baru menyadari kalau ada pintu di dalam ruangan Raven yang sedikit terbuka
dan sepertinya mengarah ke ruangan lain.
Aku membuka pintu itu dan masuk ke dalam sebuah ruangan yang agak aneh,
ruangan serba putih dengan rak buku yang berisi buku berwarna putih, ada
beberapa senjata kuno yang memiliki ukiran-ukiran aneh yang disimpan dalam
kotak kaca, serta ada sebuah tulisan yang tak lazim pada salah satu dinding di
ruangan itu. Sepertinya aku pernah membaca tulisan itu? Kalau perkiraanku tidak
salah itu adalah bahasa Ibrani kuno, kakekku adalah penganut fanatik agama Yahudi,
ia pernah mengajariku beberapa bahasa Ibrani kuno dari kitabnya saat aku masih
kecil, aku berusaha membaca tulisan itu sepatah demi sepatah, dan saat
kugabungkan, tulisan pada dinding itu berbunyi ‘Dan kalianlah penunjuk jalan bagi
anak-anak Adam, yang menjaga dan melindungi mereka atas perintah-Nya’.
Setelah aku membaca tulisan itu dalam bahasa Ibrani kuno, tiba-tiba saja cahaya terang dan
menyilaukan muncul dari dinding di hadapanku, jantungku berdegup kencang
melihat fenomena asing terjadi di hadapanku, aku perlahan melangkah mendekati
cahaya putih itu. Saat cahaya itu menyentuh tanganku, tubuhku terasa ringan dan
bebas, aku melihat tanganku berubah menjadi transparan, begitu pula kondisi
tubuhku yang melayang-layang seperti arwah, dan saat aku berbalik, aku dapat
melihat tubuh asliku tergeletak di depan portal aneh ini.
Tunggu dulu? Apa aku sudah mati?! Aku segera keluar dari portal cahaya itu
untuk mendekati tubuhku yang tergeletak selagi mengamatinya dengan bingung,
terasa seperti mimpi namun di satu sisi terasa begitu nyata. Aku menyentuh
wajahku yang sedang tak sadarkan diri dengan penasaran, dan tiba-tiba aku
merasa tersedot masuk dan kemudian terbangun dalam tubuhku yang biasanya.
Aneh.. sepertinya tadi aku merasa menjadi arwah? Apakah ini efek dari portal
cahaya itu? Aku memandangi portal cahaya yang masih menyala sedari tadi, aku
kembali merangkak mendekati portal itu dan duduk di depannya, dan saat aku
menyentuh cahaya di portal itu dengan tanganku, aku kembali menjadi arwah.
Kurasa ini adalah pengalamanku yang paling aneh dan terlalu absurd untuk dijelaskan, tapi ini
berarti aku belum mati, dan aku bisa kembali ke wujud manusiaku, kalau begitu
aku bisa mulai masuk ke dalam portal ini seutuhnya, karena sejak tadi aku
penasaran dengan apa yang ada dibalik portal ini. Ketika aku berjalan masuk,
ah.. tidak.. kurasa lebih tepatnya melayang masuk ke dalam portal itu, aku
melihat pemandangan yang sangat menakjubkan.
__________________________________________________________
TO BE CONTINUE
__________________________________________________________
Cerita ini hanya fiktif belaka guna memenuhi tugas.
Beberapa hal yang di paparkan dalam cerita tidak sepenuhnya fakta, melainkan imajinasi dan subjektivitas penulis.
Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, hal tersebut adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.
©DinaAuliaLee