Senin, 04 September 2017

SAMSARA

PART V


RAVEN

“Ehem..” kudengar suara Ares dari depan pintu kamar yang terbuka, “Ada apa?” aku menengok ke arah Ares yang sedang tersenyum jahil, “Jadi kalian sudah baikan?”, aku tersenyum dan menengok ke arah Kei yang sedang tersenyum dengan wajah merona. “Kenapa penampilanmu seperti itu?” Ares mengerutkan alisnya, “Jangan bilang kau...”, “Ya, aku sudah memberitahu Kei semuanya” aku mengelus rambut Kei yang masih memelukku erat. Ares terdiam sejenak, dan tak lama kemudian ia berubah ke wujud aslinya, “Kalau begitu bawalah Kei ke ruang tengah, kita harus mendikusikan sesuatu” Ares tersenyum dan pergi menuju ruang tengah.


“Ayo kita keluar” aku menggandeng tangan Kei dan ia mengekoriku, Electra yang melihat wujud asliku dan Ares tiba-tiba mengerutkan alisnya, “Kenapa kalian...”, belum sempat Electra melanjutkan kalimatnya, Ares tiba-tiba membisiki Electra yang membuat Electra manggut-manggut sembari membulatkan bibirnya. Setelah berubah ke wujud aslinya, Electra dan Ares duduk di sofa, sementara aku duduk di samping Kei berseberangan dengan mereka. Kulihat Kei menatap Electra lekat-lekat dengan mata berbinar, harus kuakui wujud asli Electra memang sangat cantik, dengan gaun panjang putih dan matanya yang sebiru langit, tak lupa juga rambut panjang putih kepirangannya yang begitu berkilau, dan ada satu lagi ke-khas-an Electra, ia memiliki daun telinga yang panjang dan runcing ke atas seperti peri di cerita dongeng.

Tak jauh berbeda dengan Electra, wujud asli Ares pun memiliki wajah yang rupawan dan ke-khas-an yang sama dengan adiknya, kalau manusia dapat melihat wujud asli Ares dan Electra, mungkin manusia akan mengira mereka adalah Legolas dan Galadriel dari Lord of The Ring. Kerupawanan mereka tidak-lain-dan-tidak-bukan adalah hasil bentukan malaikat Zaphiel, mereka berdua jatuh dari sayap kiri dan kanan malaikat Zaphiel pada waktu yang hampir bersamaan. Karena malaikat Zaphiel merupakan malaikat keindahan dan kecantikan, maka Ares dan Electra dibentuk menjadi sosok yang rupawan olehnya.

“Jadi berdasarkan laporan dari arwah pendampingku, Watchers suruhan Louvin baru saja selesai menggeledah kantormu. Sepertinya mereka masih tertinggal satu langkah dari posisi kita” Ares menatapku dengan yakin, “Berapa orang yang sedang melacak kita saat ini?” aku menatap Ares dengan cemas, “Sekitar 15 orang, mereka dipimpin oleh Helena dan Tristan”, “Dua kembar penggila perang itu?” Electra menatap Ares tak percaya, sementara Ares mengangguk. “Tentu saja mereka yang memimpin, mereka berdua memiliki radar yang hebat. Terlebih lagi mereka adalah murid terbaik dan tangan kiri Louvin” aku menghela nafas selagi bersender di sofa.

Aku tak percaya kali ini Louvin mengerahkan murid terbaiknya untuk mencari Kei dan aku, tidak mudah menghindari Helena dan Tristan, mengingat mereka berdua lumayan kuat dan cerdas. Walaupun aku tangan kanan Louvin dan memiliki beberapa kekuatan sekaligus, aku tidak akan bisa mengalahkan mereka berdua dengan kekuatanku sendiri, terlebih aku tidak ingin menyeret Ares dan Electra ke dalam persoalan ini, kalau sampai murid-muridku terluka karena aku... aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri... “Raven... kamu nggak apa-apa?” Kei mengelus lenganku selagi aku memejamkan mata, “Jangan khawatir Raven, kami akan berjuang bersamamu” Ares dan Electra tersenyum meyakinkanku, sementara aku hanya tersenyum tipis.

__________________________________________________________
“Beristirahatlah kak, malam ini aku yang akan berjaga lebih dulu” Electra menepuk lembut bahu Raven, sementara Raven hanya tersenyum dan mengangguk, Kei mengamati Raven yang sedang menajamkan pedangnya. Raven mungkin terlihat tegar dan dingin dari luar, tapi Kei tau lelaki itu sedang dilanda kegelisahan yang luar biasa, Kei dapat melihat mata Raven menyiratkan kelelahan dan kecemasan. Kei menghampiri Raven yang sedang duduk bersila di lantai sembari mengasah pedangnya, tiba-tiba Kei menghentikan tangan Raven dan mengangkatnya agar ia bisa masuk, duduk di pangkuan Raven, dan memeluknya. Raven yang masih bingung dengan kelakuan wanitanya ini hanya terdiam selagi memangku Kei yang tengah memeluknya.

“Aku tau kamu khawatir dan capek, aku pengen banget ngurangin beban pikiranmu, tapi aku rasa cuma ini yang bisa aku lakuin” Kei memeluk Raven kian erat, Raven tertawa kecil, ia berpikir tentang sejak kapan Kei bisa membaca pikirannya, “Makasih ya Kei... ini udah lebih dari cukup buat ngurangin beban pikiranku” ia mencium pundak Kei dan memeluk perempuan itu dengan hangat, “Sama-sama” Kei tersenyum dalam pelukan Raven. “Tidur yuk, kamu pasti capek kan?” Raven mengusap rambut Kei, ia tersenyum dan mengangguk. “Kamu gak mau turun?” Raven yang hendak bangun bingung dengan Kei yang tak juga melepas pelukannya, “Nggak mau” Kei menggeleng, “Jadi kamu maunya digendong sampe kasur?”, Kei mengangguk dan terkekeh.

Raven tertawa kemudian menggendong wanita kesayangannya itu ke atas kasur, kemudian menghujaninya dengan ciuman hingga Kei tertawa geli dengan semua ciuman itu. Tiba-tiba mata mereka bertemu, mereka terdiam dengan senyum yang masih mengembang, “Aku ke kamar mandi sebentar ya” Raven tersenyum dan mengecup kening Kei. Sesaat setelah Raven selesai menggosok gigi dan mencuci wajahnya, ia merasakan sekelebat angin dingin menjalari punggungnya, “Kei.. cuci muka dulu sa...” Raven mematung saat ia keluar dari kamar mandi, sesosok pria dengan rambut hitam kuncir kuda tengah mencekik Kei hingga Kei meronta-ronta di udara, Kei memukuli tangan pria itu selagi berusaha mengembalikan oksigen yang mulai menipis dari paru-parunya.

“Lepaskan Kei sekarang!” Raven menodongkan pedang panjangnya ke leher pria itu, “Atau apa? Kau akan membunuhku?” pria itu menyeringai mengejek ancaman Raven, “Kalau aku harus.. aku akan membunuhmu” Raven menekan pedangnya hingga menggores leher pria itu selagi menatapnya dengan keinginan membunuh yang kuat. Pria itu menjatuhkan Kei di atas kasur selagi Kei terbatuk dan menghirup oksigen sebanyak yang ia bisa, Raven berdiri memunggungi Kei untuk melindunginya dari pria itu, “Kau tau kan kau tidak bisa benar-benar membunuhku?” pria itu terkekeh karena kebodohan Raven.

“Bagaimana kau menemukan kami” Raven mengacungkan pedangnya ke wajah pria itu, “Well.. anggap saja aku menggunakan koneksiku” pria itu tersenyum mengejek Raven. “Kau tak berhak membunuh Kei! Ini belum waktunya bagi kami untuk berpisah!”, “Cepat atau lambat mortal itu akan mati karenamu, jadi apa bedanya sekarang atau 4 bulan lagi? Dia akan tetap mati dan kau akan tetap dihukum”, “Itu bukan keputusanmu!” Raven membentak pria itu dengan amarah. “Itu memang bukan keputusan Tristan, tapi itu adalah keputusanku” suara seseorang yang tak disangka-sangka oleh Raven terdengar dari ambang pintu, “L..Louvin..” Raven mematung melihat sosok Louvin muncul di hadapannya, “Halo. Sudah lama ya kita tidak bertemu” Louvin tersenyum dan melambaikan tangannya seakan-akan mereka sedang reuni.
__________________________________________________________

KEI

Rasa panas, perih, nyeri, dan ngilu, bercampur jadi satu di leherku, belum pernah aku merasakan cekikan sekuat itu seumur hidupku, aku sempat berpikir kalau aku akan mati tadi. Saat aku menengok ke arah meja rias, leherku berubah warna menjadi merah keunguan, selagi aku menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, air mataku menetes karena sakit yang kurasakan saat udara melewati bagian kerongkonganku. “Kau tak apa-apa?” Danny menghampiriku, aku menggeleng, dan menunjukkan leherku padanya, bahkan untuk mengeluarkan suara saja leherku terasa benar-benar sakit, tiba-tiba Danny mendekatkan tangannya ke arah leherku, “Aku bisa meringankan sakitnya, jadi jangan banyak bergerak sekarang”. Aku merasakan aura hangat keluar dari tangannya yang semi-transparan itu, dan rasa sakit di leherku tiba-tiba berkurang drastis.

“Aku tau mortal dibelakangmu itu melewati portal dan memasuki dunia kita Raven”, aku mendengar suara familiar seorang pria dari balik tubuh Raven yang sedang menyinggungku dalam percakapan mereka, perlahan aku mengintip dari balik tubuh Raven. “Kau tidak boleh menghukumnya Louvin, dia masuk ke sana karena kecerobohanku jadi hukumlah aku” ujar Raven mantap, “Ck ck ck.. peraturan tetap peraturan Raven, kau tidak akan bisa lolos dari yang satu ini” Louvin menggelengkan kepalanya. Seisi rumah mendadak bergetar, aku merasakan getaran yang cukup kuat seperti gempa bumi, dan tiba-tiba sebuah tembok tanah besar muncul dari lantai menutupi sebagian ruangan, “Ayo kita lari sekarang!” Raven mencengkram tanganku dan menggeretku menuju jendela, hanya dengan satu hentakan tangannya ia menjebol tembok rumah dan membuat lubang yang sangat besar.

Saat kami berlari keluar rumah, aku melihat Ares dan Electra sedang berusaha kabur dari orang-orang yang menjagal mereka dengan kekuatan mereka masing-masing, setelah mereka berhasil kabur, Raven memerintahkan kami untuk berpegangan erat padanya, dan dalam sekejap kami telah berada di tempat lain. “A..apa itu tadi?” aku memandangi tempatku berdiri, “Kita baru saja berpindah tempat dari rumah Electra” ujar Ares terengah-engah, “Berpindah tempat?!” aku terbelalak, kulihat Raven melepas salah satu kalungnya, ia mendekatiku dan memakaikan kalung itu di leherku. “Kalung itu berfungsi untuk membuatmu hilang dari radar mereka. Aku, Ares, dan Electra mungkin tidak bisa terlacak, tapi mereka bisa melacakmu dengan mudah, jadi kamu harus terus memakai kalung itu okay?” Raven mengusap kepalaku, aku mengangguk dan memandangi kalung berhiaskan cincin hitam itu.

“Omong-omong kita ada di mana sekarang?” Electra memandangi ladang di sekeliling kami, “Kita sekarang berada di Italia, aku punya save house di sini. Kau lihat rumah itu?” Raven menunjuk sebuah bangunan kuno sekitar beberapa ratus meter dari tempat kami berdiri, “Rumah? Maksudmu kastil itu?” Ares terdengar sinis, “Aku setuju dengan Ares, bangunan itu terlalu besar untuk disebut rumah” aku manggut-manggut setuju, “Yah terserah kalian mau menyebutnya apa. Lebih baik sekarang kita segera masuk ke sana” Raven segera memimpin jalan ke arah kastil itu. “Kau lihat itu Kei?” Ares menunjuk ke arah kastil itu, samar-samar aku dapat melihat kubah transparan yang mengelilingi kastil itu, “Apa? Kubah itu?” aku balik bertanya, Ares mengangguk “Kalau sampai manusia saja dapat melihatnya, berarti barrier yang ada di kastil itu sangat tua dan sangat kuat, aku belum pernah melihat barrier sekuat itu” Ares berdecak kagum.

Jumat, 23 Juni 2017

SAMSARA

PART IV

___________________________________________________________________________
Kei berjalan mendekati kolam kecil yang ada di taman yang ia masuki, bunga dengan beragam warna berjejer sepanjang jalan setapak pada taman itu, tanaman merambat yang tumbuh sejengkal di atas kepala Kei membuat suasana taman begitu romantis, taman yang begitu indah membuat Kei merasa berada di surga. Ia mendekati kolam yang jernih itu dan bayangan dirinya muncul di atas air, hal yang cukup janggal bagi Kei, karena seharusnya arwah tidak memiliki bayangan, ia menyentuh pipinya dan tidak bisa merasakan apa-apa, sosoknya yang kasat mata membuatnya bingung dari mana bayangan itu datang, tak lama kemudian karena penasaran, ia menyentuh pantulan dirinya yang muncul di atas air, dan tiba-tiba saja gadis itu tersedot masuk ke dalam kolam kecil di hadapannya.

Kei terbangun di sebuah ruangan kosong berwarna putih, dalam kebingungan yang cukup menyeramkan, ia bangun dan melihat sekitarnya. Ruangan itu benar-benar kosong, dan hanya ada satu pintu untuk keluar dan masuk. Dari celah pintu yang terbuka, Kei mendengar suara orang-orang yang sedang adu mulut, ia mendekati pintu itu dan mengintip dengan seksama. “Kau tidak bisa memperlakukanku seperti ini! Aku juga punya hak untuk bahagia Louvin!” teriak pria dengan rambut klimis berwarna putih kepirangan, ia berteriak ke arah sebuah singgasana besar berwarna emas yang menyembunyikan wajah pemiliknya. “Kau tidak mengerti Raven, aku melakukan hal ini untuk kebaikanmu! Arwah itu berbahaya! Kau telah dibutakan olehnya!” sebuah tangan yang jari-jarinya dihiasi beberapa cincin hitam muncul menunjuk ke kehampaan udara di sampingnya.

“Louvin benar Raven... kau tidak seharusnya mengejar arwah itu” seorang pria dibelakang Raven menepuk pundaknya, “Kau juga Cyan! Kau tidak seharusnya membela Louvin! Kau juga pernah kan jatuh cinta dengan mortal?!” Raven membentak Cyan yang terlihat pucat, “Cukup Raven!! Cyan sudah mendapat hukumannya, dan dia sadar kalau perilakunya salah! Bukan seperti kau yang terus membangkang!”, “Kalau begitu hukum aku! Ubah aku menjadi arwah pendamping! Hapus semua ingatanku agar aku tidak bisa jatuh cinta lagi! Itu kan keinginanmu?!” kemarahan Raven semakin memuncak, wajahnya semakin merah. “Aku tidak bisa! Okay?!” sosok yang disebut sebagai Louvin itu berdiri, dengan rambut pirangnya yang panjang, matanya yang berwarna hijau emerald, jenggot tipis yang juga berwarna putih kepirangan.

Louvin menghadap ke belakang singgasana emasnya, tempat arwah Kei mengintip dan menguping pembicaraan mereka sedari tadi, wajah Louvin terlihat sedih dan marah, Louvin memandang hampa ke arah Kei yang sedang gemetar melihat sosoknya yang tinggi besar, Kei yakin ia pasti terlihat jelas oleh Louvin karena ia berdiri tepat di ambang pintu, tapi tampaknya Louvin sama sekali tidak melihat mahluk apapun dihadapannya. “Apa maksudmu? Kenapa kau tidak bisa?” Raven terlihat bingung dengan kefrustasian Louvin, Louvin menarik nafas dan menghelanya dengan berat, “Dengar ini baik-baik. Ada banyak hal yang tidak boleh kuberi tahukan padamu, salah satunya adalah hal ini. Tapi aku akan memberitahukan ini karena aku tau kau akan terus mengejarku untuk meminta jawaban” Louvin menatap Raven dengan serius. “Alasan aku tidak bisa mengubahmu menjadi arwah pendamping adalah....” belum sempat Kei mendengar jawabannya, ia merasa tubuhnya ditarik paksa dari TKP, dan saat ia tersadar, ia sudah terbangun di ruang kerja Raven dengan Raven dan Ares menatapnya khawatir.

Kei pusing dan merasa mual, ia segera menarik tong sampah yang tak jauh dari tempatnya duduk dan mengeluarkan isi perutnya. Raven dan Ares berpandangan satu sama lain, mereka sepakat bahwa dugaan mereka benar, Kei telah memasuki dunia mereka. Jika mortal memasuki dunia Watchers dalam bentuk arwah, efeknya pada tubuh mereka akan sama seperti gegar otak, maka dari itu mereka akan mual dan pusing setelah memasuki portal. Sewaktu mereka sibuk mengurus sesuatu di rumah Louvin, alarm peringatan tiba-tiba saja berbunyi, alarm itu memperingatkan kalau ada mahluk selain Watchers yang melewati portal, dan ternyata mereka mendapati Kei masuk ke dalam kolam ingatan. Kolam yang berisi berbagai macam ingatan dari beberapa Watchers utama Louvin, terutama mereka yang memiliki posisi penting.

“Kamu nggak apa-apa kan?” Raven menepuk punggung Kei, dan Kei langsung merangkak menjauh dengan panik, “Ka..kalian.. mahluk apa kalian?!” Kei menunjuk Raven dan Ares dengan gemetar dan mata membelalak. “Tunggu Kei, aku bisa jelasin..” Raven merangkak mendekati Kei, “Berhenti disitu!!” teriakan Kei mengejutkan Raven yang akhirnya duduk tak jauh dihadapan Kei. Raven menghela nafas, “Look.. aku tau kamu pasti ketakutan sekarang, aku bisa jelasin semuanya selama kamu mau dengerin aku, oke?”, “Raven, kita harus pergi sekarang, keadaan di rumah Louvin sedang kacau, dan Louvin sudah mengetahui apa yang terjadi, sebentar lagi akan ada Watchers yang datang kesini” Ares menepuk pundak Raven.

Okay, kalo gitu sekarang kita pergi” Raven mengangguk menatap Ares dibelakangnya, “Kei.. aku mau kamu packing sekarang, bawa barang-barang yang penting. Aku bakal jelasin semuanya di jalan” Raven menatap mata Kei dengan intens, dan tatapan itu membuat Kei segera mengangguk. Selagi Kei mengepak barang-barangnya dalam kebingungan dan ketakutan, Raven mengambil beberapa buku penting dari rak bukunya, pedang miliknya yang ada di dalam salah satu kotak kaca, serta beberapa berkas-berkas penting, sementara Ares sudah menunggu di dalam mobil bersama dengan arwah pendampingnya yang di multi fungsikan sebagai supirnya. Mereka segera masuk ke dalam mobil Ares setelah selesai mengambil barang-barang keperluan mereka, dan selama 5 menit pertama perjalanan mereka berlangsung hening.

Kei yang belum sepenuhnya mengerti apa yang terjadi hanya gemetar ketakutan di tempat duduknya karena dikelilingi oleh mahluk yang tidak ia ketahui jenisnya, pikiran Kei kalut memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya, dan siapakah orang-orang yang membawanya ini, apakah Raven adalah pria yang selama ini ia kenal? Apakah Raven benar-benar mencintainya? Atau selama ini hubungan mereka hanya kebohongan diantara kebohongan lainnya? Hanya dengan memikirkan hal itu saja air mata Kei perlahan mengalir.

Raven menyadari kalau Kei sedang menangis disampingnya, ia menyodorkan tissue pada Kei, Kei terkejut dan menghindari tatapan Raven, pria itu menarik tangan Kei dan meletakkan tissue di tangan Kei, “Makasih” suara Kei terdengar bergetar menahan sesegukannya, Raven tersenyum getir melihat wanita yang ia cintai takut dengan siapa dia sesungguhnya, Raven tentu saja tidak menyangka hal ini akan benar-benar terjadi. Padahal Danny telah memperingatkannya beberapa kali kalau identitasnya dapat terkuak di tangan Kei, dan sekarang setelah semuanya benar-benar terjadi, untuk pertama kalinya ia tidak tau apa yang harus ia lakukan.
___________________________________________________________________________


RAVEN
“Masih berapa lama lagi kita sampai di rumah El?”, “Sebentar lagi, sekitar 15 menit lagi” Ares melirik jam tangannya, “Kau sudah menghubunginya?”, “Sudah, dia bilang dia akan menyiapkan barrier setelah kita sampai”, “Tapi kau yakin dia tidak akan mengkhianati kita? Kau tau sendiri Louvin punya banyak mata-mata”, Ares menggeleng “Aku yakin karena dia adikku, dan dia sangat menghormatimu. Suatu kehormatan baginya untuk membantumu”, aku menarik nafas panjang “Baiklah kalau begitu, kuharap kita belum sempat terlacak oleh suruhan Louvin”. Aku mengetuk-ngetukkan jariku dengan gelisah, kalau sampai Louvin tau Kei lah yang menerobos ke dalam portal, pasti ia akan menghukumku lebih berat lagi. Terlebih lagi Kei masih gemetar ketakutan di sebelahku sekarang, aku tidak tau bagaimana cara menenangkannya karena yang ia takuti adalah aku.

“Kei... aku udah janji mau jelasin semuanya ke kamu, kamu mau denger ini sekarang atau nanti aja waktu kita udah sampai?” aku menatap Kei khawatir, “Na-nanti aja” suaranya terdengar bergetar akibat menahan tangis. Sekarang aku benar-benar ingin berteriak sekeras mungkin, terlalu banyak tekanan dalam satu waktu dan aku tidak tau harus berbuat apa, Watchers mungkin mahluk spesial, tapi kurang lebih emosi kami sama seperti manusia, kami bisa merasa sedih, khawatir, marah, dan sebagainya. Di saat-saat genting seperti ini tekanan yang datang luar biasa hebat karena ini adalah Louvin yang kita bicarakan, sosok yang tega merobek-robek kulitku dan menyatukannya kembali dan kemudian merobeknya lagi, Watchers lain mungkin tidak tau betapa kejam dan teganya Louvin, tapi aku benar-benar tau bagaimana dia, setelah seumur hidup aku tinggal bersamanya, ia adalah sosok yang keras dan kaku, tidak akan pernah menerima jawaban ‘tidak’.

Kami sampai di depan rumah El, dan kulihat ia berdiri di teras rumahnya dengan tatapan khawatir. Electra adalah salah satu murid didikanku yang paling pintar, sudah lama sejak terakhir aku bertemu dengannya, mungkin sekitar 700 tahun yang lalu. Ia menghambur memelukku sesaat setelah aku menginjakkan kaki di atas teras rumahnya, aku tersenyum dan mengusap kepalanya “Tolong bantu Kei turun dan masuk ke dalam rumah, aku akan memasang barrier di sekeliling rumahmu”, “Aku saja yang memasang barriernya, kakak masuklah dan istirahat”, “Tidak apa-apa, barrierku jauh lebih kuat dibanding milikmu, sekarang bantulah Kei masuk ke rumah”, “Oh iya, kau benar juga” ia manggut-manggut, “Kalau begitu setelah selesai memasang barrier langsung masuklah, sudah kusiapkan kamar untukmu”, aku mengangguk mengerti, dan ia segera pergi mengantar Kei masuk ke dalam rumah.

Setelah aku selesai memasang barrier, aku segera masuk untuk mendiskusikan beberapa hal dengan Ares dan Electra, termasuk apa yang harus kami lakukan ketika mereka menemukan Kei dan aku disini, tentunya aku tidak akan membiarkan mereka menggeret kami berempat tanpa perlawanan. Bagi manusia yang melewati portal, hukumannya adalah penghapusan memori, dan tentunya aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi, bukan hak Louvin untuk menghapus memori Kei, apa lagi Kei masuk ke dalam portal karena kecerobohanku. Aku tidak yakin Kei siap mendengar kebenarannya, tapi aku juga berharap kalau ia bisa mengerti dan menerima siapa aku sesungguhnya, bukan sebagai mahluk asing, tapi sebagai pria yang benar-benar mencintainya.

KEI
Aku menatap kosong selagi duduk di pinggir kasur, untuk kesekian kalinya aku kembali menghela nafas, sebenarnya apa yang saat ini sedang terjadi? Apakah kami dalam bahaya? Semua tekanan dan kekhawatiran ini membuat kepalaku hampir meledak, ditambah lagi aku tidak tau apa-apa tentang identitas mereka yang sebenarnya. Tak terasa, air mataku kembali mengalir, tiba-tiba aku merindukan Mama dan kak Sasha, kalau sesuatu terjadi padaku... dadaku sesak, tak sampai hati aku membayangkan Mama yang akan kehilangan putri semata wayangnya ini.

Suara pintu yang terbuka mengagetkanku dan membuatku cepat-cepat menghapus air mata yang sedari tadi tak henti mengalir, hanya terdengar suara sepatu yang beradu dengan lantai kayu, aku dapat merasakan seseorang duduk di seberang kasur, memunggungiku yang sedang menatap keluar jendela, beberapa saat kemudian terdengar helaan nafas berat. “Maafin aku Kei..” suara Raven yang sangat kuhapal memecah keheningan, aku tetap diam dalam dilema, dilema karena saat ini aku ingin berlindung dan menangis di pelukan Raven, tapi aku takut karena tak mengetahui Raven yang sebenarnya, bahkan aku sempat berpikir apakah namanya benar-benar Raven.

“Nggak seharusnya kamu terlibat dalam duniaku.. karena kecerobohanku kamu jadi terancam bahaya kaya gini”, “Bahaya apa yang kamu maksud?”, “Apa kamu siap mendengar kebenarannya? Semua kebenarannya?”. Aku tertegun mendengar pertanyaan Raven, apakah aku benar-benar siap mendengar kenyataannya? Aku masih takut, namun rasa penasaran lebih menggangguku sedari tadi. “Aku.. siap” dengan suara bergetar aku menelan ludahku, aku pikir lebih cepat aku tau maka akan lebih baik.

“Kami disebut Watchers, setidaknya pada masa ini. Kami sudah hidup sejak ribuan tahun yang lalu, beda zaman maka panggilan kami juga berbeda. Kami adalah perwujudan sehelai bulu sayap malaikat yang jatuh, wujud asli kami berbentuk seperti manusia namun dengan tinggi 12 kaki dan rambut putih kepirangan. Kurang lebih fungsi tubuh kami seperti manusia, semua emosi dan kebutuhan dasar juga seperti manusia. Tugas kami adalah menuntun manusia berjalan sesuai ketentuan yang ditetapkan-Nya”, “Apa maksudnya menuntun manusia?” aku perlahan menengok kebelakang, “Semua manusia yang ada di dunia ini harus berjalan sesuai ketetapan Yang Maha Esa, semua hal-hal kecil telah diatur, secara tidak langsung sebenarnya tidak ada yang namanya kebetulan. Misalnya saat seseorang menjadi pengusaha sukses yang kaya raya, selain karena usahanya sendiri, kami Watchers juga punya andil dalam kesuksesannya” ia tersenyum samar.

“Contohnya saat aku memarahi seorang karyawan di kantor dengan keras, mungkin orang lain mengira aku ini bos yang kejam dan tak punya perasaan, tapi aku tidak asal memarahinya, kami Watchers punya trik khusus untuk membolak-balik perasaan seseorang. Hati orang itu sebenarnya sedang kutempa agar ia dapat menjadi lebih baik, karena kata-kataku yang merendahkannya, ia termotivasi untuk membuktikan padaku kalau ia bisa lebih dari perkiraanku, dan dengan begitu ia bisa menjadi manusia yang berjalan sesuai ketetapan-Nya. Kurang lebih seperti itu tugas kami, mengarahkan manusia sesuai jalan yang di tetapkan” Raven tersenyum melihat aku yang mendengarkan ceritanya dengan seksama.

___________________________________________________________________________
“Kami punya pimpinan, ia dipanggil Louvin. Ia bertugas untuk mengatur dan mengajari semua Watchers generasi pertama, ia yang membuat peraturan dan hukuman bagi kami. Taman yang dimasuki oleh arwahmu tadi adalah taman milik Louvin, dan kolam yang kamu lihat itu adalah kolam ingatan, beberapa ingatan penting disimpan disana. Ia lahir 100 tahun sebelum aku, dan diajari langsung oleh malaikat Gabriel untuk menjadi tangan kanannya dalam mengawasi semua aktivitas manusia. Sebenarnya Louvin lebih seperti kakak bagiku dari pada atasan, dan ia menentang kami untuk memiliki perasaan pada manusia, atau ia biasa menyebut kalian mortal, ia bahkan membuat peraturan khusus yang ketat tentang hal ini. Louvin bisa jadi sangat mengerikan saat ia marah, dan kejadian tadi sudah pasti akan membuat ia marah” Raven menghela nafas menatap lantai, sementara Kei merasa jantungnya terhenti sejenak.

“Jadi bahaya apa yang kamu maksud?” Kei menatap Raven khawatir, “Louvin pasti akan mengincar kita berdua untuk dihukum. Hukuman bagi manusia yang melewati portal adalah penghapusan memori, dan hukuman untuk Watchers adalah dibakar hidup-hidup, atau mungkin lebih parah, tergantung kondisi dan situasi dimata Louvin”, “Tunggu dulu... bukannya kau akan mati kalau dibakar hidup-hidup?!” Kei membelalakkan matanya, “Ya, tapi aku akan hidup kembali setelah mati, jadi sebenarnya penyiksaan itu benar-benar menyakitkan karena aku akan terus hidup setelah mati” Raven tertawa pasrah, sementara air mata Kei sudah menggenang membayangkan siksaan yang dilalui oleh Raven, pria yang dicintainya.

“Aku... punya pertanyaan..” Kei menatap Raven ragu-ragu, “Apa? Kamu boleh tanya apa saja kok” laki-laki itu tersenyum hangat. “Apa perasaanku buat kamu ini benar-benar perasaanku, atau kamu yang mengendalikan perasaanku?” Kei mencengkram seprei dengan tangannya yang gemetar, “Perasaan itu nyata milikmu Kei..” Raven menyentuh punggung tangan Kei dengan lembut, “Tapi?” Kei melihat kata yang tertahan dari bibir Raven, “Tapi... pertemuan kita memang bukan sepenuhnya takdir.. lebih tepatnya aku yang mencarimu. Sejak berabad-abad yang lalu” Raven tersenyum pilu, ia tau kalau apa yang ia perbuat salah, secara tidak langsung ia memaksa Kei untuk jatuh cinta padanya di setiap siklus kehidupan arwah Kei.

“Apa maksudmu sejak berabad-abad yang lalu?” Kei menatap Raven dengan alis bertaut, “Setiap kali arwahmu pergi ke alam baka, maka tak lama kemudian arwah itu akan dilahirkan kembali dalam tubuh yang berbeda. Kalian para manusia mungkin mengetahuinya sebagai reinkarnasi, proses ini terjadi pada setiap mahluk hidup, roda kehidupan dan kematian itu banyak dikenal oleh manusia dengan sebutan Samsara. Dalam samsara milikmu, aku selalu ada, aku selalu mencari dimana arwahmu ditempatkan kembali di dunia. Jadi sebenarnya kita sudah mengenal satu sama lain secara tidak langsung sejak 1500 tahun yang lalu”, “Seribu.. lima ratus.. tahun yang lalu?!” Kei tidak bisa berhenti memelototi Raven, “Lalu umurmu...”, “Aku kurang lebih berusia.. 4500 tahun”, Kei membeku ditempat duduknya, “Jadi.. kau ada hampir di setiap kejadian di dunia ini?” Kei menatap Raven kagum sekaligus tercengang, “Tidak semuanya, mungkin aku hadir di hampir semua kejadian besar yang mempengaruhi manusia di bumi” Raven tersenyum mengingat sejarah-sejarah besar yang telah dilalui umat manusia.

“Raven... apa aku perlu tau hal lain tentang Watchers?” Kei menatap Raven penasaran, “Hm.. ada beberapa sebenarnya. Salah satunya tentang kekuatan kami, aku bisa mengendalikan berbagai elemen di sekitarku, Ares bisa mengetahui isi pikiran manusia, sementara Electra bisa mengendalikan benda-benda dengan pikirannya, dan masih ada beberapa kekuatan yang berbeda di setiap Watchers”, “Aku.. ingin tau sesuatu, apa boleh?”, “Tentu saja” Raven tersenyum lembut, “Setiap kali kau bertemu denganku, ditubuh dan waktu yang berbeda, apa kau tetap seperti kau yang sekarang? Maksudku apa kau selalu sebaik dan sehangat ini?”.

Raven tertegun mendengar pertanyaan Kei, namun tak lama kemudian ia tersenyum, “Aku... jujur saja aku tidak pernah tau apakah aku berubah, atau apakah aku merubah sikapku. Namun setiap kali aku bersamamu, aku menjadi seperti ini, aku merasa bebas menjadi diriku sendiri. Aku hanya fokus membuatmu nyaman dan bahagia di sisiku, dan tidak pernah memikirkan hal yang lainnya. Kebahagiaanmu adalah prioritas bagiku” Raven perlahan menyelipkan rambut pirang kecoklatan itu kebelakang telinga Kei, dan hal itu sukses membuat pipi Kei merah merona. “Jadi.. kau tetap Raven yang selama ini ku kenal dan kusayang?” Kei menatap Raven dengan mata besarnya, mata yang membuat Raven jatuh hati pada pandangan pertama.

Lelaki itu tersenyum hangat, “Ya.. tentu saja. Apa kau mau kutunjukkan ingatan-ingatanmu yang sebelumnya?”, “Kau.. bisa melakukan itu?” Kei menatap Raven tak percaya. “Mendekatlah” Raven semakin mendekat sembari melihat Kei bergerak mendekatinya, tiba-tiba Raven menarik Kei dan bibir mereka bertautan dengan hangat. Semua ingatan itu kembali mengalir ke pikiran Kei selagi mereka berciuman, dan Kei meneteskan air mata. Air mata kerinduan karena mereka dipisahkan berkali-kali dengan berbagai bencana dan kesedihan yang diciptakan oleh Louvin. Selagi semua memori itu kembali, selama itu pula semua emosi yang dirasakan oleh arwah Kei ikut kembali, membuat Kei meneteskan air mata yang tak ada habisnya.

Setelah mereka selesai, Raven mengusap lembut pipi Kei yang dibasahi oleh air mata sembari tersenyum, sementara Kei mengusap pipi Raven dan menatapnya dengan penuh rindu, mereka berdua tertawa kecil, tanpa bicara pun mereka telah mengetahui isi pikiran masing-masing. “Nama kamu beneran Raven atau beda lagi?”, “Iya, nama asliku memang Raven”, “Oh iya, bisa nggak kamu tunjukin ke aku wujud aslimu?”, “Wujud asliku? Kayaknya nggak bisa di ruangan ini deh, terlalu pendek”, “Nggak perlu sama persis, cukup penampilannya aja” Kei tertawa kecil melihat Raven yang kebingungan.

Tak lama kemudian Raven merubah rambutnya menjadi putih kepirangan, ia pun turut mengganti pakaiannya menjadi setelan jas serba putih. Kei yang melihat perubahan ajaib di depan matanya tidak dapat menutup rahangnya kembali ke tempat semula. Rambut Raven yang berubah warna helai demi helai, alisnya, struktur wajahnya yang agak berubah juga terlihat jelas di depan mata Kei. Ia mengelilingi Raven di tempat pria itu berdiri, “Gimana? Lebih suka yang ini atau yang biasanya?” Raven tertawa kecil melihat wanitanya terkagum-kagum seperti anak kecil, “Kamu.. kok mirip kaya albino ya? Serba putih gini” Kei menahan tawanya, “Ya memang gini wujud asliku”, Kei manggut-manggut mengerti, “Tapi mau yang ini atau yang biasanya, dua-duanya aku suka kok” Kei tersenyum dan memeluk Raven erat sementara Raven tersenyum lebar.
___________________________________________________________________________




___________________________________________________________________________


TO BE CONTINUE

___________________________________________________________________________

Cerita ini hanya fiktif belaka guna memenuhi tugas.
Beberapa hal yang di paparkan dalam cerita tidak sepenuhnya fakta, melainkan imajinasi dan subjektivitas penulis.
Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, hal tersebut adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.


©DinaAuliaLee

Matematika dan ilmu alamiah dasar IV

Teori Asal-Usul Kehidupan di Bumi
·      Teori Kosmozoa
Arrhenius (191 I) menyatakan bahwa kehidupan pertama dimulai dari spora-spora kehidupan yang bersarna-sama dengan partikel debu alam disebarkan dari satu tempat ke tempat lain, di bawah pengaruh sinar matahari. Tetapi teori ini tidak memperhitungkan adanya temperature yang begitu dingin dan juga sangat panas dan sinar -sinar yang mematikan yang terdapat di angkasa luar, seperti sinar kosmis, sinar ultra violet dan sinar infra merah.
Teori ini berdasarkan dua asumsi bahwa:
               1. Benda hidup itu ada atau telah ada disuatu tempat dalam alam semesta ini
               2. Hidup itu dapat dipertahankan selama perjalanan antar benda angkasa ke bumi.
·      Teori Pfluger
Teori ini menyatakan bahwa bumi berasal dari suatu materi yang sangat panas, kemudian dari bahan itu mengandung karbon dan nitrogen terbentuk senyawa Cyanogen (CN). Senyawa tersebut dapat terjadi pada suhu yang sangat tinggi dan selanjutnya terbentuk zat protein pembentuk protoplasma yang akan menjadi makhluk hidup.
·      Teori Moore
Teori ini menyatakan bahwa makhluk hidup dapat muncul dari kondisi ysng cocok dari bahan anorganik pada saat bumi mengalami pendinginan melalui suatu proses yang kompleks dalam larutan yang labil. Bila fase keadaan kompleks itu tercapai akan muncullah hidup.
·      Teori Allen
Teori ini menyatakan bahwa pada saat keadaan fisis bumi ini seperti’ keadaan sekarang, beberapa reaksi terjadi yaitu energi yang datang dari sinar matahari diserap oleh zat besi yang lembab dan menimbulkan pengaturan atom dari materi-materi. Interaksi antara nitrogen, karbon, hidrogen, oksigen, dan sulfur dalam genangan air di muka bumi akan membentuk zat-zat yang difus yang akhirnya membentuk protoplasma benda hidup.
·      Teori Transendental
Teori ini merupakan jawaban secara religi bahwa benda hidup itu diciptakan oleh Super Nature atau Tuhan Yang Maha Kuasa di luar jangkauan sains.
·      Teori Biologi Modern
Pada prinsipnya teori beranggapan bahwa kehidupan berasal dari atmosfer. Beberapa ilmuwan yang mengemukakan teori ini adalah sebagai berikut:
               1. A.I. Oparin (Rusia)
          Oparin berpendapat bahwa di atmosfer terkandung uap air (H2O), metana (CH4), amonia (NH3), hidrogen (H2), nitrogen (N3), dan sianogen (CNO). Uap air di atmosfer lama-kelamaan mengembun dan mengumpul di atmosfer sehingga menjadi berat dan jatuh ke bumi sebagai hujan lebat yang disetai halilintar. Pada waktu hujan lebat, senyawa-senyawa gas yang ada di atmosfer banyak yang larut dan bereaksi di dalam air hujan membentuk senyawa organik sederhana (penyusun kehidupan) yang ikut jatuh ke bumi.
                2.  Harold Urey (Amerika)
          Pada masa bumi awal, atmosfer purba mengandung gas hidrogen (H2), amonia (NH3), metana (CH4), dan uap air (H2O). Gas-gas tersebut dengan bantuan energi yang berasal dari loncatan listrik ketika ada hililintar, radiasi sinar kosmik, dan agen lainnya, bereaksi satu dengan lainnya membentuk senyawa organik sederhana. Senyawa organik ini diperkirakan berkembang lebih lanjut menjadi organisme.
                3.  Stanley Miller (Amerika)
             Miller adalah murid Urey yang menguji teori Urey dengan percobaan tabung saluran yang diisi ua air, metana, amonia, dan hidrogen yang kemudian dialiri listrik bertegangan tinggi. Setelah seminggu Miller menampung zat yang terbentuk, ternyata zat tersebut adalah asam amino. Asam amino merupakan bahan penyusun protein pembentuk protoplasma sebagai dasar kehidupan.

2.  Teori Abiogenesis dan Biogenesis
a.    Teori Abiogenesis (Generatio Spontanea)
Teori yang dikemukakan Aristoteles ini menyatakan bahwa makhluk hidup tercipta dari benda tak hidup yang berlangsung secara spontan (generatio spontanea). Misalnya cacing dari tanah, ikan dari lumpur, dan sebagainya. Teori ini dianut oleh banyak orang selama beberapa abad.
Aristoteles (384-322 SM), adalah seorang filsuf dan tokoh ilmu pengetahuan Yunani Kuno. Sebenarnya dia mengetahui bahwa telur-telur ikan yang menetas akan menjadi ikan yang sifatnya sama seperti induknya. Telur-telur tersebut merupakan hasil perkawinan dari induk-induk ikan. Walau demikian, Aristoteles berkeyakinan bahwa ada ikan yang berasal dari Lumpur.
Menurut penganut paham abiogenesis, makhluk hidup tersebut terjadi begitu saja secara spontan. Itu sebabnya, teori abiogenesis ini disebut juga generation spontanea. Bila pengertian abiogenesis dan generation spontanea digabung, maka konsepnya menjadi: makhluk hidup yang pertama kali di bumi berasal dari benda mati / tak hidup yang terjadinya secara spontan (sebenarnya ini adalah dua teori yang berbeda, tetapi orang sudah kadung salah kaprah).
Paham abiogenesis bertahan cukup lama, yaitu semenjak zaman Yunani Kuno (ratusan tahun sebelum Masehi) hingga pertengahan abad ke-17, dimana Antonie Van Leeuwenhoek menemukan mikroskop sederhana yang dapat digunakan untuk mengamati makhluk-makhluk aneh yang amat kecil yang terdapat pada setetes air rendaman jerami. Oleh para pendukung paham abiogenesis, hasil pengamatan Antonie Van Leeuwenhoek ini seolah-olah memperkuat pendapat mereka tentang abiogenesis. Hasil pengamatan Anthoni ditulisnya dalam sebuah catatan ilmiah yang diberi judul “Living in a drop of water“. Tokoh lain pendukung teori ini adalah John Needham.
Walaupun bertahan beratus-ratus tahun, teori Abiogenesis akhirnya goyah dengan adanya penelitian tokoh-tokoh yang tidak puas dengan paham Abiogenesis. Tokoh-tokoh ini antara lain: Francesco Redi (Italia, 1626 – 1697), Lazzaro Spallanzani (Italia, 1729 – 1799), dan Louis Pasteur (Perancis, 1822 – 1895).
b.   Teori Biogenesis
Teori ini bertentangan dengan teori abiogenesis, karena menganggap bahwa makhluk hidup berasal dari makhluk hidup yang sudah ada sebelumnya. Tiga tokoh terkenal pendukung teori ini adalah Francesco Redi, Lazzaro Spallanzani, dan Louis Pasteur.
1)   Francesco Redi
Redi merupakan orang pertama yang melakukan eksperimen untuk membantah teori abiogenesis. Dia melakukan percobaan dengan menggunakan bahan daging segar yang ditempatkan dalam labu dan diberi perlakuan tertentu.
·       Labu I    :  diisi daging segar dan dibiarkan terbuka
·       Labu II   :  diisi daging segar dan ditutup dengan kain kasa
·       Labu III  :  diisi daging segar dan ditutup rapat
Ketiga labu diletakkan di tempat yang sama selama beberapa hari. Hasilnya adalah sebagai berikut:
·       Labu I    :  dagingnya busuk, banyak terdapat belatung
·       Labu II   :  dagingnya busuk, terdapat sedikit belatung
·       Labu III  :  dagingnya tidak busuk, tidak terdapat belatung
Menurut Redi belatung yang terdapat pada daging berasal dari telur lalat. Labu ke III tidak terdapat belatung karena tertutup rapat sehingga lalat tidak bisa masuk. Sayangnya, meskipun tertutup rapat ternyata pada labu tersebut bisa muncul belatung. Ini disebabkan karena Redi tidak melakukan sterilisasi daging pada disain percobaannya.
2)   Lazzaro Spallanzani
Spallanzani juga melakukan percobaan untuk membantah teori abiogenesis, tetapi menggunakan bahan kaldu. Disainnya sebagai berikut:
·       Labu I   : diisi kaldu lalu dipanaskan dan dibiarkan terbuka
·       Labu II  : diisi kaldu, lalu ditutup dengan gabus yang disegel dengan lilin, kemudian dipanaskan
Setelah dingin kedua labu diletakkan di tempat yang sama. Beberapa hari kemudian hasilnya sebagai berikut.
·       Labu I   : berubah busuk dan keruh, banyak mengandung mikroba (bakteri)
·       Labu II  : tetap jernih, tidak mengandung mikroba
Menurut Spallanzani mikroba yang tumbuh dan menyebabkan busuknya kaldu berasal dari mikroba yang beraada di udara. Pendukung paham abiogenesis keberatan dengan disain Spallanzani karena menurut anggapan mereka, labu yang tertutup menyebabkan gaya hidup (elan vital) dari udara tidak dapat masuk, sehingga tidak memungkinkan munculnya makhluk hidup (mikroba).
3)   Louise Pasteur
Pasteur menyempurnakan percobaan Redi dan Spallanzani. Ia menggunakan kaldu dalam labu yang  disumbat dengan gabus. Selanjutnya gabus tersebut ditembus dengan pipa berbentuk leher angsa (huruf S), kemudian dipanaskan. Setelah dingin dibiarkan beberapa hari kemudian diamati. Ternyata air kaldu tetap jernih dan tidak ditemukan mikroba.
Disain pipa yang berbentuk leher angsa tersebut memungkinkan masuknya gaya hidup dari udara, tetapi ternyata tidak didapati makhluk hidup dalam kaldu. Menurut Pasteur, mikroorganisme yang tumbuh dalam kaldu berasal dari udara. Mereka tidak bisa masuk karena terhambat oleh bentuk pipa. Hal ini bisa dibuktikan bila labu dimiringkan sedemikian rupa sehingga kaldu mengalir melalui pipa dan menyentuh ujung pipa, ternyata beberapa hari kemudian menyebabkan busuknya kaldu.
Dengan demikian Pasteur telah membuktikan bahwa teori biogenesislah yang benar. Muncullah ungkapan :
“ omne vivum ex ovo, omne ovum ex vivo, omne vivum ex vivo”
Yang artinya: makhluk hidup berasal dari telur, telur berasal dari makhluk hidup, makhluk hidup berasal dari makhluk hidup.




sumber: http://titahvegatanaya.blogspot.co.id/2013/04/asal-mula-kehidupan-di-bumi.html

Jumat, 09 Juni 2017

SAMSARA

PART III

_______________________________________________________

PERINGATAN!
CERITA DIBAWAH INI MEMUAT UNSUR DEWASA UNTUK 18 TAHUN KEATAS!
PENULIS MENGHARAPKAN KEBIJAKSANAAN PEMBACA DALAM MEMBACA KONTEN DIBAWAH INI
TERIMA KASIH
_______________________________________________________


KEI
Hm... bau bacon panggang... dan roti bakar... ah.. ini dia bau yang paling kusuka.. bau kopi segar dipagi hari. Aku tiba-tiba membelalakkan mata, saat melihat sekeliling, aku langsung sadar kalau ini bukan apartemenku, juga karena aku tau di dalam apartemenku tidak ada makanan yang bisa dimasak kecuali mi instan, jadi tidak mungkin ada wangi makanan yang menyeruak sepagi ini. Aku menatap pahaku yang polos tanpa celana, tunggu dulu.. baju siapa yang kupakai ini? Kemeja kebesaran berwarna biru? Seingatku aku tidak memakai baju ini kemarin malam? Bagaimana aku bisa berganti baju? Dan siapa yang menggantikan bajuku?!

Tiba-tiba flashback kejadian tadi malam muncul di ingatanku, walaupun samar, aku dapat menggabungkan detil-detilnya. Gawat... aku mencium bosku dengan agresif! Tidak.. tunggu.. aku.. aku.. aku tidur dengannya!! Aku memegangi kepalaku dengan panik, bagaimana ini?! Ini bukan bagian dari rencana hidupku! Aku tidak menyangka aku akan... argh! Harusnya tidak seperti ini!

Aku berusaha tenang dan mengatur nafas, aku harus kembali pada fakta kalau itu semua sudah terjadi, sekarang yang perlu kulakukan hanya menghadapi Raven dan meminta penjelasan detil atas kejadian tadi malam. Aku menarik nafas, membuka pintu kamar, dan mendapati Raven sedang bersiul dari dapur, bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana trainingnya, aku bengong melihat tubuhnya yang ‘oh my god’ itu, tubuh yang tak pernah tampak saat ia mengenakan kemejanya, aku agak tak percaya kalau itu adalah tubuh yang memelukku tadi malam. Aku berdiri di ambang pintu kamar dan menatapnya lekat-lekat, sebenarnya aku harusnya mengakui saja kalau aku memang menyukainya, jauh sebelum kami menjadi tetangga dan berhubungan dekat, sejak pertama kali aku menabraknya di restoran hotel, aku sudah terpesona olehnya. Namun aku tak pernah berpikir kalau aku akan memiliki hubungan seperti ini dengannya, hubungan yang terlalu aneh bagiku. Kita bahkan bukan kekasih, tapi dia dan aku sudah... ah sudahlah.. toh aku tak bisa mengubah kejadian itu juga.

Good morning” suaranya mengagetkanku yang sedang melamun, ia tersenyum dan meletakkan piring berisi sarapan di meja makan, “Morning” aku tersenyum kecil dan duduk di meja makan selagi Raven mengambilkanku segelas susu hangat. Di meja makan kami hanya diam, hingga akhirnya Raven buka suara, “Kamu pasti punya banyak pengalaman ya?” ia dengan tenang memotong baconnya, aku mengerutkan alisku selagi meminum susu hangat. “Last night was amazing by the way” ia tersenyum di seberang meja dan menatapku, sontak aku tersedak.

“Hah? Maksud kamu?” aku terbatuk dan mengambil tissue untuk mengelap bibirku, “Ya... kamu tau kan tadi malam kita **** (18++)****”, aku melongo menatap Raven yang dengan lancar dan tanpa tersendat menceritakan hal-hal yang membuat pipiku memerah. Ini memang bukan pertama kali aku melakukannya, tapi tetap saja kalau dijabarkan secara verbal hal itu akan membuatku malu, terutama ia mengatakannya tepat di depan wajahku, dan menatapku lekat-lekat. “Jadi... sebenernya hubungan kita ini apa?” aku menatapnya menanti jawaban, “Ya terserah kamu, kamu mau kita punya hubungan eksklusif atau nggak?” ia malah balik bertanya, aku jadi terdiam menimbang-nimbang keputusan yang harus kuambil.


RAVEN
Ya Tuhan.. ia sangat cantik.. bahkan saat dahinya berkerut seperti itu, andai saja tidak ada meja yang membatasi kami, aku pasti sudah lompat dan menggendongnya ke kamar. Apa sesusah itu memutuskan untuk menjadi pacarku atau tidak? Padahal Danny sudah bilang kalau ia suka padaku, lantas apa yang membuatnya ragu-ragu? Tiba-tiba Kei terdiam menatap mataku, “Oke, aku mau jadi pacar kamu” jawabannya membuatku tersenyum lebar, “Tapi dengan satu syarat” lanjutnya, “Gak ada orang di kantor kamu yang boleh tau hubungan ini” ia menatapku tajam. “Kalau anggota band?”, “Kalo mereka.. boleh, toh aku gak bisa nyembunyiin apa-apa dari mereka” ia menggedikkan bahunya, sementara aku manggut-manggut.

“Jadi..? Kita bisa mulai ronde kedua?” aku tersenyum jahil, sementara wajahnya mulai memerah mendengar kata-kataku barusan, Kei berdehem “Nggak sekarang juga kali.. aku mesti ke café nanti siang, gantiin penyanyi yang gak bisa tampil hari ini” ia kembali fokus pada makanannya, aku tersenyum melihatnya menahan malu. “Oke, kalau gitu aku tungguin di café ya?”, “Emang kamu gak kerja hari ini?” ia menatapku bingung, “Nggak, kantorku lagi di renovasi, jadi sementara kerja dari rumah dulu”, “Ooh, yaudah. Abis ini mandi ya, aku mau siap-siap di kamar dulu” ia beranjak membawa piring kosong milikku dan miliknya ke wastafel, “Kenapa nggak siap-siap disini?” aku bersender di samping wastafel, “Baju, makeup, sepatu, semuanya ada di kamarku, mana bisa siap-siap disini?” ia fokus mencuci piring.

“Kalau semuanya dibawa kesini gimana?” aku memeluknya dari belakang, “Ribet tau, kamu pikir perlengkapan aku sedikit?”, “Maksudku, kamu pindah ke sini, ke apartemenku” aku mengecup pundaknya yang terbuka, tiba-tiba ia berhenti membilas piring dan berbalik menatapku, “wow wow wow.. slow down cowboy, ga secepat itu Raven.. lagi pula tempat kita seberangan, buat apa aku pindah kesini kalo cuma beberapa langkah aja sampe?” Kei meletakkan telapak tangannya yang dingin di dadaku. “Jadi kalau kita pindah ke tempat yang agak jauh kamu mau?” aku menarik pinggang Kei mendekat.

“Maksudnya?”, “Ya aku sih punya rumah di daerah Kemang, kalau kamu mau kita bisa pindah ke sana” aku tersenyum meyakinkannya, ia menghela nafas “Kan udah aku bilang, ga bisa secepat itu Raven..”, “I’m 28, and i’m not getting younger. Aku mau serius sama kamu Kei..” aku menatapnya dengan mata memelas. Ia terdiam dan menatap kakinya, “Aku bakal coba.. tapi kalo sewaktu-waktu aku mau pindah ke apartemenku lagi, kamu gak boleh ngelarang aku ya?” ia menatap mataku dalam-dalam, aku tersenyum dan mengelus kepalanya, “Iya.. aku janji” aku menautkan jari kelingkingku dengan jari mungilnya.“Yaudah, aku mau ke seberang dulu, nanti aku kesini lagi kamu udah siap, oke?” ia mengambil tissue untuk mengeringkan tangannya, aku hanya mengangguk dan tersenyum selagi melihatnya pergi meninggalkan apartemenku. “Satu tahap lagi yang terlewati ya?” Danny mengagetkanku dengan wujud arwahnya, aku menghela nafas “Yah... satu tahap lagi sebelum peristiwa menyakitkan itu terulang kembali” aku berjalan menuju kamar, “Kau harus menyelesaikan tugasmu sebelum ‘hal itu’ terjadi. Kau tau kan?”, “Ya.. aku tau.. sangat tau..” aku menatap kosong ke arah kasurku yang berantakan.

__________________________________________________________
Kei meletakkan boks terakhir yang ia angkut dari truk, ia memandangi rumah megah yang ada dihadapannya, rumah yang akan ia tinggali dengan Raven. Satu minggu setelah mendiskusikan dan merencanakan kepindahan mereka, Kei mulai mengepak barang-barangnya dan mengurus kepindahan dari apartemennya, dan satu minggu berikutnya ia habiskan untuk membersihkan rumah baru mereka. Sementara Raven telah menyuruh orang-orangnya untuk merapikan barang-barangnya dari apartemen yang baru seumur jagung ia tinggali itu, karena kesibukannya sebagai Watchers dan juga CEO, Raven tentu tidak memiliki waktu untuk mengurusi hal-hal semacam itu. Dikarenakan benda-benda khusus Watchers tidak boleh disentuh oleh manusia, barang-barang Raven tentu saja ditangani oleh junior-junior Watchersnya. Sebagai Watchers pertama, Raven memiliki privillage untuk mengendalikan juniornya tanpa bantahan atau tentangan dari siapapun selama perintah tersebut tidak bertentangan dengan kode etik dan perintah Louvin.

Selagi membongkar barang-barangnya, Kei melihat ruangan yang akan menjadi kamarnya dengan Raven, ruangan megah itu telah tertata rapi oleh barang-barang Raven yang sudah lebih dulu sampai. Kasur, sofa, lemari, dan berbagai fasilitas di dalam rumah itu terasa seperti hotel bintang lima bagi Kei, ‘Tentu saja. Raven adalah seorang CEO, mana mungkin rumahnya tidak seperti hotel bintang lima’ batin Kei, tiba-tiba terdengar bunyi bel menggema diseluruh rumah, Kei segera bergegas membukakan pintu depan. Sesosok gadis dengan penampilan seperti anak umur 15 tahun muncul di hadapan Kei, Kei yang bingung berusaha bersikap ramah walaupun ia sudah sangat lelah karena beres-beres.

“Nyari siapa ya?” Kei menatap gadis yang setinggi dagunya itu, gadis itu malah menatap Kei dengan bingung, “Ini bukannya rumah kak Raven?” ia menjulurkan kepalanya melihat isi rumah, “Iya ini rumahnya Raven, saya pacarnya. Ada perlu apa ya nyari Raven?”, “Ooh.. kamu pacarnya..” gadis itu manggut-manggut dengan senyum mengejek sembari menerobos masuk, “Ternyata pertunjukkannya bakal segera dimulai ya..” gadis itu menggumam pelan. Kei yang mulai kesal dengan tingkah gadis itu mulai menunjukkan rasa tak sukanya, “Ravennya lagi gak ada, dan saya gak boleh biarin orang sembarangan masuk ke rumah. Jadi kalo ada yang mau disampaikan ke Raven, kamu bisa kasih tau saya” Kei menahan pergelangan tangan gadis itu yang mulai berkeliaran masuk ke dapur.

Gadis itu menengok ke arah Kei dengan senyum mengembang, “Oh gitu ya? Oke deh. Saya punya 2 pesan, jadi tolong diingat. Pesan pertama sekaligus peringatan untuk kamu, jangan sampai kamu masuk ke kamar di ujung lorong lantai 2. Pesan kedua untuk kak Raven, sampaikan ke dia persis seperti yang saya sampaikan ke kamu” suasana di dalam rumah tiba-tiba berubah mencekam selagi gadis itu menyampaikan pesan, Kei terdiam menyadari sekelebat aura hitam perlahan keluar dari tubuh gadis itu. “Bilang aja pesan ini dari Tammy” gadis itu berjalan keluar rumah dengan wajah sumringah, “Tunggu!” Kei mencekal tangan Tammy, “Apa hubungan kamu dan Raven?”, “Saya?” Tammy menunjuk dirinya sendiri, Kei terdiam menahan kesal, “Saya adik Raven, yang ke-10” Tammy tersenyum dan melepaskan tangannya dari cengkraman tangan Kei yang mulai mengendur. Kei terdiam dan tersadar, selama ini ia tidak tau apa pun tentang keluarga Raven.
__________________________________________________________



RAVEN
Danny tiba-tiba menegakkan duduknya beberapa meter sebelum mobilku mencapai rumah, “Ada seseorang yang baru saja pergi dari rumahmu”, “Siapa? Seseorang yang kau kenal?” aku menghentikan mobil dibawah pohon dekat rumah, Danny menggeleng “Bukan manusia”. Aku tercekat dan segera memarkirkan mobil di garasi, kemudian berlari masuk ke dalam rumah, “Keii!” aku berteriak memanggil Kei dari lantai bawah namun tak ada sahutan sama sekali. Ketika naik ke lantai 2 kulihat Kei tergeletak di kasur, aku segera mengecek tanda-tanda vitalnya, dan ternyata Kei sedang tertidur. Aku menghela nafas lega, aku sempat berpikir yang tidak-tidak saat Danny bilang yang berkunjung ke rumah kami bukan manusia, bisa saja mahluk itu menyakiti Kei.

“Udah pulang?” suara Kei dari kamar mengejutkanku yang sedang berganti baju di ruangan baju, “Iya, baru aja” aku menghampirinya dan duduk di kasur, “Capek ya?” aku mengelus kepalanya, ia mengangguk dalam diam, “Tadi ada yang ke sini nggak?” aku memancingnya untuk memberi informasi. “Ada.. katanya adik kamu” Kei terduduk dan melemaskan lehernya, “Adik? Orangnya kaya gimana?”, “Cewek, kaya anak kecil gitu, kayanya sih masih ABG. Kalo nggak salah namanya Tammy” Kei berdiri menuju kamar mandi, sementara aku terdiam. Kenapa ia datang secepat ini? Bahkan aku dan Kei baru saja pindah rumah, kenapa Louvin tidak bisa membiarkan kami tenang untuk sejenak saja?

“Oh iya, tadi dia nitip pesan buat kamu, katanya ‘Permukaan yang tenang bisa jadi sangat dalam dan berbahaya. Pada bulan purnama ke 10, ia akan diadili’, udah gitu doang” Kei keluar dari kamar mandi dan duduk di sampingku, teka-teki yang agak rumit kali ini. Biasanya Tammy memberikan pesan yang berisi petunjuk tentang bagaimana dan kapan bencana yang memisahkanku dengan Kei akan terjadi. Bulan purnama ke-10 sudah jelas bagiku, itu berarti aku memiliki waktu 5 bulan bersama Kei sebelum bencana itu terjadi, tapi.. permukaan yang tenang? Apa maksudnya? Apakah permukaan datar? Permukaan yang stabil? Permukaan yang tidak bergerak? Tapi permukaannya bisa jadi sangat dalam? Pasir? Tidak mungkin.. bencana pasir sudah pernah terjadi saat aku berada di Mesir dengan wujud Kei 1 abad yang lalu.

“Hei.. are you okay?” Kei memegang dahiku, aku terkejut dan mengangguk sembari tersenyum, “Oh iya.. kamu belom pernah cerita apa-apa ke aku tentang keluarga kamu kan?” pertanyaan tiba-tiba dari Kei membuatku sedikit salah tingkah, padahal aku sudah berkali-kali mengalami kejadian seperti ini, tapi pertanyaan itu tetap saja membuatku gugup. “O-oh.. aku belum cerita ya?” aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal, sementara Kei mengangguk dan menatapku dengan antusias, “Jadi... apa yang pengen kamu tau tentang keluarga aku?”, “Pertama nama orangtua dan kondisi mereka sekarang”, “Papaku Lord Gavin Denzell Carrington, mamaku Lady Sabrina Ruby Carrington. Orangtuaku dua-duanya udah meninggal 5 tahun yang lalu”, “Sorry.. aku gak maksud..” Kei tampak menyesal telah menanyakan kondisi ‘orangtua’ku, “Nggak apa-apa... udah lama juga kok” aku tersenyum dan mengelus kepalanya. “Mau nanya apa lagi?”, “Mmm.. kamu anak ke berapa? Punya berapa saudara?”, “Aku anak ke 2, saudaraku ada 12 orang”, Kei melongo menatapku dengan mata besarnya, sementara aku hanya tertawa kecil.


KEI
12 saudara?! Itu keluarga atau kesebelasan sepak bola? Kulihat Raven tertawa kecil melihatku yang sedang melongo, “Kok banyak banget? Orangtua kamu nikah muda ya?”, “Nggak juga, mereka nikah waktu mereka umur 30an, 9 saudaraku dari yang ke 4 sampai yang terakhir itu anak adopsi”, “Sekarang mereka semua ada dimana?”, “Ada yang jadi dokter, pilot, guru, macem-macem sih, kakakku yang pertama jadi pewaris perusahaan utama papa, sementara adikku jadi wakilnya, dan adik-adik angkatku berpencar di beberapa kota di UK karena profesi mereka masing-masing”, “Mulia banget ya orangtua kamu, ngangkat anak segitu banyak”, “Iya, mereka emang suka sama anak-anak” Raven tersenyum dan berdiri menuju pintu keluar, “Mau kemana?”, “Kamu nggak laper? Aku tadi beli makanan buat makan malem, ayo turun, kita makan bareng” ia tersenyum dari anak tangga, dan aku segera berlari dan menerjang punggungnya untuk digendong.

Malam itu kami makan malam seperti biasa, namun kali ini ada yang mengganjal perasaanku. Tadi Tammy bilang aku tidak boleh masuk ke dalam kamar yang ada di ujung lorong lantai 2, memangnya ada apa di dalam kamar itu? Dan kenapa ia bisa memberikan peringatan seperti itu? Apa isi kamar itu sangat berbahaya? Atau ada sesuatu yang Raven sembunyikan dariku? Aku menatap Raven yang sedang sibuk dengan tabnya di meja makan, kurasa pekerjaannya begitu banyak hingga ia harus mengerjakannya di meja makan. “Raven..”, “Hm?” ia mengunyah makanannya sembari fokus pada tabnya, “Aku boleh tanya sesuatu?”, “Hm.. tanya aja” ia tetap tidak menatap ke arah mataku. “Di kamar yang di ujung lorong lantai 2 itu ada apa sih? Kok dikunci?”, kulihat raut wajah Raven berubah menjadi pucat, namun tampaknya ia berusaha mengendalikan wajah terkejutnya.

“Di kamar itu.. ada barang peninggalan mama dan papaku, juga barang-barang antik yang disimpen sama orangtuaku” Raven tersenyum menatapku dan kemudian melanjutkan makannya, “Kenapa kamu yang simpen?”, “Barang-barang antiknya?” ia bertanya balik, aku mengangguk. “Entah. Udah tertulis di surat wasiat kalau aku yang harus jaga barang-barang itu” ia menggedikkan bahunya. Tiba-tiba bel rumah berbunyi dan aku segera membukakan pintu, seorang pria jangkung dengan rambut merah maroon dan berkacamata berdiri dihadapanku, parasnya sangat tampan dan ia memiliki aura badboys bagiku. “Nyari siapa ya?” aku menelitinya dari kepala sampai kaki, ia tersenyum melihatku yang penasaran, “Raven ada? Saya adiknya”, “Ooh, tunggu sebentar ya” aku berbalik dan memanggil Raven yang sedang membereskan piring.

“Ada yang nyari kamu tuh di depan” aku mengambil alih pekerjaannya yang sedang membereskan piring selagi ia berjalan keruang tamu. Aku diam-diam mengintip mereka yang sedang berbincang diruang tamu, pembicaraan mereka tampak serius karena aku melihat raut wajah Raven yang khawatir. Tiba-tiba mereka berdiri dan menuju ke arahku, aku terkejut dan langsung berlari untuk duduk di sofa, mau di taruh dimana mukaku kalau aku ketahuan menguping. “Kei, bisa kesini sebentar?” suara Raven mengejutkanku yang sedang mengatur nafas, aku menengok ke belakang sofa dan mendapati mereka berdua berdiri di belakangku, “Aku mau ngenalin kamu ke adikku, namanya Ares” Raven melirik Ares sementara aku menjabat tangannya.

__________________________________________________________
Raut wajah Kei menjadi sedikit aneh saat menjabat tangan Ares, lagi-lagi Kei gagal merasakan aura manusia normal seperti saat pertama kali ia bertemu dengan Raven di Bali, tiba-tiba jabat tangan mereka terputus karena Danny menerjang Ares dan menjilati wajahnya, Ares tertawa dan menepuk-nepuk pelan kepala Danny selagi berusaha bangun. “Kalo gitu kita ke ruang kerja dulu ya Kei” Raven menepuk pelan pundak Ares dan mereka masuk ke ruang kerja Raven. Kei terdiam memikirkan kejanggalan demi kejanggalan yang ia rasakan baru-baru ini selagi ia mencuci piring, ia merasa terlalu banyak hal yang Raven sembunyikan darinya.

“Gadis itu punya kemampuan spiritual ya?” Ares mengerutkan dahinya menatap ke arah Raven selagi Raven membuka pintu di dalam ruang kerjanya yang terhubung dengan ruangan khusus di ujung lorong lantai 2. “Dia masuk ke pikiranmu ya?” Raven menengok sekilas, Ares mengangguk “It was a close call, aku sempat membaca pikirannya, dan ia langsung curiga kalau aku bukan mortal. Untung saja Danny cepat merespon perintahku”, Raven mengambil buku khusus milik Watchers dari rak bukunya, “Untungnya Louvin memasang pelindung pada isi pikiranku, kalau tidak Kei pasti sudah melarikan diri dariku”. Ares duduk di sofa sementara Raven mempersiapkan keberangkatan mereka menuju dunia asal mereka “Oh iya, kita harus kemana tadi?” Raven membolak balik halaman buku yang ia pegang untuk mencari kata kunci pembuka portal, “Langsung ke rumah Louvin saja, kita sudah ditunggu oleh Nyx disana".

Ares memandangi mentornya yang sedang serius membaca buku keramat itu “Kau cukup beruntung bisa menjadi orang kepercayaan Louvin dan mendapat beberapa keistimewaan sekaligus” Ares menghela nafas, Raven tertawa kecil dan mendengus, “Kalau yang kau maksud dengan keistimewaan adalah dihukum berkali-kali dan selalu dimarahi, maka kau benar”, “Tidak Raven... kurasa kau tidak tau betapa berharganya kau dimata Louvin”, “Pfft, what a bullsh*t. Kalau aku begitu berharga dimatanya, kenapa ia terus menerus menghukum dan menyiksaku hanya karena aku mencintai Kei?” Raven tersenyum sinis selagi bersiap membaca kata kunci untuk membuka portal menuju dunia mereka.

Setelah Raven menulis huruf Ibrani kuno pada tembok di ruangan itu dan membacanya, muncul portal berwarna putih dengan cahaya terang yang bersinar dari dalamnya, mereka segera melangkah masuk dan berubah menjadi wujud asli mereka, yang berupa manusia dengan tinggi 12 kaki dan rambut berwarna putih kepirangan. Pada wujud aslinya, Watchers memakai setelan serba putih dan tato khusus berwarna hitam di tengkuk mereka yang berbentuk sehelai bulu, tato tersebut sudah ada sejak mereka tercipta.

Watchers adalah perwujudan dari sehelai bulu yang jatuh dari sayap malaikat putih. Louvin yang merupakan pemimpin mereka, adalah helai bulu pertama yang jatuh dari sayap kanan malaikat Gabriel, karena ukuran malaikat sangat besar maka sehelai bulu sayap mereka pun juga besar, panjang sehelai bulu sayap malaikat kurang lebih 13 kaki. Watchers tidak mengalami proses pertumbuhan seperti manusia, mereka muncul dengan wujud yang mereka gunakan sampai saat ini, kecuali saat mereka masuk ke dunia manusia mereka dapat merubah fitur wajah mereka, sementara bentuk fisik dasar, umur, dan latar belakang sudah ditentukan oleh Watchers yang bertugas mengatur penempatan mereka di dunia manusia.
__________________________________________________________


KEI
Selagi aku menonton TV dengan pikiran yang mengembara bersama Danny, aku merasa ada yang aku lupakan dari tadi, apa ya? Hm... Oh iya! Aku belum menyuguhi minuman pada Ares! Aku segera membuatkan kopi dan membawanya ke ruang kerja Raven di lantai 2, kuharap aku tidak mengganggu mereka. Aku mengetuk pelan pintu ruangan kerja Raven, namun tak ada jawaban dari dalam, dan saat kubuka pintunya kulihat ruangan dalam keadaan kosong. Aku meletakkan nampan yang berisi 2 cangkir kopi dan sepiring buah di atas meja kerja Raven, alisku bertaut karena mereka tiba-tiba menghilang seperti ditelan bumi, “Raveenn?” aku memanggil namanya selagi mencarinya ke penjuru ruangan, namun hasilnya nihil. Aku baru menyadari kalau ada pintu di dalam ruangan Raven yang sedikit terbuka dan sepertinya mengarah ke ruangan lain.

Aku membuka pintu itu dan masuk ke dalam sebuah ruangan yang agak aneh, ruangan serba putih dengan rak buku yang berisi buku berwarna putih, ada beberapa senjata kuno yang memiliki ukiran-ukiran aneh yang disimpan dalam kotak kaca, serta ada sebuah tulisan yang tak lazim pada salah satu dinding di ruangan itu. Sepertinya aku pernah membaca tulisan itu? Kalau perkiraanku tidak salah itu adalah bahasa Ibrani kuno, kakekku adalah penganut fanatik agama Yahudi, ia pernah mengajariku beberapa bahasa Ibrani kuno dari kitabnya saat aku masih kecil, aku berusaha membaca tulisan itu sepatah demi sepatah, dan saat kugabungkan, tulisan pada dinding itu berbunyi ‘Dan kalianlah penunjuk jalan bagi anak-anak Adam, yang menjaga dan melindungi mereka atas perintah-Nya’.

Setelah aku membaca tulisan itu dalam bahasa Ibrani kuno, tiba-tiba saja cahaya terang dan menyilaukan muncul dari dinding di hadapanku, jantungku berdegup kencang melihat fenomena asing terjadi di hadapanku, aku perlahan melangkah mendekati cahaya putih itu. Saat cahaya itu menyentuh tanganku, tubuhku terasa ringan dan bebas, aku melihat tanganku berubah menjadi transparan, begitu pula kondisi tubuhku yang melayang-layang seperti arwah, dan saat aku berbalik, aku dapat melihat tubuh asliku tergeletak di depan portal aneh ini.

Tunggu dulu? Apa aku sudah mati?! Aku segera keluar dari portal cahaya itu untuk mendekati tubuhku yang tergeletak selagi mengamatinya dengan bingung, terasa seperti mimpi namun di satu sisi terasa begitu nyata. Aku menyentuh wajahku yang sedang tak sadarkan diri dengan penasaran, dan tiba-tiba aku merasa tersedot masuk dan kemudian terbangun dalam tubuhku yang biasanya. Aneh.. sepertinya tadi aku merasa menjadi arwah? Apakah ini efek dari portal cahaya itu? Aku memandangi portal cahaya yang masih menyala sedari tadi, aku kembali merangkak mendekati portal itu dan duduk di depannya, dan saat aku menyentuh cahaya di portal itu dengan tanganku, aku kembali menjadi arwah.

Kurasa ini adalah pengalamanku yang paling aneh dan terlalu absurd untuk dijelaskan, tapi ini berarti aku belum mati, dan aku bisa kembali ke wujud manusiaku, kalau begitu aku bisa mulai masuk ke dalam portal ini seutuhnya, karena sejak tadi aku penasaran dengan apa yang ada dibalik portal ini. Ketika aku berjalan masuk, ah.. tidak.. kurasa lebih tepatnya melayang masuk ke dalam portal itu, aku melihat pemandangan yang sangat menakjubkan.

__________________________________________________________

TO BE CONTINUE
__________________________________________________________

Cerita ini hanya fiktif belaka guna memenuhi tugas.
Beberapa hal yang di paparkan dalam cerita tidak sepenuhnya fakta, melainkan imajinasi dan subjektivitas penulis.
Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, hal tersebut adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.

©DinaAuliaLee