Senin, 04 September 2017

SAMSARA

PART V


RAVEN

“Ehem..” kudengar suara Ares dari depan pintu kamar yang terbuka, “Ada apa?” aku menengok ke arah Ares yang sedang tersenyum jahil, “Jadi kalian sudah baikan?”, aku tersenyum dan menengok ke arah Kei yang sedang tersenyum dengan wajah merona. “Kenapa penampilanmu seperti itu?” Ares mengerutkan alisnya, “Jangan bilang kau...”, “Ya, aku sudah memberitahu Kei semuanya” aku mengelus rambut Kei yang masih memelukku erat. Ares terdiam sejenak, dan tak lama kemudian ia berubah ke wujud aslinya, “Kalau begitu bawalah Kei ke ruang tengah, kita harus mendikusikan sesuatu” Ares tersenyum dan pergi menuju ruang tengah.


“Ayo kita keluar” aku menggandeng tangan Kei dan ia mengekoriku, Electra yang melihat wujud asliku dan Ares tiba-tiba mengerutkan alisnya, “Kenapa kalian...”, belum sempat Electra melanjutkan kalimatnya, Ares tiba-tiba membisiki Electra yang membuat Electra manggut-manggut sembari membulatkan bibirnya. Setelah berubah ke wujud aslinya, Electra dan Ares duduk di sofa, sementara aku duduk di samping Kei berseberangan dengan mereka. Kulihat Kei menatap Electra lekat-lekat dengan mata berbinar, harus kuakui wujud asli Electra memang sangat cantik, dengan gaun panjang putih dan matanya yang sebiru langit, tak lupa juga rambut panjang putih kepirangannya yang begitu berkilau, dan ada satu lagi ke-khas-an Electra, ia memiliki daun telinga yang panjang dan runcing ke atas seperti peri di cerita dongeng.

Tak jauh berbeda dengan Electra, wujud asli Ares pun memiliki wajah yang rupawan dan ke-khas-an yang sama dengan adiknya, kalau manusia dapat melihat wujud asli Ares dan Electra, mungkin manusia akan mengira mereka adalah Legolas dan Galadriel dari Lord of The Ring. Kerupawanan mereka tidak-lain-dan-tidak-bukan adalah hasil bentukan malaikat Zaphiel, mereka berdua jatuh dari sayap kiri dan kanan malaikat Zaphiel pada waktu yang hampir bersamaan. Karena malaikat Zaphiel merupakan malaikat keindahan dan kecantikan, maka Ares dan Electra dibentuk menjadi sosok yang rupawan olehnya.

“Jadi berdasarkan laporan dari arwah pendampingku, Watchers suruhan Louvin baru saja selesai menggeledah kantormu. Sepertinya mereka masih tertinggal satu langkah dari posisi kita” Ares menatapku dengan yakin, “Berapa orang yang sedang melacak kita saat ini?” aku menatap Ares dengan cemas, “Sekitar 15 orang, mereka dipimpin oleh Helena dan Tristan”, “Dua kembar penggila perang itu?” Electra menatap Ares tak percaya, sementara Ares mengangguk. “Tentu saja mereka yang memimpin, mereka berdua memiliki radar yang hebat. Terlebih lagi mereka adalah murid terbaik dan tangan kiri Louvin” aku menghela nafas selagi bersender di sofa.

Aku tak percaya kali ini Louvin mengerahkan murid terbaiknya untuk mencari Kei dan aku, tidak mudah menghindari Helena dan Tristan, mengingat mereka berdua lumayan kuat dan cerdas. Walaupun aku tangan kanan Louvin dan memiliki beberapa kekuatan sekaligus, aku tidak akan bisa mengalahkan mereka berdua dengan kekuatanku sendiri, terlebih aku tidak ingin menyeret Ares dan Electra ke dalam persoalan ini, kalau sampai murid-muridku terluka karena aku... aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri... “Raven... kamu nggak apa-apa?” Kei mengelus lenganku selagi aku memejamkan mata, “Jangan khawatir Raven, kami akan berjuang bersamamu” Ares dan Electra tersenyum meyakinkanku, sementara aku hanya tersenyum tipis.

__________________________________________________________
“Beristirahatlah kak, malam ini aku yang akan berjaga lebih dulu” Electra menepuk lembut bahu Raven, sementara Raven hanya tersenyum dan mengangguk, Kei mengamati Raven yang sedang menajamkan pedangnya. Raven mungkin terlihat tegar dan dingin dari luar, tapi Kei tau lelaki itu sedang dilanda kegelisahan yang luar biasa, Kei dapat melihat mata Raven menyiratkan kelelahan dan kecemasan. Kei menghampiri Raven yang sedang duduk bersila di lantai sembari mengasah pedangnya, tiba-tiba Kei menghentikan tangan Raven dan mengangkatnya agar ia bisa masuk, duduk di pangkuan Raven, dan memeluknya. Raven yang masih bingung dengan kelakuan wanitanya ini hanya terdiam selagi memangku Kei yang tengah memeluknya.

“Aku tau kamu khawatir dan capek, aku pengen banget ngurangin beban pikiranmu, tapi aku rasa cuma ini yang bisa aku lakuin” Kei memeluk Raven kian erat, Raven tertawa kecil, ia berpikir tentang sejak kapan Kei bisa membaca pikirannya, “Makasih ya Kei... ini udah lebih dari cukup buat ngurangin beban pikiranku” ia mencium pundak Kei dan memeluk perempuan itu dengan hangat, “Sama-sama” Kei tersenyum dalam pelukan Raven. “Tidur yuk, kamu pasti capek kan?” Raven mengusap rambut Kei, ia tersenyum dan mengangguk. “Kamu gak mau turun?” Raven yang hendak bangun bingung dengan Kei yang tak juga melepas pelukannya, “Nggak mau” Kei menggeleng, “Jadi kamu maunya digendong sampe kasur?”, Kei mengangguk dan terkekeh.

Raven tertawa kemudian menggendong wanita kesayangannya itu ke atas kasur, kemudian menghujaninya dengan ciuman hingga Kei tertawa geli dengan semua ciuman itu. Tiba-tiba mata mereka bertemu, mereka terdiam dengan senyum yang masih mengembang, “Aku ke kamar mandi sebentar ya” Raven tersenyum dan mengecup kening Kei. Sesaat setelah Raven selesai menggosok gigi dan mencuci wajahnya, ia merasakan sekelebat angin dingin menjalari punggungnya, “Kei.. cuci muka dulu sa...” Raven mematung saat ia keluar dari kamar mandi, sesosok pria dengan rambut hitam kuncir kuda tengah mencekik Kei hingga Kei meronta-ronta di udara, Kei memukuli tangan pria itu selagi berusaha mengembalikan oksigen yang mulai menipis dari paru-parunya.

“Lepaskan Kei sekarang!” Raven menodongkan pedang panjangnya ke leher pria itu, “Atau apa? Kau akan membunuhku?” pria itu menyeringai mengejek ancaman Raven, “Kalau aku harus.. aku akan membunuhmu” Raven menekan pedangnya hingga menggores leher pria itu selagi menatapnya dengan keinginan membunuh yang kuat. Pria itu menjatuhkan Kei di atas kasur selagi Kei terbatuk dan menghirup oksigen sebanyak yang ia bisa, Raven berdiri memunggungi Kei untuk melindunginya dari pria itu, “Kau tau kan kau tidak bisa benar-benar membunuhku?” pria itu terkekeh karena kebodohan Raven.

“Bagaimana kau menemukan kami” Raven mengacungkan pedangnya ke wajah pria itu, “Well.. anggap saja aku menggunakan koneksiku” pria itu tersenyum mengejek Raven. “Kau tak berhak membunuh Kei! Ini belum waktunya bagi kami untuk berpisah!”, “Cepat atau lambat mortal itu akan mati karenamu, jadi apa bedanya sekarang atau 4 bulan lagi? Dia akan tetap mati dan kau akan tetap dihukum”, “Itu bukan keputusanmu!” Raven membentak pria itu dengan amarah. “Itu memang bukan keputusan Tristan, tapi itu adalah keputusanku” suara seseorang yang tak disangka-sangka oleh Raven terdengar dari ambang pintu, “L..Louvin..” Raven mematung melihat sosok Louvin muncul di hadapannya, “Halo. Sudah lama ya kita tidak bertemu” Louvin tersenyum dan melambaikan tangannya seakan-akan mereka sedang reuni.
__________________________________________________________

KEI

Rasa panas, perih, nyeri, dan ngilu, bercampur jadi satu di leherku, belum pernah aku merasakan cekikan sekuat itu seumur hidupku, aku sempat berpikir kalau aku akan mati tadi. Saat aku menengok ke arah meja rias, leherku berubah warna menjadi merah keunguan, selagi aku menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, air mataku menetes karena sakit yang kurasakan saat udara melewati bagian kerongkonganku. “Kau tak apa-apa?” Danny menghampiriku, aku menggeleng, dan menunjukkan leherku padanya, bahkan untuk mengeluarkan suara saja leherku terasa benar-benar sakit, tiba-tiba Danny mendekatkan tangannya ke arah leherku, “Aku bisa meringankan sakitnya, jadi jangan banyak bergerak sekarang”. Aku merasakan aura hangat keluar dari tangannya yang semi-transparan itu, dan rasa sakit di leherku tiba-tiba berkurang drastis.

“Aku tau mortal dibelakangmu itu melewati portal dan memasuki dunia kita Raven”, aku mendengar suara familiar seorang pria dari balik tubuh Raven yang sedang menyinggungku dalam percakapan mereka, perlahan aku mengintip dari balik tubuh Raven. “Kau tidak boleh menghukumnya Louvin, dia masuk ke sana karena kecerobohanku jadi hukumlah aku” ujar Raven mantap, “Ck ck ck.. peraturan tetap peraturan Raven, kau tidak akan bisa lolos dari yang satu ini” Louvin menggelengkan kepalanya. Seisi rumah mendadak bergetar, aku merasakan getaran yang cukup kuat seperti gempa bumi, dan tiba-tiba sebuah tembok tanah besar muncul dari lantai menutupi sebagian ruangan, “Ayo kita lari sekarang!” Raven mencengkram tanganku dan menggeretku menuju jendela, hanya dengan satu hentakan tangannya ia menjebol tembok rumah dan membuat lubang yang sangat besar.

Saat kami berlari keluar rumah, aku melihat Ares dan Electra sedang berusaha kabur dari orang-orang yang menjagal mereka dengan kekuatan mereka masing-masing, setelah mereka berhasil kabur, Raven memerintahkan kami untuk berpegangan erat padanya, dan dalam sekejap kami telah berada di tempat lain. “A..apa itu tadi?” aku memandangi tempatku berdiri, “Kita baru saja berpindah tempat dari rumah Electra” ujar Ares terengah-engah, “Berpindah tempat?!” aku terbelalak, kulihat Raven melepas salah satu kalungnya, ia mendekatiku dan memakaikan kalung itu di leherku. “Kalung itu berfungsi untuk membuatmu hilang dari radar mereka. Aku, Ares, dan Electra mungkin tidak bisa terlacak, tapi mereka bisa melacakmu dengan mudah, jadi kamu harus terus memakai kalung itu okay?” Raven mengusap kepalaku, aku mengangguk dan memandangi kalung berhiaskan cincin hitam itu.

“Omong-omong kita ada di mana sekarang?” Electra memandangi ladang di sekeliling kami, “Kita sekarang berada di Italia, aku punya save house di sini. Kau lihat rumah itu?” Raven menunjuk sebuah bangunan kuno sekitar beberapa ratus meter dari tempat kami berdiri, “Rumah? Maksudmu kastil itu?” Ares terdengar sinis, “Aku setuju dengan Ares, bangunan itu terlalu besar untuk disebut rumah” aku manggut-manggut setuju, “Yah terserah kalian mau menyebutnya apa. Lebih baik sekarang kita segera masuk ke sana” Raven segera memimpin jalan ke arah kastil itu. “Kau lihat itu Kei?” Ares menunjuk ke arah kastil itu, samar-samar aku dapat melihat kubah transparan yang mengelilingi kastil itu, “Apa? Kubah itu?” aku balik bertanya, Ares mengangguk “Kalau sampai manusia saja dapat melihatnya, berarti barrier yang ada di kastil itu sangat tua dan sangat kuat, aku belum pernah melihat barrier sekuat itu” Ares berdecak kagum.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar