Senin, 27 Maret 2017

SAMSARA

PART I


           KEI

“Aku akan menemukanmu kembali di kehidupanmu selanjutnya, tunggu aku” ia tersenyum dalam kobaran api yang sudah memenuhi ruangan.

Aku terbangun dengan nafas terengah-engah dan tetesan keringat yang sebesar butir-butir jagung, aku menitikkan air mata, entah kenapa rasa sakit di dadaku terasa begitu nyata, padahal itu semua hanya mimpi.

Jam dindingku menunjukkan pukul 5 pagi, kupegangi kepalaku yang pusing karena mimpi si*lan barusan. Sudah beberapa hari ini aku bermimpi tentang laki-laki itu. Laki-laki yang mengucapkan janji akan menemukanku di kehidupanku yang selanjutnya. Awal mimpi itu muncul, aku menganggapnya sebagai bunga tidur semata, dan aku melupakannya begitu saja. Sebulan kemudian mimpi itu muncul lagi, dan frekuensinya semakin sering. Sekarang setiap 2 hari sekali aku pasti bermimpi tentang laki-laki itu.

Kata-kata pria itu selalu sama, “Aku akan menemukanmu kembali di kehidupanmu selanjutnya, tunggu aku”. Tapi anehnya, di dalam mimpiku, tempat ia mengucapkan kata-kata itu berbeda-beda, awalnya pria itu mengucapkan janjinya di tengah laut saat sebuah kapal pesiar karam. Ketika ia tenggelam, pandanganku berubah gelap seketika. Dan mimpi-mimpi selanjutnya memiliki pola yang sama, perang, bencana alam, kecelakaan mobil, dan sebagainya. Sepertinya ia selalu mengucapkan janji itu saat ia hendak meninggal. Aku merasa seolah-olah aku melihat kilas balik kehidupan-kehidupanku yang sebelumnya.

Dan aku selalu terbangun dalam kondisi panik, putus asa, dan sakit hati, seolah-olah aku ini... kekasihnya? Entahlah aku tak tau pasti, seandainya aku mengenal orang itu, aku pasti sudah mencarinya, namun ada satu hal yang mengusikku. Aku tidak pernah bisa melihat dengan jelas rupa pria itu. Hanya senyumnya dan senyumnya saja yang kuingat. Senyum hangat dan tegar itu, bukan jenis senyum yang mudah untuk di lupakan.

Aku menghela nafas dan menggelengkan kepalaku, bukan saatnya aku larut memikirkan mimpi tak jelas itu, saat ini aku harus bangun, mandi, dan bersiap untuk pergi ke bandara untuk menemui teman-teman bandku yang sudah menungguku untuk manggung di Bali.

Terlebih lagi karena aku bukan tipe orang yang percaya hal-hal konyol seperti itu, walaupun aku mewarisi bakat indigo dari Mama, aku tidak percaya dengan konsep kehidupan setelah kematian. Bisa melihat mahluk halus bukan berarti aku percaya akan paham paham mistis yang orang-orang lain percayai, selama aku tidak mengalaminya sendiri, aku tidak akan percaya omong kosong orang-orang itu.

_______________________________________________________
Sudah sekitar 4 tahun sejak Keila Nataschenka Chenobog meninggalkan rumah dan menjadi vokalis band ‘Black Diamond’. Terlahir kaya serta dianugerahi wajah cantik dan body yang aduhai tidak akan pernah menjamin kebahagiaan batin, hidup malah terasa penuh dengan masalah, setidaknya itulah yang Kei rasakan.

Band ‘Black Diamond’ yang beranggotakan 4 orang itu cukup sukses dan stabil, walaupun bukan band yang sangat terkenal, band itu selalu punya kesempatan untuk menjadi pembuka atau penutup di konser-konser band ternama lainnya. Dibawah naungan perusahaan rekaman ternama, mereka mampu meningkatkan skill bermusik mereka setiap harinya, 2 buah album bergenre pop dan jazz lahir dari hasil dari kerja keras mereka selama beberapa tahun belakangan.

Ponsel Kei berdering, nama Kafka muncul sebagai nama pemanggil, “Udah dimana Kei?!” Kei langsung menjauhkan ponsel itu dari telinganya karena teriakan Kafka yang membuat telinganya pengang, “Aduh.. Kalo ngomong gak usah pake toa bisa gak Ka? Ini gue udah di terminal 3, lo dimana?” perempuan itu menyisir terminal 3 dengan pandangannya, mencari sosok jangkung Kafka di antara lautan manusia, “Gue udah di depan gerbang masuk nih. Oh! Gue liat lo!” lambaian tangan Kafka terlihat di depan gerbang masuk, “Oke otw” Kei menenteng ransel beserta gitar ke arah gerbang masuk.

Kafka adalah manager band ‘Black Diamond’, ia memiliki kepribadian yang ceria dan selalu positif, mungkin faktor bawaan orok. Untuk posisi manager, Kafka terbilang cukup muda, ia baru menginjak 24 tahun, tak jauh berbeda dari Kei yang berumur 23 tahun. Walaupun Kei tak pernah mengatakannya di depan Kafka, tapi di dalam hati ia memang mengakui kalau Kafka cukup tampan di bandingkan orang Indonesia rata-rata, perpaduan gen Timur Tengah dan Indonesia memang mampu membuat darah di tubuh perempuan mana pun berdesir.

Di ruang tunggu, anggota band lainnya sudah duduk manis menunggu satu-satunya orang yang jarang on time. “Subhanallah... Lama banget sih lo Keilaaa” Eza menatap Kei dengan gemas, ia menghambur memeluk Eza, “Bang Eza ganteng deh kalo nggak marah-marah” Kei berharap cengirannya itu mampu membuat Eza memaafkannya. Laki-laki 27 tahun itu geleng-geleng kepala melihat tingkah Kei yang tak pernah berubah, selalu ngaret. “Udah lengkap semua kan? Ayo boarding” Zen–leader sekaligus drummer yang umurnya paling tua di antara anggota lainnya--mengangkat tasnya dan mengantri untuk masuk ke dalam pesawat.

Sesampainya di Bali, band itu segera check in di hotel dan pergi untuk gladi resik di sore harinya. Saat pembagian kamar, Kei kedapatan berbagi kamar dengan Bima, ‘Yes! Bareng bang Bim’ batin Kei. Hubungan dekat mereka sering di salah artikan dengan hubungan asmara, padahal Kei hanya menganggap Bima sebagai kakaknya, begitu pula Bima yang menganggap Kei sebagai adik perempuannya. Maklum, hati mereka berada di satu frekuensi yang sama dan mereka merasa lebih cocok untuk berteman dari pada berpacaran. Bima yang lebih tua 2 tahun di banding Kei, sering bertukar cerita dan berbagi saran dengan Kei, mereka juga sering membuat lagu bersama.

Bagi Kei, terlahir dengan ‘resting bitch face’ adalah kutukan sosial. Kata-kata jutek, galak, dan sombong sudah sangat akrab di telinga Kei, bahkan wajahnya sempat membawa bencana bagi Kei semasa SMA. Walaupun kelihatan galak, Kei sebenarnya orang yang sangat baik dan supel, karena itu Kei punya banyak teman laki-laki semasa SMA, namun siswi di sekolahnya tak berani mendekatinya karena ia kelihatan jutek dan bitchy, bahkan mereka sempat menggunjingkan hal-hal yang jahat tentang Kei karena ia punya banyak teman laki-laki.

Biasanya saat Kei menatap mereka dengan wajah datar, mereka sudah grogi duluan, padahal bicara saja belum. Mereka menghindari Kei seolah-olah Kei itu semacam debt. collector atau sejenisnya. Atau kalau mereka tidak grogi, biasanya mereka pikir Kei adalah anak songong yang suka cari ribut. Pernah juga Kei dianggap marah, padahal ia sedang melontarkan jokes. Tentu saja hal itu disebabkan oleh wajahnya yang terlihat tidak ramah.

Pewaris wajah itu tentu saja adalah Papa Kei, Dimitri Chenobog adalah pensiunan angkatan darat Rusia, yang wajahnya memang sudah seram dari sananya. Kei sering kali berharap kalau ia mewarisi wajah lembut Mamanya seperti kakaknya Sasha, ia merasa hidupnya pasti akan terasa lebih mudah. Walaupun Sasha laki-laki, ia memiliki paras yang lembut dan kalem, tipe-tipe wajah seperti Ari Wibowo yang di sukai oleh perempuan. Waktu Kei mendapatkan job di luar kota seperti sekarang, ia jadi lebih sering homesick, ia kangen Mama dan kakaknya. 

Tapi tidak dengan Papanya, ia lah yang mendepak Kei keluar dari rumah setelah Kei menolak mentah-mentah perintah Papanya untuk meneruskan perusahaan percetakan Chenobog di Rusia. Ia merasa Papanya tidak adil pada dirinya, karena kakaknya boleh mengejar cita-citanya menjadi dokter, sementara Kei harus terjebak di hawa dingin Rusia dan menjalankan perusahaan percetakan yang tua itu, ia juga tidak diperbolehkan menjadi musisi yang sudah menjadi cita-citanya dari dulu.
_______________________________________________________

KEI
Setelah selesai makan malam di hotel, tiba-tiba saja aku mendengar suara laki-laki itu. suara familiar laki-laki yang ada di dalam mimpiku itu. Tanpa sadar aku segera mengikuti suara itu yang memanduku ke suatu tempat, dan suara itu tiba-tiba terhenti karena aku tak sengaja menabrak seorang laki-laki tinggi berparas khas orang Eropa dengan hidung mancung bermata biru, “I’m sorry, are you okay?” aku menggaruk kepalaku dengan canggung, “Saya nggak apa-apa” ia tersenyum, untuk sesaat aku terkejut karena ia fasih berbahasa Indonesia. Tapi yang membuatku lebih terkejut lagi adalah, aku seperti mengenali senyum itu, entah kenapa senyum itu seperti senyum yang telah lama ku dambakan.

Ia pergi melewatiku begitu saja setelah tersenyum, aku memandangi punggungnya yang pergi menjauh ke meja seseorang, dan lagi-lagi aku terpaku karena melihatnya duduk di meja tempat anak-anak band berkumpul dan merokok. Aku menghentikan Kafka yang hendak pergi ke toilet, “Eh, Ka, itu orang yang baru gabung siapa?” aku tak bisa berhenti memandang ke arah laki-laki yang sedang tertawa itu. “Ooh.. itu kan CEO perusahaan rekaman kita, masa lo gak tau?” ia memandangku yang sedang menggeleng, “Eh gue udah kebelet nih, nanti lagi ya ngobrolnya” ia melepas cengkraman tanganku dari lengannya dan pergi ke toilet.

Karena penasaran tentang CEO itu, aku menunggui Kafka di depan toilet pria, “Ya salamm! Lo hampir bikin gue baca ayat kursi tau gak!” Kafka memegangi dadanya saat melihat aku jongkok di depan lorong kamar mandi. Aku segera berdiri saat mendengar ocehannya “Gue masih penasaran sama CEO itu deh Ka”, “Penasaran sih boleh Kei, tapi jangan kaya dedemit gitu dong” ia mengatur nafasnya karena masih shock dengan ulahku barusan, “Emang lo belom pernah ketemu dia?” Kafka malah menatapku bingung, aku menggeleng.

Selagi mengantarku kembali ke kamar, Kafka bercerita banyak tentang sepak terjang laki-laki yang mencuri perhatianku itu, ternyata ia baru di pindah tugaskan dari UK ke Indonesia satu tahun yang lalu. Kafka bilang, orang yang bernama Raven Carrington itu seumuran dengan bang Eza dan masih single.“Emang kenapa sih lo mendadak penasaran sama doi? Naksir?” Kafka melirikku yang sedang melamun di dalam lift, “Nggak, bukan gitu.. cuma rasanya gue kenal banget sama dia” aku menatap kosong ke arah pintu lift, dari sudut mataku aku bisa melihat kalau Kafka menatapku dengan alis berkerut.

RAVEN
“Kau tahu kan apa resikonya kalau kau memaksa bertemu dengannya?” bocah laki-laki itu menatapku dengan kesal, “Sudah diamlah, aku tau apa resikonya” aku berusaha fokus menatap layar laptopku, “Kalau kau tau apa resikonya, kenapa kau malah membahayakan perempuan itu dan dirimu sendiri? Kau lupa kalau Tuan akan menghukummu lebih berat kalau kau tetap memaksa untuk menemuinya?” ia menghalangi layar laptopku dengan kepalanya. “Minggirlah, atau aku akan membuka kalungku dan memasukkanmu kembali ke sana” ancamku, “Ayolah Raven! Kalau kau di siksa, aku juga akan ikut disiksa! Kau tau Tuan tak pernah main-main kan?!” ia malah duduk di atas laptop dan membelakangiku.

Aku menghela nafas dan melepas kacamataku, “Dengar.. apa yang terjadi antara aku dan perempuan itu, adalah hal yang tidak akan pernah dimengerti oleh arwah pendamping sepertimu maupun oleh Louvin”, “Maka buatlah aku mengerti! Kau selalu berkata seperti itu, tapi kau tak pernah menjelaskannya padaku” bocah itu berbalik menatapku. “Danny.. aku bukan tidak ingin, tapi hal itu memang tidak bisa di jelaskan dan di ajarkan secara verbal. Kau harus mengalaminya sendiri, dan kita berdua sudah tau apa jawabannya bukan? Kau itu arwah, kau tidak bisa jatuh cinta” aku berdiri dan menjatuhkan diri di atas kasur hotel yang empuk. “Tapi kan kau harusnya bisa untuk tidak jatuh cinta! Kau sungguh egois Raven!” Danny pergi menembus dinding di belakang kasurku. Aku menghela nafas, bagaimana bisa aku tidak jatuh cinta padanya? Saat semua memori indah itu terulang di kepalaku, aku kembali merindukan perempuan itu. Andai aku bisa menjadi manusia biasa dan hidup bahagia bersamanya....

“Dannyyy..” aku memanggil Danny yang sudah berkeliaran selama setengah jam, tak lama kemudian Danny masuk lewat dinding yang sama tempat ia pergi, “Apa?” Danny melirik sinis ke arahku, “Sudah waktunya kau istirahat” aku membuka liontin kristalku, “Aku masih ingin jalan-jalan” Danny hendak melengos pergi, “Kau tau kalau kau tak bisa membantah perintahku bagaimanapun juga kan? Jangan memperpanjang hal sederhana ini Dan..”, Danny berdecak kesal dan kembali masuk ke liontin kristal yang ada di kalungku.
  
KEI
Aku tidak tau hotel ini berhantu atau tidak, tapi rasanya semalam aku melihat sosok arwah anak kecil yang berkeliaran di sekitar hotel. Dan tepat pukul 5 pagi, aku memimpikan sesuatu yang aneh, kali ini bukan pria itu, tapi aku bermimpi kalau aku sedang berdiri di depan pintu kamar hotel bernomor 1721, tapi entah kenapa aku merasa sedang benar-benar berdiri di depan pintu itu. Belakangan ini indera keenamku sering aktif dan semakin sensitif, apa karena hormonku sedang naik? Atau karena aku sedang berada di Bali? Ya mungkin saja sih.. aktivitas arwah di pulau dewata ini memang lebih kuat dibanding Jakarta.

Setelah mencuci muka dan sikat gigi, aku pergi untuk sarapan di restoran hotel. Saat aku keluar dari kamar, secara bersamaan aku melihat pria bernama Raven itu keluar dari kamarnya. Tunggu dulu! Nomor kamar itu... kamar 1721! Tiba-tiba angin dingin menjalari punggungku, aku membayangkan mimpiku semalam, ada apa dengan pria itu? Kenapa aku merasa terus menerus di arahkan untuk mendekatinya? Dan kenapa aku merasa familiar dengan pria itu?

Kepalaku terasa pening sejenak, aku bertumpu pada tembok disamping ku, “Kamu nggak apa-apa?” suara bariton seorang pria mengagetkanku, “Ah.. iya saya nggak apa-apa” aku tersenyum dan berusaha menyeimbangkan tubuhku, “Perlu saya antar ke kamar?” ia melihatku khawatir, “Nggak.. nggak usah, saya nggak apa-apa kok” aku menggeleng dan mengatur nafasku. “Kalo gitu boleh saya temani ke tempat tujuan kamu?”, “Kalau nggak merepotkan.. saya pengen ke restoran”, “Oh, okay. Kebetulan saya juga ingin ke sana” ia tersenyum dan berjalan disamping ku. 

Sepanjang perjalanan aku terdiam karena aku merasakan sesuatu yang janggal dari pria ini, auranya.. terasa dingin.. seperti tertutupi oleh sesuatu? Tidak tidak.. ia tidak memiliki aura! Umumnya di setiap mahluk hidup terutama manusia, memiliki aura. Dan beberapa orang dengan bakat khusus seperti aku, dapat langsung melihat warna aura yang mengelilingi tubuh mereka, tapi pria ini.. sudah kuduga ada yang janggal dari pria ini. Sejak aku melihat senyumnya aku sudah memiliki perasaan aneh yang membuatku penasaran, dan berada di dekatnya seperti ini membuatku semakin yakin kalau ada sesuatu yang pria ini sembunyikan.

Kami turun bersamaan dan aku pergi menuju Kafka dan yang lainnya setelah mengucapkan terima kasih pada Raven. “Lo kok turun bareng dia?” Kafka duduk dan meletakkan piringnya yang penuh di atas meja, “Tadi ketemu di depan kamar” aku menyeruput kopiku untuk membuat mataku melek sempurna. “Gile.. masih manjur aja tuh susuk lo” bang Eza duduk di sebelahku membawa sepiring nasi goreng, “Kurang ajar” aku menonjok lengannya, “Nih makan. Nanti kita ke sana di anter sama bos, jadi pada di jaga ya omongan sama kelakuan” bang Zen meletakkan piring berisi sarapan komplit ke hadapanku, “Siap bang” kami menjawab serempak.

Bang Zen tidak pernah banyak bicara, tapi perintahnya lugas dan tegas. Sebagai leader, kharisma bang Zen memang tidak diragukan lagi. Apalagi saat ia menabuh drum dengan stick andalannya itu, aku yakin orang-orang akan selalu terpesona oleh penampilannya. “Saya boleh gabung?” suara yang familiar kembali muncul di samping meja kami, aku bengong menatap Raven yang duduk di hadapanku saat ini. Sebenarnya apa tujuannya pindah ke tempat duduk kami?

RAVEN
Kau berada terlalu dekat dengannya Raven!Danny mengoceh dari dalam kalungku, Diamlah! Kalau kau berisik, aku tidak akan fokus mengobrol dengan orang-orang ini aku bertelepati dengan bocah bawel itu. Lagipula kenapa kau ingin sekali berbaur dengan manusia sih?! Mereka itu sombong dan tidak ada bagus-bagusnya!”, “Kau itu sengaja ingin membuatku kesal ya? Sudah tugas kaumku untuk berbaur dan mengawasi manusia. Apalagi posisiku sekarang adalah sebagai CEO, tentu saja aku harus mengawasi artis-artisku”, “Cih.. seorang Watchers yang jatuh cinta memang merepotkan! Kenapa juga harus aku yang mendampingimu?!”. Danny membalik meja yang ada di dalam tempat istirahatnya, dan hal itu membuat kalungku sedikit bergerakDannyyy!! aku meremat kalungku saking kesalnya. Padahal aku harus menjaga tingkahku agar normal saat berada di dekat manusia, tapi karena arwah pendamping yang menyebalkan ini, tugas berbaurku jadi terganggu. Aku jadi merindukan arwah pendampingku yang dulu, Raina. Ia tidak pernah bawel dan penurut, bahkan ia sering memberikanku masukan yang bermanfaat. Sayangnya ia sudah terlahir kembali menjadi manusia sekarang.

Kei menatapku dengan mata hazelnya, ia seperti berusaha untuk membaca pikiranku lewat matanya, aku merasa di telanjangi dengan tatapannya itu. Aku berdehem “Ada apa Kei?” sebuah senyum lembut berusaha ku torehkan di wajahku, “Nggak...” ia menatapku dengan datar dan menggeleng. Aku hanya tersenyum tipis melihat responnya, sayangnya aku tak punya kekuatan untuk membaca pikiran seperti Ares--salah satu dari 12 Watchers utama andalan Louvin--. Aku hanya bisa mengendalikan elemen di sekitarku, seperti listrik, suhu udara, metal, dan sebagainya. Dan menurutku hal itu tidak terlalu berguna untuk menghadapi manusia, kecuali tentu saja saat aku berada dalam bahaya.

Anggota band yang lainnya memelototi Kei karena responnya yang mereka rasa kurang sopan padaku, terkadang aku lupa kalau saat ini aku berposisi sebagai CEO. Aku maklum dan sebenarnya sudah kebal terhadap bermacam-macam kepribadian Kei, tentu saja sewaktu ia di lahirkan kembali, kepribadiannya akan berbeda-beda. Semenjak 1500 tahun yang lalu, aku sudah melihat sekitar 17-18 kepribadian Kei yang berbeda. Tapi ada satu hal yang tidak pernah berubah, ia selalu penasaran denganku saat aku menemukannya.

_______________________________________________________
Mobil van melaju menembus keramaian kota Bali, Kei yang duduk di sebelah Raven hanya bengong sedari tadi memandang keluar jendela. “Kafka, kalo saya boleh tau, agenda kalian hari ini apa saja?” Raven menatap Kafka yang sedang menyetir, “Hari ini cuma jadi pembuka dan selingan aja pak, mereka akan bawain 3 lagu” Kafka melirik ke bangku belakang dari spionnya, Raven manggut-manggut, “Maaf saya gak bisa nemenin kalian sampai acaranya selesai, mungkin saya bisa nonton performance awal saja. Tapi kalian bisa bawa mobilnya kok” Raven tersenyum, “Siap pak” Kafka mengangguk mengerti.

Sesampainya di tempat acara, band bersiap untuk check sound terakhir dan makeup, sementara Raven berkeliling menyapa beberapa band terkenal jebolan perusahaannya yang juga tampil di konser ini. Selagi Raven sibuk berbincang, Kei yang sedang di pakaikan makeup hanya memandangi Raven dari tempat duduknya, berkat keberadaan Raven, Kei jadi lebih sering melamun mencari jawaban di otaknya, jawaban tentang apakah pria itu adalah pria di mimpinya.

Saat ‘Black Diamond’ hendak tampil, Raven mengawasi di samping panggung. Band itu sedang bersiap di atas panggung, saat Kei yang baru saja kembali dari toilet mengambil micnya dan berjalan menaiki tangga menuju panggung. Namun tiba-tiba Kei berhenti, ia melihat sesosok arwah anak laki-laki melayang-layang di samping Raven, arwah itu menengok dan menatap mata Kei sejenak. Kei mengerutkan alisnya dan mengerjapkan matanya beberapa kali, berharap bahwa itu hanya ilusi semata.

Danny yang hendak berbalik dari bahu kanan Raven untuk berkeliaran di area konser, dihentikan oleh sesuatu. Sepasang mata memandang tepat di mata arwah itu, awalnya Danny terpaku karena ia pikir tidak mungkin mata perempuan itu dapat melihat sosoknya, saat Danny mengacuhkannya dan melihat ke arah Raven, ia merasa mata itu tetap memandanginya. Ia juga dapat merasakan kalau ada seseorang dengan energi khusus sedang menyadari keberadaannya.

Karena bagi arwah, bakat itu bekerja dua arah, tidak hanya digunakan untuk melihat mahluk halus, bakat itu juga memancarkan energi tersendiri bagi arwah. Dan bakat seperti itu biasanya menarik beberapa arwah untuk mendekat dan mengganggu. Tapi tidak bagi Danny, ketika ia berbalik menatap mata Kei, perempuan itu masih terpaku dan menatapnya. Menyadari sosoknya yang seharusnya kasat mata untuk manusia, arwah itu terkejut dan bersembunyi di balik tubuh Raven, energi Kei membuatnya takut dan panik.
_______________________________________________________

RAVEN
Hm.. cukup banyak penontonnya.. harusnya kumasukkan lebih banyak artisku ke dalam konser ini... “Raven!” teriakan Danny mengejutkanku, “Ada apa Dan.. kenapa kau panik begitu?” aku menanggapi Danny dengan datar, “Pe-perempuan itu! Perempuan itu dapat melihatku!”, “Perempuan yang mana Dan..? Kau itu arwah, ingat? Manusia tak bisa melihatmu”, “Perempuan yang kau sukai itu!” Danny menunjuk ke arah jam 3 dari penglihatanku, aku refleks menengok ke mana Danny menunjuk. Kei melihat tajam ke arahku, tubuhku membeku, saking terkejutnya aku tak dapat bergerak, aku hanya menatap lurus ke arah mata Kei.

Tidak, Kei tidak mungkin punya kemampuan seperti itu, Danny pasti hanya salah lihat. Mungkin saja Kei sebenarnya sedang memandangiku kan? “Kei! Ayo! Giliran kalian tampil!” aku meneriakinya karena sekeliling kami begitu berisik, aku tersenyum melihatnya berjalan ke arahku, ia memicingkan matanya sedikit, tampaknya ia curiga padaku. “Semangat semua!” aku memberi semangat pada Black Diamond beberapa menit sebelum mereka mulai tampil, dan mereka membalasku dengan senyuman, kecuali Kei.

Aku pergi setelah penampilan pertama mereka selesai. “Itu nyaris saja kau tau?” Danny duduk di kursi penumpang selagi aku menyetir, “Mungkin itu hanya perasaanmu Dan... Kei tidak mungkin punya kekuatan seperti itu”, “Terserah kalau kau tak percaya padaku, tapi aku jelas merasakan energi khusus perempuan itu” Danny bersedekap dan memasang wajah cemberutnya. Aku terdiam memikirkan pendapat Danny, apa benar Kei memiliki kemampuan itu?

KEI
Sepanjang penerbangan kembali ke Jakarta, aku terus menerus memikirkan arwah yang kulihat tadi, aku memang tidak yakin... tapi kurasa itu adalah arwah yang sama seperti yang kulihat di hotel. Sejak pria itu muncul, banyak hal janggal yang menguras pikiranku. Pertama saat di lift, auranya tidak normal, ia bahkan tidak terasa seperti manusia. Kedua, saat di restoran, kalung pria itu tampak bergerak, padahal angin saja tidak ada! Ketiga, arwah yang kulihat tadi.. apa arwah itu berteman dengan Raven? Apa Raven juga memiliki kemampuan sepertiku? Atau jangan-jangan... Raven adalah salah satu dari mereka?! Apa ia adalah mahluk jadi-jadian?!

Argh! Aku tidak suka kalau penyakit kepo ku mulai kumat seperti ini! Aku jadi banyak memikirkan hal-hal yang tidak berguna! Aku berdecak kesal. “Dari tadi kenapa lo bengong sih Kei? Laper?” bang Eza melepas salah satu earphoneku, “Ah.. nggak bang, cuma capek aja, sixth sense gue mulai sensitif belakangan ini” aku melemaskan leherku yang terasa kaku, “Jadi maksud lo ada setan di sekitar sini?” bang Eza yang panik mulai melihat ke segala penjuru mata angin dengan mata membelalak. “Nggak bang.. pas di Bali doang. Sekarang udah nggak” aku terkekeh melihat bang Eza yang parno sendiri, ia memang sudah takut hantu sejak dulu.

“Gue pikir di pesawat ini..” bang Eza menghela nafas lega, “Di sini sih ada.. noh di deket kamar mandi lagi liatin lo” aku menunjuk lorong kamar mandi dengan daguku, ada sesosok arwah anak kecil yang berdiri di sana, dan sekarang ia sedang melihat ke arah bang Eza, tidak.. lebih tepatnya ke arahku. “Jangan bercanda ah Kei.. lo mah jahat suka ngerjain gue” ia mencengkram lenganku kuat-kuat, “Dih.. kalo gue bisa kasih liat juga gue kasih liat”, “Ogah gue, amit amit jabang bayi” bang Eza bergidik.

Arwah itu mendekati tempat dudukku, ‘Kakak bisa liat aku?’ ia berbicara langsung ke pikiranku, aku mengangguk dan tersenyum, ‘Kakak tau di mana mamaku? Aku pengen ketemu mama, dari tadi aku nanya orang-orang yang lewat mereka gak jawab’ mata arwah anak kecil itu berkaca-kaca, sepertinya ia hendak menangis. Aku menyentuh dahinya yang tak kasat mata itu untuk melihat memorinya sekaligus untuk menunjukkannya jalan menuju alam baka. Ternyata anak itu meninggal karena pembajakan pesawat di pesawat ini beberapa tahun yang lalu, ibunya sudah lebih dulu pergi ke alam baka, tapi ia bersikukuh untuk mencari ibunya, maka dari itu ia tersesat. “Mamamu udah ada di ujung situ, ikutin jalur putih itu ya.. nanti pasti ketemu mama” aku tersenyum dan mengusap kepalanya, ia mengangguk dan segera mengikuti perintahku. Sebenarnya banyak arwah yang tidak bisa menerima kenyataan kalau mereka sudah mati, dan karena itu juga mereka terbutakan, mereka tidak bisa melihat dengan jelas jalan menuju alam baka, terutama arwah anak-anak yang tersesat.

Bang Eza melihatku seolah-olah aku orang gila yang bermonolog, “Jangan ngeliatin gue kaya gitu napa? Gue gak gila bang, tadi gue ngomong sama arwah itu, kan udah gue bilang di sini beneran ada..” aku memakai kembali earphoneku dengan cuek, sementara bang Eza sedikit bergeser untuk menjauhkan tubuhnya dariku karena ngeri, aku meliriknya seraya menahan tawaku karena penumpang lain sedang terlelap.

_______________________________________________________
“Perlu dicatat: I’m NOT a morning person” ujar Kei setiap membuat janji temu dengan teman-temannya. Bangun di jam-jam tanggung seperti jam 10 atau jam 11 adalah rutinitas bagi Kei, ia jarang bangun di pagi hari karena pekerjaan sampingannya dimulai pada sore hari. Selain sibuk nge-band, Kei bekerja sampingan sebagai penyanyi café dari sore hari menjelang malam, walaupun hasil penjualan album serta bayaran manggung tetap mengucur ke rekeningnya, Kei tetap tidak suka berdiam diri di rumah, ia merasa tidak berguna kalau tak keluar rumah. Walaupun Mamanya tetap mengirimkan uang bulanan, uang itu lebih banyak ia sumbangkan atau ia tabung untuk membeli hadiah yang akan ia berikan ke Mamanya dan Sasha saat pulang ke Jogja.

Kei mematut diri di kaca lemarinya sembari menata rambut pirang kecoklatannya dengan model messy bun, kemudian mengoleskan lipstick matte merah darah kesayangannya itu ke bibirnya. High waist ripped jeans biru pudar, heeled ankle boots berwarna hitam, dan croptop putih yang menunjukkan sebagian perut ramping putih mulusnya itu, menjadi kostum pilihannya untuk manggung di café hari ini. Kei menenteng jaket kulitnya dan turun ke lobby apartemen untuk mengecek kotak suratnya, tiba-tiba perhatiannya teralihkan oleh kotak surat milik kamar nomor 1077, kamar kosong di seberang kamarnya.

“Mau berangkat kerja neng?” pak Ucup satpam apartemen mengagetkan Kei yang sedang terpaku menatap kotak surat itu. “Eh, iya pak” Kei tersenyum ramah, “Oh iya pak, ini kamar kan kosong, kok ada yang naro surat di situ?” Kei menatap pak Ucup penasaran, “Ooh.. itu baru aja 3 hari yang lalu orangnya pindahan neng”, “Ada penghuni baru? Kok saya belom pernah liat? Udah pindahan 3 hari yang lalu kan?”, “Iya neng, barang-barangnya sih udah di pindahin. Tapi dia minta kamarnya di renovasi dulu, jadi orangnya baru bisa pindah ke sini besok” penjabaran pak Ucup membuat Kei manggut-manggut dan ber-oh ria.

Setelah memarkirkan mobilnya, Kei menenteng gitarnya memasuki café. “Sore Kei..” Dafa tersenyum dan duduk di samping Kei yang sedang menunggu gilirannya tampil, “Hm..” Kei dengan cuek merespon sembari melihat lirik lagu yang akan ia bawakan nanti, ia mencoba mengacuhkan mantannya yang menyebalkan itu. “Jangan galak-galak kenapa Kei, nanti cepet keriput lohh” Dafa menyenggol bahu Kei, “Emang muka gue udah begini dari sononya. Pergi sana, gue lagi ngehafal lagu jadi keganggu gara-gara lo” Kei menatap sinis ke arah Dafa, “Iya iya.. caramel macchiato lo gue taro di sini ya. Good luck Kei” Dafa mengedipkan sebelah matanya setelah meletakkan kopi kesukaan Kei di meja. Tak lama setelah Dafa pergi, gadis berzodiak aries itu menyeruput kopinya dan berjalan ke arah panggung kecil café untuk tampil.

Mendekati akhir lagu kedua yang ia bawakan, Kei melirik sekilas ke arah penonton selagi menambahkan ad-lib dalam nyanyiannya. Ia tiba-tiba terpaku pada pintu keluar, sosok yang tidak menghilang dari kepalanya bahkan setelah 2 minggu sejak ia pulang dari Bali, muncul kembali di depan matanya, membawa segelas kopi di tangan kanannya dan sibuk dengan ponselnya di tangan kirinya selagi berjalan keluar dari café. Kei sempat curiga Dafa memasukkan halusinogen ke dalam kopinya, namun pikiran itu cepat-cepat di tepis oleh Kei, mungkin saja ia salah lihat, lagi pula seberapa besar peluang Raven dan Kei berada di lingkungan yang sama?
_______________________________________________________

KEI
Berlari mengelilingi apartemen sebanyak lima kali memang menjadi rutinitasku setiap sore, aku harus berolahraga minimal lari ringan memutari apartemen seperti ini untuk menjaga tubuh ini tetap pada bentuknya, kalau sempat biasanya aku akan nge-gym, tapi karena aktivitas band dan jobku semakin banyak, aku jadi belum sempat meluangkan waktu untuk pergi ke gym. Sebelum kembali ke apartemenku, aku menyempatkan diri untuk mengecek kotak surat, karena Kafka bilang surat perpanjangan kontrak akan sampai hari ini. Ternyata benar, surat perpanjangan kontrakku sudah berjejer rapi dengan surat-surat lainnya. Aku membaca surat-surat itu di dalam lift sembari cooling down, sesaat setelah aku turun dari lift, aku mendengar gonggongan anjing di lorong.

Setauku sih di lantai tempat tinggalku tidak ada yang memelihara anjing, seingatku hanya kamar 1034 yang memelihara hewan, itu pun 2 ekor kucing. Sewaktu aku melihat ke arah lorong, pintu nomor 1077 baru saja tertutup. Tunggu dulu.. bukankah itu penghuni baru? Jadi dia benar-benar pindah hari ini ya.. apa itu tadi suara anjingnya? Sebenarnya aku senang kalau ada yang memelihara anjing, tapi biasanya kalau anjing di tempatkan di ruangan tertutup seperti apartemen, anjing itu akan lebih sering menggonggong. Huh.. kuharap anjing itu tidak sampai mengganggu waktu tidurku. Rasanya setelah ini aku akan menyapa tetangga baruku, dan kurasa beberapa potong kue brownies akan mencairkan suasana.

Setelah mandi dan pergi ke toko kue langgananku untuk membeli brownies, aku membawa beberapa kaleng soft drink untuk diberikan. Kutarik nafas panjang dan mulai mengetuk pintunya, tak lama kemudian terdengar suara anjing menggonggong dari dalam, ternyata benar firasatku, tetanggaku ini memelihara anjing. Kulihat gagang pintu bergerak dan pintu itu terbuka sedikit, memunculkan sedikit rambut penghuninya yang berwarna coklat karamel.

“Hai, saya dari kamar seberang, ini ada sedikit ku-” aku menunduk ke arah browniesku selagi aku membuka percakapan, dan saat aku mendongak, kata-kataku langsung terhenti karena mata itu menatap langsung ke arah mataku. Pintu kamar itu terbuka lebar di depanku menampilkan keseluruhan wujud penghuninya, “Halo. Itu buat saya? Terima kasih sebelumnya, harusnya gak perlu repot-repot” ia tersenyum dan mengambil brownies yang kupegang dan masuk ke dalam apartemennya, “Ayo masuk, gak usah sungkan. Anggap aja rumah sendiri”. Gonggongan anjing itu menyadarkanku yang sedang terpaku dengan kejadian barusan. Aku tidak salah makan kan? Atau aku sedang demam makanya aku berhalusinasi?? Tidak.. aku tidak berhalusinasi, aku benar-benar melihat sosok Raven di hadapanku, pertanyaanku yang sebenarnya adalah.. apa yang dia lakukan di sini?! Di apartemen yang sama denganku?!
_______________________________________________________

TO BE CONTINUE
_______________________________________________________

Cerita ini hanya fiktif belaka guna memenuhi tugas.
Beberapa hal yang di paparkan dalam cerita tidak sepenuhnya fakta, melainkan imajinasi dan subjektivitas penulis.
Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, hal tersebut adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.
©DinaAuliaLee

Tidak ada komentar:

Posting Komentar