Aku pernah mencintai
Dan di kecewakan olehmu
Mungkin olehmu
Mungkin oleh diriku sendiri
Entahlah, aku juga tak mengerti
Sebenarnya siapa yang salah diantara kita?
Mungkin aku
Mungkin kau
Mungkin kita berdua
Walau sudah bertahun-tahun yang lalu
Tapi aku masih ingat jelas kejadian itu
Kalau ada yang bertanya seberapa sakit
Rasanya aku tidak sanggup mengungkap semua itu tanpa berderai air mata
Tanpa terbayang wajahmu
Yang kala itu tersenyum bahagia disampingku
Yah... Kurasa sesakit itu
Hatiku sudah remuk redam
Dihancurkan oleh rasa kecewa hingga berkeping-keping
Dileburkan hingga tak bersisa
Tak berbentuk
Hingga akhirnya aku mati rasa
Ya... Mati rasa
Kehilangan rasa untuk mencintai orang lain selain dirimu
Kehilangan minat melihat senyum selain senyumanmu
Panggil aku pengecut jika kau ingin
Karena aku memang takut
Aku takut mencintai lagi
Takut kekecewaan yang sama akan melandaku untuk kedua kalinya
Kekecewaaan yang begitu hebat hingga membuatku mati rasa
Takut kalau sikapku mengecewakan orang yang kelak akan mencintaiku
Seperti kau mengecewakanku dulu
Aku akan selalu ingat peristiwa itu
Aku tak dendam
Sungguh aku tak dendam
Aku tak sedangkal itu sayang
Tapi aku ingat
“Untuk apa?” tanya temanku
Untuk belajar
Belajar menahan keegoisanku untuk memilikimu seutuhnya
Belajar untuk tidak terikat dan bergantung pada rasa yang semu
Tapi percayalah
Walau setelah sekian lama
Ada sesuatu yang selalu kutahan agar tidak tumpah
“Apa?” kau bertanya
Air mataku
Walau kau melihatku tetap tersenyum riang
Akan selalu ada sesuatu yang kutahan agar tidak jatuh saat melihatmu
Aku tak marah
Aku hanya sedih melihatmu belum berbahagia dengan yang lain
Karena seingatku
Kau melepaskanku untuk pergi bersamanya
Ia yang kau yakini bisa menjamin kebahagiaanmu lebih dari aku
Andai saja aku bisa memutar balikkan waktu
Aku akan meyakinkanmu kalau aku yang terbaik untukmu
Yang akan selalu ada di sisimu
Tapi manusia fana sepertiku bisa apa?
Tak ada yang bisa kulakukan selain mendoakan kebahagiaanmu
Memohon pada sang Pencipta untuk melindungimu
Menyertakan namamu dalam lantunan doaku
Mungkin kau adalah satu-satunya penyesalan terbesarku
Jangan berburuk sangka sayang
Penyesalan terbesarku hanya karena aku melepaskanmu
Sebut aku egois
Ya, aku memang egois
Sampai saat ini pun aku masih ingin memilikimu
Dekapan hangatmu yang kala itu hanya milikku
Senyum bahagiamu yang kala itu hanya untukku
Sampai akhirnya
Takdir mempertemukan kita kembali
Di hari bahagia teman kita
Aku melihatmu memasuki aula
Dengan gaya berpakaianmu yang selalu kuhapal
Tampaknya kau belum juga mendapat pendamping
Karena tanganmu hampa
Tak ada yang menggenggam
Tak ada sosok penggantiku yang menemanimu
Kau menghampiri kerumunan teman sekelasmu
Dan aku berdiri mematung melihatmu tertawa bersama teman-temanmu
Perutku serasa diserbu oleh kupu-kupu
Aneh,
Menggelitik,
Jantungku mulai berulah saat melihat wajahmu
Berdegup tak beraturan
Tak bisa ku kendalikan
Apa tandanya aku masih jatuh cinta padamu?
Untuk yang kedua kalinya?
Mungkinkah?
Dadaku mulai terasa hangat
Aneh
Pipi ku tak pernah terasa sepanas ini sejak beberapa tahun belakangan
Tapi sebenarnya aku tau
Tidak mungkin ada lagi kesempatan bagiku untuk mengisi ruang hatimu
Baru saja aku hendak menghindarimu
Menyusup diantara kerumunan orang-orang,
Sampai teman-teman yang jahil mendorongku
Hingga aku menabrak tubuhmu
Dengan canggung aku meminta maaf
Kau tersenyum
Dan terlambat menyadari
Kalau ini adalah aku
Ya... aku yang dulu tidak cukup baik untukmu
Mungkin aku terasa asing bagimu
Tentu saja,
Dulu aku hanya seonggok tanah liat
Sekarang aku sudah berubah menjadi tembikar mengkilat yang mahal
Itu semua berkat tempaanmu
Berkat api yang kau sulut di tungku hatiku
Kau akhirnya menyadari kalau ini aku
Kau menjabat tanganku dengan canggung
Kita menepi,
Mengobrol santai.
Tak ada yang spesifik,
Sampai akhirnya pembicaraan kita mengarah ke pendamping hidup
“Mama kangen sama kamu”
Kau menghindari tatapanku
Melihat ke arah pengantin yang berbahagia
Aku tersenyum
“Nanti kalau ada kesempatan aku mampir” jawabku singkat
Ternyata kau tidak berubah
Tetap tidak bisa menatapku saat kau berbohong
Aku kembali teringat saat kau melontarkan kata-kata kejam itu
Kau menatap mataku dengan yakin
Kau memilihnya tanpa ragu
Saat itu juga aku tau
Kau tak berbohong
Kau benar-benar memilihnya
Ini bukan pelarian
Atau jeda
Kita benar-benar sudah berakhir
Aku meninggalkan aula
Dan menengok kebelakang untuk terakhir kalinya,
Kau mencari keberadaanku
Mataku dan matamu bertemu di depan aula
Aku tersenyum ikhlas
Sekarang aku tau kau akan tetap baik-baik saja tanpaku
Kali ini aku tidak akan memaksamu
Atau menahanmu
Aku akan menunggu,
Biarkan semua berjalan seperti apa adanya
Tak ada paksaan
Tak ada belenggu
Dan kalau takdir mempertemukan kita lagi
Pada saat itu tiba
Aku tau apa yang Tuhan inginkan dari kita
:)
Sampai saat ini pun aku masih ingin memilikimu
Dekapan hangatmu yang kala itu hanya milikku
Senyum bahagiamu yang kala itu hanya untukku
Sampai akhirnya
Takdir mempertemukan kita kembali
Di hari bahagia teman kita
Aku melihatmu memasuki aula
Dengan gaya berpakaianmu yang selalu kuhapal
Tampaknya kau belum juga mendapat pendamping
Karena tanganmu hampa
Tak ada yang menggenggam
Tak ada sosok penggantiku yang menemanimu
Kau menghampiri kerumunan teman sekelasmu
Dan aku berdiri mematung melihatmu tertawa bersama teman-temanmu
Perutku serasa diserbu oleh kupu-kupu
Aneh,
Menggelitik,
Jantungku mulai berulah saat melihat wajahmu
Berdegup tak beraturan
Tak bisa ku kendalikan
Apa tandanya aku masih jatuh cinta padamu?
Untuk yang kedua kalinya?
Mungkinkah?
Dadaku mulai terasa hangat
Aneh
Pipi ku tak pernah terasa sepanas ini sejak beberapa tahun belakangan
Tapi sebenarnya aku tau
Tidak mungkin ada lagi kesempatan bagiku untuk mengisi ruang hatimu
Baru saja aku hendak menghindarimu
Menyusup diantara kerumunan orang-orang,
Sampai teman-teman yang jahil mendorongku
Hingga aku menabrak tubuhmu
Dengan canggung aku meminta maaf
Kau tersenyum
Dan terlambat menyadari
Kalau ini adalah aku
Ya... aku yang dulu tidak cukup baik untukmu
Mungkin aku terasa asing bagimu
Tentu saja,
Dulu aku hanya seonggok tanah liat
Sekarang aku sudah berubah menjadi tembikar mengkilat yang mahal
Itu semua berkat tempaanmu
Berkat api yang kau sulut di tungku hatiku
Kau akhirnya menyadari kalau ini aku
Kau menjabat tanganku dengan canggung
Kita menepi,
Mengobrol santai.
Tak ada yang spesifik,
Sampai akhirnya pembicaraan kita mengarah ke pendamping hidup
“Mama kangen sama kamu”
Kau menghindari tatapanku
Melihat ke arah pengantin yang berbahagia
Aku tersenyum
“Nanti kalau ada kesempatan aku mampir” jawabku singkat
Ternyata kau tidak berubah
Tetap tidak bisa menatapku saat kau berbohong
Aku kembali teringat saat kau melontarkan kata-kata kejam itu
Kau menatap mataku dengan yakin
Kau memilihnya tanpa ragu
Saat itu juga aku tau
Kau tak berbohong
Kau benar-benar memilihnya
Ini bukan pelarian
Atau jeda
Kita benar-benar sudah berakhir
Aku meninggalkan aula
Dan menengok kebelakang untuk terakhir kalinya,
Kau mencari keberadaanku
Mataku dan matamu bertemu di depan aula
Aku tersenyum ikhlas
Sekarang aku tau kau akan tetap baik-baik saja tanpaku
Kali ini aku tidak akan memaksamu
Atau menahanmu
Aku akan menunggu,
Biarkan semua berjalan seperti apa adanya
Tak ada paksaan
Tak ada belenggu
Dan kalau takdir mempertemukan kita lagi
Pada saat itu tiba
Aku tau apa yang Tuhan inginkan dari kita
:)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar