Senin, 17 April 2017

SAMSARA

PART II

           RAVEN
“Kenapa sih aku harus berubah wujud menjadi hewan ini?!” Danny mengomel karena aku memerintahkannya untuk berubah menjadi anjing golden retriever berwarna hitam, “Jangan banyak protes. Lagipula kau bilang tidak ingin terdeteksi oleh Kei kan? Kalau kau menjadi hewan, energi arwahmu akan tersamarkan” aku fokus melihat jalanan di hadapanku. “Tunggu sebentar... bukankah kau harusnya tau hal ini? Harusnya Val menjelaskan hal-hal semacam ini saat kau di latih untuk menjadi arwah pendamping seorang Watchers kan?” aku menatap Danny bingung sekaligus kesal. “Aku tidak mendengarkan saat Val menjelaskan” Danny mendengus sebal. Aku menghela nafas lelah, kurasa tingkahnya yang menyebalkan dan arogan ini juga menjadi salah satu penyebab ia mati muda.
Kami sampai di depan apartemen baruku, untungnya apartemen ini mengizinkan penghuni untuk memelihara hewan, karena kalau tidak, Danny terpaksa harus berubah wujud menggunakan kekuatanku menjadi manusia, hal itu pasti akan menguras energiku, dan energi arwahnya juga masih bisa terdeteksi. “Aku lebih suka apartemenmu di UK dibanding apartemen kumuh ini” Danny kembali berubah wujud menjadi arwah saat kami memasuki kamarku, “Menurutku yang seperti ini saja sudah lumayan bagus. Sebelum manusia membangun semua gedung dan fasilitas mewah seperti sekarang, kau tidak akan bisa membayangkan dimana aku tinggal beberapa ratus tahun yang lalu” aku mengejek mental tempe Danny yang sudah terbiasa dimanjakan fasilitas yang nyaman sewaktu ia masih tinggal di rumah Louvin untuk pelatihan arwah pendamping.
“Hei, sewaktu aku masih hidup, hidupku juga tidak senyaman itu. Aku mungkin tidak ingat dengan detil, tapi aku masih ingat saat kami harus membagi 1 buah roti untuk 5 orang, dan tinggal di rumah kumuh yang selalu bocor setiap hujan turun. Bahkan sebenarnya aku mati karena kondisi keluargaku yang miskin, kau tau?” Danny memandang keluar jendela, melihat cuaca langit yang berawan. “Ya, tentu saja aku tau, Val sudah menceritakan profilmu saat kau di pilih menjadi arwah pendampingku. Koreksi untukmu Danny, kau bukan mati karena miskin. Kau mati karena ayahmu yang gila itu memutuskan untuk membunuhmu, ibumu, dan 3 adikmu yang masih kecil-kecil” aku membongkar peralatan kerjaku di ruang kerja. “Memang. Tapi ayahku menjadi gila karena kami miskin, karena kami tidak bisa mendapatkan makanan dan tempat tinggal yang layak. Jadi kurasa, aku tidak salah saat kubilang aku mati karena miskin” Danny mendengus sinis.
“Kau tau kenapa Val memilihmu menjadi arwah pendampingku?” aku membuka lemari untuk memastikan baju-baju sudah ditata rapi oleh asistenku, “Entahlah. Karena aku lebih tampan darimu?” Danny mendengus mengejek, aku tersenyum mendengar jawaban sarkastik itu. “Tentu saja tidak, aku ini jauh lebih tampan darimu” aku tertawa kecil, “Val memilihmu karena kau mati demi melindungi ibu dan adik-adikmu. Tindakan heroik yang kau lakukan karena kau tulus mencintai mereka lah yang membuatmu bisa mendapatkan posisi di samping Watchers senior sepertiku. Dan tentu saja bekerja bersamaku memiliki nilai tambah. Saat kau menuntaskan tugas dengan baik, kau akan bereinkarnasi dengan lebih cepat. Bukankah itu yang kau inginkan?” aku meliriknya yang masih melayang-layang di depan jendela. Ia diam saja tak menjawab omonganku, sekilas kulihat ia menghapus air matanya dengan kasar dan terburu-buru. 
Diam-diam aku tersenyum kecil, sebenarnya aku tau kenapa arwah anak 15 tahun ini begitu menyebalkan dan bossy, semasa hidupnya di perang dunia kedua, ia terbiasa menjadi pemimpin keluarganya saat ayahnya berkelana mencari uang dan pulang beberapa tahun sekali. Ia terbiasa mengambil keputusan demi kelangsungan hidup keluarganya, terbiasa memecahkan berbagai masalah yang dihadapi keluarganya. Termasuk mengorbankan dirinya sendiri saat ayahnya yang depresi, menembaki anggota keluarganya satu per satu dengan senapan. Maka dari itu ia tidak suka di perintah dan di suruh-suruh oleh orang lain. Ia memiliki jiwa pemimpin yang kuat dan tegas, aku yakin bila ia terlahir kembali ia akan menjadi pemimpin. Entah pemimpin apapun itu, ia akan menjadi pemimpin yang baik dan tangguh. 
“Hei Raven, apa kau sudah mengendalikan situasi di Jepang? Kemarin aku diingatkan untuk menyampaikan padamu kalau Watchers Yuka tewas dalam bencana gempa. Sampai Yuka diberi wujud baru, kau harus mengendalikan keadaan disana” Danny mendekatiku, “Ya aku tau, setelah ini aku akan mengirim duplikatku kesana”, “Kenapa tidak sekarang saja?”, “Aku masih ingin menikmati waktu santaiku di sini” aku menata buku-buku klasik ku di lemari buku. Danny menghela nafas, “Kau lihat? Semenjak kau berada di dekat perempuan itu, kau jadi lupa akan tugasmu sebagai Watchers. Tak heran Tuan terus menghukummu” ia bersedekap. 
“Namanya bukan ‘perempuan itu’ Danny. Namanya Kei, kau harus ingat itu. Aku tidak suka kalau kau terus memanggilnya seperti itu” aku menatapnya tajam, “Ya ya ya.. terserah kau saja” ia mengibas-ngibaskan tangannya, “Aku bukan lupa tugasku, masih ada beberapa hal yang harus ku kendalikan di sini. Di perusahaan saja masih ada alur hidup 3 orang yang harus ku arahkan kembali” aku menghela nafas. “Ya sudah, tapi setidaknya malam ini kau harus mengirim duplikatmu ke sana” Danny pergi menjelajahi apartemen baruku.
Ketika aku bermeditasi untuk mengisi energi spiritualku, teriakan Danny mengagetkanku, “Raven! Ada yang mengetuk pintumu!” ia menggonggong di depan pintu. Aku mengintip lewat peephole di pintuku, ada Kei di depan pintu! “Bagaimana penampilanku?” aku menengok ke arah Danny, “Ya ampun.. apa itu hal yang penting sekarang?” ia menatapku kesal dengan wujud K9-nya. Aku segera membuka pintu dan melihat Kei sedang menunduk dan tersenyum menatap ke kue yang ia bawa, dan saat ia mendongak menatapku.. ia terpaku dan terdiam melihat sosok Raven di depannya. Aku tersenyum. Itu adalah respon yang kuharapkan dari seorang Keila Nataschenska.

_______________________________________________________
Raven tersenyum ramah melihat Kei berdiri di hadapannya, “Ayo masuk, gak usah sungkan. Anggap aja rumah sendiri” ia pergi menenteng brownies itu masuk ke dalam apartemen. “Kenapa kau membawanya masuk Raven?!” Danny menggonggongi Raven, “Diamlah Danny, ini namanya sopan santun dan ramah tamah. Manusia melakukan hal ini untuk bersosialisasi” Raven meletakkan brownies yang Kei bawa di pantrynya. “Ke-kenapa bapak bisa ada di sini..” Kei tak bisa berbicara dengan lancar karena masih bingung, “Kalo lagi diluar gak usah panggil saya bapak, cukup Raven aja” Raven tersenyum melihat Kei yang perlahan tapi pasti melangkah masuk ke apartemennya dengan wajah terkejut. 
“Makasih udah repot-repot bawa kue, kamu adalah penghuni apartemen pertama yang nyambut saya” Raven meletakkan sepiring brownies di meja tamu dan duduk di sofa, “Silahkan duduk” ia tersenyum mempersilahkan Kei yang berdiri sedari tadi. “Ng.. iya sama-sama.. ka-kamar saya ada di seberang, jadi.. saya pikir..” Kei duduk tanpa melepaskan tatapannya pada Raven, “Ooh gitu.. jadi kita tetangga-an ya? Kalau ada apa-apa, boleh saya minta tolong ke kamu?”, “Iya.. boleh kok pak-, eh mas-, eh salah, Raven maksudnya” Kei cengengesan salah tingkah. Raven menahan tawanya melihat tingkah canggung Kei.
Suasana hening sejenak, namun tuan rumah itu segera mencairkan suasana, “Ayo dimakan kuenya” ia membuka kaleng soft drink dihadapannya, Kei mengangguk dan melahap satu bongkah besar brownies ke dalam mulut mungilnya, Raven menahan tawanya melihat Kei yang melahap kue itu karena teringat pipi hamster yang menggembung saat menyimpan makanan di mulutnya. Hal ini mengingatkan Raven akan kebiasaan makan Kei yang dari dulu sampai sekarang tidak berubah, nafsu makan Kei tetap besar. 
Kei menatap Raven yang menunduk menahan tawanya, “Ada apa? Kok ketawa?” ujar Kei dengan mulut penuh, Raven yang tersadar segera berdehem, “Nggak apa-apa, cuma keinget hal yang lucu aja”, Kei manggut-manggut. Kei melirik sekilas ke arah anjing yang sedang tidur di pangkuan Raven, “Nama anjingnya siapa?”, mata Danny yang tadinya tertutup, tiba-tiba melirik Kei yang penasaran tentang dirinya, “Oh.. ini namanya Danny”, “Umurnya?”, “Tahun ini 5 tahun” Raven mengelus kepala Danny, “Hentikan. Aku tak suka kau mengelus-elus kepalaku” Danny mendengus kesal, Aku melakukan hal ini agar terlihat normal kau tau? Bukan karena aku senang melakukannya”, Raven menjitak kepala Danny, yang Danny balas dengan geraman.
“Saya boleh elus Danny?” Kei menatap Raven dengan mata berbinar, “O-oh boleh kok” Raven terkejut karena tak menyangka Kei ingin menyentuh Danny, sesaat sebelum Kei pindah ke sebelah Danny, Raven menyalurkan energinya untuk menutupi jejak arwah Danny. “Hai boy” Kei tersenyum mengelus kepala Danny dan menggaruk lehernya, bahu Raven berguncang karena menahan tawanya, pasalnya Danny merespon dengan senyum bahagia dan goyangan ekornya, seperti anjing sungguhan. 
“Danny sayang banget ya sama Raven?” Kei tersenyum selagi bermonolog pada Danny, dan hal itu membuat Raven menghentikan tawanya, “Sayang? Maksudnya?” Raven menatap Kei dengan bingung, “Maksudnya ya.. dia setia dan punya rasa cinta yang besar buat kamu. Saya bisa ngerasain karena saya punya bakat khusus menyentuh sisi spiritual” Kei tersenyum pada Danny. Raven menatap gadis itu dengan alis bertaut, “Jadi maksud kamu, kamu punya indera keenam?” ia sedikit terkejut, Kei mengangguk. “Nah kan! Aku sudah bilang padamu!” Danny melirik Raven, Diamlah, atau kita akan ketahuan!” Raven memelototi Danny.
_______________________________________________________

          RAVEN
Kei melirik jam dinding di atas televisiku, “Eh, udah jam 5. Maaf ya saya harus pamit, masih ada urusan di luar” ia berdiri dan tersenyum tak enak hati, “Oh iya nggak apa-apa, saya harap kamu bisa mampir lagi” aku tersenyum dan mengantar Kei keluar. Beberapa saat setelah pintu ditutup, Danny kembali berubah wujud menjadi arwah, “Aku tidak menyangka hari ini akan menjadi hari yang sangat lucu. Kau benar-benar seperti anjing sungguhan tadi!” aku memegangi perutku yang sakit karena terlalu banyak tertawa.
Kulihat Danny sedang menggumam tak jelas di samping jendela, “Ada apa Dan?” aku menghampirinya karena ia tidak menggubrisku, “Danny...?” aku melongo melihat warna wajah Danny yang berubah. “Tunggu dulu. Jangan bilang kau baru saja jatuh cinta dengan Kei?!” aku memelototinya karena seluruh tubuhnya berubah menjadi warna oranye muda.“Tidak! Aku tidak jatuh cinta dengannya!” ia menatapku dengan wajah panik, “Aku... aku hanya kagum, itu saja” Danny melengos pergi. “Lagipula memangnya arwah bisa jatuh cinta? Kan kau sendiri yang bilang kalau arwah tidak bisa jatuh cinta” ia mengintip dari balik meja dapur, “Ya memang tidak bisa. Tapi ada satu kasus langka yang terjadi sekitar 1000 tahun yang lalu, ada arwah pendamping yang jatuh cinta dengan seorang manusia”, “Oh ya? Lalu apa yang terjadi dengan arwah itu?” Danny mendekatiku dengan wajah penasaran.
“Ya tidak ada yang terjadi, ia tetap bereinkarnasi seperti arwah yang lainnya” aku menggedikkan bahuku, “Tapi anehnya.. arwah pendamping itu adalah arwah pendampingku, dan dia juga jatuh cinta dengan Kei” aku geleng-geleng kepala sembari berdecak, “Aku yakin Pencipta kita membuat Kei begitu spesial, sampai hal yang tidak mungkin pun bisa menjadi mungkin”. Danny memandangi isi kamar Kei, “Ya.. mungkin kau benar, perempuan itu- ah, maksudku Keila.. memang spesial”, aku tertawa kecil memandangi Danny yang terpesona oleh Kei.
“Tapi.. apa menurutmu tidak aneh kalau ia tiba-tiba mendekatimu seperti ini? Maksudku kau kan orang asing” Danny duduk di sampingku, “Tadinya aku juga berpikir seperti itu, tapi bukankah ini hal yang bagus? Aku jadi bisa mendekatinya tanpa susah payah”, “Memangnya kau tidak curiga sama sekali? Bagaimana kalau ia sampai menguak identitasmu yang sebenarnya?”, “Aku tidak yakin Kei bisa sampai sejauh itu. Toh selama ini identitasku tidak pernah diketahui olehnya” aku menggedikkan bahuku, “Apa kau lupa sekarang dia punya indera keenam? Harusnya kau lebih waspada, buktinya kalian bertemu lebih cepat dari yang kau rencanakan”. 
Aku terdiam, Danny benar. Aku dan Kei memang bertemu lebih cepat dari waktu yang kurencanakan, apakah faktor indera keenam itu benar-benar berpengaruh besar? “Saat ia menyentuh kepalaku tadi, kurasa ia berusaha melihat ke dalam memoriku. Untung saja aku bisa menciptakan memori palsu, dan aku juga sempat melihat ke dalam kepalanya. Tampaknya ia mulai suka dan penasaran padamu” Danny menyunggingkan senyum mengejek “Oh iya,‘remah roti’ yang kau tinggalkan di ingatan arwahnya juga muncul lebih sering sejak kau tiba disini. Dan kurasa ia sudah curiga kalau kau bukan manusia”. Aku terhenyak... tidak tau harus merespon apa. Haruskah aku senang karena Kei mulai menyukaiku? Atau waspada karena Kei mulai curiga padaku?

          KEI
Wrap!” teriak pak Toni, teriakan itu menandakan kalau sesi rekaman band untuk single terbaru sudah selesai dan bisa mulai di edit. Aku melepas headphoneku dan berjalan keluar dari ruang rekaman, “Laper nih, pengen pizza sumpah” aku menduduki bean bag di ruang istirahat selagi terkulai lemah memegangi perutku, “Mau gue pesenin?” Kafka membuka ponselnya bersiap menelepon restoran pizza. “Jangan Ka, 2 jam lagi kan kita mau makan di luar” Bima angkat bicara, “Oh iya” Kafka menepuk jidatnya. “Tapi ini kan udah jam 4 sore, dan gue belom makan siang. Gue laper baaang” dengan sebal aku menghentak-hentakkan kakiku, “Kei.. please deh, ga usah manja gitu” ia berdecak tak suka, “Iya Kei, nanti kan kita mau makan yakiniku di luar” Kafka mengamini, sementara aku hanya memajukan bibirku dengan cemberut. “Tadi saya denger ada yang pengen pizza?” suara Raven dari ambang pintu mengejutkan anggota band yang sedang istirahat, sementara aku bengong menatapnya.
Ia berjalan dan meletakkan dua kotak besar pizza di meja yang tentu saja langsung ku serbu, sementara anggota yang lain memelototi aku yang langsung memakan dua potong pizza sekaligus. “Nggak apa-apa, dimakan aja buat ganjel perut dulu. Nanti makan malamnya diundur jadi jam 7 ya Kafka, saya yang akan traktir kalian” Raven tersenyum. “Beneran nih pak?!” aku tersenyum sumringah dan menengok ke arahnya dengan mulut penuh, “Iya beneran” Raven mengangguk dan tertawa kecil, “Nggak perlu repot-repot pak. Bapak pasti sibuk” bang Zen tersenyum dengan canggung, “Iya pak, apalagi anak yang itu makannya banyak banget” Kafka melirikku dengan wajah ngeri, aku dengan cuek menjulurkan lidahku ke arahnya. “Justru saya harus repot. Band kalian sudah menyelesaikan satu proyek lagi yang pastinya menambah profit perusahaan. Hal seperti ini patut dirayakan” Raven menepuk lembut pundak bang Zen dan duduk di sebelahku.
“Laper banget ya? Sampe belepotan gini” Raven tertawa sembari mengusap saus pizza di sudut bibirku dengan jarinya dan mengemut saus itu dari jarinya, “Ng...” aku tertawa malu dengan canggung. Aku memang tidak pernah sedekat ini dengan Raven di tempat kerja, maka dari itu aku merasa canggung saat ia melakukan hal seperti ini di depan anak-anak band (yang saat ini tengah menatap kami dengan ekspresi bingung dan kaget).
Sebenarnya selama dua bulan Raven menjadi tetanggaku, ia sering mengantarku ke café dan ke tempat rekaman, kami juga semakin sering berkomunikasi lewat telepon dan sesekali makan malam bersama, dan menurutku hubungan kami cukup dekat saat ini. Awalnya aku tidak berpikir macam-macam, kupikir ia hanya sekedar bersikap baik pada tetangganya, tapi belakangan dari caranya berbicara padaku dan menatapku, kurasa ia menyukaiku. Aku berani menyimpulkan sedemikian rupa bukan karena aku GR atau semacamnya, tapi dari perbandingan sikapnya saat ia bersamaku dan saat di publik. Misalnya saja saat aku berkunjung ke perusahaannya untuk mendiskusikan tentang pembuatan single baru, aku melihatnya bersikap begitu dingin pada bawahannya, aku juga sempat tak sengaja melihatnya mengkritik sejumlah karyawan perusahaan dengan tajam. Sikapnya benar-benar 180 derajat berbeda, saat bersamaku ia lebih sering tersenyum dan melontarkan candaan, apalagi ia begitu lembut dan sopan padaku, jadi menurutku tidak ada perempuan yang cukup bodoh untuk tidak menyadari tanda-tanda ini.
_______________________________________________________
Mobil Raven melaju menembus kepadatan kota di jam pulang kantor, ia diam-diam menatap gadis yang duduk di sebelahnya dengan senyum penuh kasih. Kei, gadis yang mampu membuat sosok seorang Watchers mencarinya di seluruh siklus kehidupan, abad demi abad pria itu lewati dengan mencari, mencintai, bertahan dari hukuman yang sangat menyakitkan, kemudian kembali mencari. Seolah-olah cinta di setiap pertemuan mereka yang begitu singkat, tak mampu memuaskan dahaga pria itu akan cinta dari wanitanya, ia masih ingin terus mendapatkan cinta Kei, entah kenapa. Namun ia merasa Louvin menyembunyikan sesuatu tentang Kei, sesuatu yang sangat penting namun ia tidak tau apa, ia yakin Louvin telah bermain dengan memorinya, beberapa potongan ingatan itu sudah ia coba cari sepanjang hidupnya, namun sangat susah menembus barrier yang diciptakan Louvin dalam ingatannya. 
Mereka memasuki restoran dimana anggota band Black Diamond yang lainnya sudah menunggu. Setelah menyalami mereka satu per satu, Raven duduk di ujung meja sembari menggulung lengan kemeja putihnya dan menyampirkan blazernya di belakang kursi. Mereka mengobrol santai sembari menikmati hidangan yang tersedia, hingga malam semakin larut dan alkohol mulai dihidangkan. Tentu saja alkohol membuat semua orang senang, setelah lelah bekerja seharian penuh, alkohol dapat membantu mereka melupakan semua kelelahan itu. Bima dan Kafka hanya menonton mereka minum dengan segelas minuman bersoda di tangan mereka, Kafka harus menyetir, sementara Bima... well... anggap saja ia tidak suka saat dirinya terlihat bodoh karena pengaruh alkohol. 
Tapi ada satu orang yang tidak terpengaruh saat semua yang meminum alkohol mulai melantur gaya bebas dengan kepala terkulai di atas meja, padahal ia meminum cukup banyak sake malam ini, tapi wajahnya masih setenang langit malam. Raven segera melarikan Kei ke kamar mandi terdekat saat gadis itu sudah menunjukkan tanda-tanda ingin muntah. Pria itu menyodorkan sebotol air lemon pada Kei sesaat setelah Kei selesai dengan pengurasan perutnya, Raven menatap langit malam dari balkon restoran, “Kamu tau, aku cukup beruntung bisa mencintai wanita yang sama seumur hidupku, walaupun penantianku cukup lama, tapi saat aku bertemu denganmu semua penantian itu terbayar lunas” pria itu tersenyum menatap Kei yang tengah memejamkan mata dengan kepala yang terantuk-antuk. 
Ia tertawa kecil melihat Kei yang terlihat seperti ayam mengantuk di hadapannya, pria itu mendekat, mengusap wajah jelita yang membuat pria itu tergila-gila sejak gadis itu hadir di dunia. Ia mendekat dan menautkan bibir hangatnya pada bibir gadis itu, seolah dalam keadaan sadar, Kei perlahan membalas ciumannya dengan agresif, mungkin saja karena efek mabuk yang membuat ciuman mereka kian panas, Raven yang mabuk cinta dipadukan dengan Kei yang mabuk alkohol.
     “Keiii” suara Kafka terdengar menggema dari lantai bawah restoran, 2 orang itu menghentikan aktivitasnya seketika, dan Kei tiba-tiba saja tertidur dengan pulas seperti bayi dalam pelukan Raven, pria itu tersenyum dan tertawa kecil saat melihat Kei makin meringkuk dalam pelukannya karena hembusan angin dingin di balkon. Ia menggendong Kei turun menuju lantai bawah dan mengajukan diri untuk membawa Kei pulang, setelah Raven meletakkan Kei di kursi penumpang, mereka mulai melaju menembus dinginnya malam.
______________________________________________________

TO BE CONTINUE
______________________________________________________
Cerita ini hanya fiktif belaka guna memenuhi tugas.

Beberapa hal yang di paparkan dalam cerita tidak sepenuhnya fakta, melainkan imajinasi dan subjektivitas penulis.

Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, hal tersebut adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.

©DinaAuliaLee

Tidak ada komentar:

Posting Komentar