Kamis, 28 November 2019

SISTEM INFORMASI PSIKOLOGI 6

ANALISIS JURNAL SAINS DAN INFORMATIKA
“IDENTIFIKASI OBESITAS PADA BALITA DI POSYANDU BERBASIS ARTIFICIAL INTELLIGENCE”

A.  Artificial Intelligence
1.    Pengertian AI
Kecerdasan Buatan (bahasa Inggris: Artificial Intelligence atau AI) didefinisikan sebagai kecerdasan entitas ilmiah. Sistem seperti ini umumnya dianggap komputer. Kecerdasan diciptakan dan dimasukkan ke dalam suatu mesin (komputer) agar dapat melakukan pekerjaan seperti yang dapat dilakukan manusia.
Beberapa macam bidang yang menggunakan kecerdasan buatan antara lain sistem pakar, permainan komputer (games), logika fuzzy, jaringan syaraf tiruan dan robotika.
Walaupun AI memiliki konotasi fiksi ilmiah yang kuat, AI membentuk cabang yang sangat penting pada ilmu komputer, berhubungan dengan perilaku, pembelajaran dan adaptasi yang cerdas dalam sebuah mesin. Penelitian dalam AI menyangkut pembuatan mesin untuk mengotomatisasikan tugas-tugas yang membutuhkan perilaku cerdas. Termasuk contohnya adalah pengendalian, perencanaan dan penjadwalan, kemampuan untuk menjawab diagnosa dan pertanyaan pelanggan, serta pengenalan tulisan tangan, suara dan wajah. Hal-hal seperti itu telah menjadi disiplin ilmu tersendiri, yang memusatkan perhatian pada penyediaan solusi masalah kehidupan yang nyata. Sistem AI sekarang ini sering digunakan dalam bidang ekonomi, obat-obatan, teknik dan militer, seperti yang telah dibangun dalam beberapa aplikasi perangkat lunak komputer rumah dan video game.
2.    Konsep Dasar AI
Pembelajaran Mesin (Machine Learning)
Saat ini mungkin tanpa sadar kita sudah berinteraksi dengan beberapa bentuk kecerdasan buatan dalam aktivitas sehari-hari. Misalnya saja jika Anda menggunakan Gmail, Anda dapat menikmati fitur penyaringan email otomatis atau jika Anda memiliki ponsel cerdas, Anda mungkin bisa mengisi kalender dengan bantuan Siri. Meskipun perangkat lunak ini sangat membantu, perangkat tersebut tidak memiliki kemampuan untuk belajar secara mandiri. Hal itu dikarenakan perangkat tadi tidak bisa berpikir di luar kode yang sudah diberikan kepada mereka.
Pembelajaran mesin adalah cabang dari AI yang bertujuan untuk memberikan mesin kemampuan dalam mempelajari tugas tanpa kode yang sudah ada. Dalam istilah yang paling sederhana, mesin tersebut akan diberikan contoh uji coba dalam jumlah yang besar untuk tugas tertentu. Ketika mesin tadi menjalani uji coba, mesin itu akan belajar dan mengadaptasi strategi yang sesuai untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Misalnya, mesin pengenal gambar dapat diberikan jutaan gambar untuk dianalisis. Setelah melalui permutasian yang panjang, mesin akan memperoleh kemampuan untuk mengenali pola, bentuk, wajah, dan masih banyak lagi.
Pembelajaran Mendalam (Deep Learning
Pembelajaran mendalam adalah teknik pembelajaran mesin yang mengajarkan komputer untuk melakukan apa yang secara alami terjadi pada manusia: belajar dengan cara mencontoh. Pembelajaran mendalam adalah teknologi utama di balik mobil tanpa kemudi (driveless car). Itu memungkinkan mereka untuk mengenali tanda berhenti, atau untuk membedakan pejalan kaki dengan tiang lampu. Ini adalah kunci dari kontrol suara di perangkat konsumen seperti ponsel, tablet, TV, dan speaker hands-free. Pembelajaran mendalam mendapatkan banyak perhatian belakangan ini karena dapat mencapai hasil yang sebelumnya tidak mungkin. Dalam deep learning, model komputer belajar untuk melakukan tugas klasifikasi langsung dari gambar, teks, atau suara. Model pembelajaran yang mendalam dapat mencapai akurasi yang canggih, terkadang melebihi kinerja tingkat manusia. Model dilatih dengan menggunakan set besar data berlabel dan arsitektur jaringan saraf yang berisi banyak lapisan.
Jaringan Saraf Tiruan (Neural Network)
Neural Network atau juga disebut sebagai jaringan saraf tiruan adalah berbagai teknologi pembelajaran yang mendalam, yang juga berada di bawah naungan kecerdasan buatan atau AI. Neural Network adalah paradigma pemrosesan informasi yang terinspirasi dari cara sistem saraf biologis, seperti otak yang memproses informasi. Kunci elemen dari paradigma ini adalah struktur novel dari sistem pemrosesan informasi. 
Neural Network dikonfigurasikan untuk aplikasi tertentu, seperti pengenalan pola atau klasifikasi data melalui proses pembelajaran. Jaringan ini terdiri dari sejumlah besar elemen pemrosesan yang sangat saling berhubungan (neuron) yang bekerja bersama untuk memecahkan masalah tertentu. Aplikasi komersial dari teknologi ini umumnya berfokus pada penyelesaian pemrosesan sinyal yang kompleks atau masalah pengenalan pola. Contoh aplikasi komersial yang signifikan sejak tahun 2000 meliputi pengenalan tulisan tangan untuk pemrosesan cek, transkripsi ucapan menjadi sebuah teks, analisis data, dan prediksi cuaca dan pengenalan wajah.
Jaringan saraf tiruan ini terinspirasi oleh hal-hal yang kita temukan dalam biologi kita sebagai manusia. Cara Neural Network memahami sesuatu sama seperti manusia yaitu belajar dengan cara mencontoh. Model jaringan saraf menggunakan prinsip matematika dan ilmu komputer untuk meniru proses otak manusia. Jaringan saraf tiruan mencoba mensimulasikan proses sel-sel otak yang saling berhubungan erat, tetapi bukannya dibangun dari biologi, neuron-neuron ini dibangun dari kode atau biasa disebut node.
Ketiga konsep AI ini dapat memungkinkan robot hardware dan software untuk berpikir dan bertindak secara dinamis di luar dari kode yang sudah diberikan. Dengan memahami konsep dasar diatas maka akan membawa AI menuju masa depan yang lebih cerdas dari yang terbayangkan.
3.    Jenis-Jenis Artificial Intelligence
Secara garis besar, artificial intellegence terbagi ke dalam dua faham pemikiran yaitu artificial intellegence Konvensional dan Kecerdasan Komputasional.
Artificial intellegence konvensional 
Kebanyakan melibatkan metoda-metoda yang sekarang diklasifiksikan sebagai pembelajaran mesin, yang ditandai dengan formalisme dan analisis statistik. Dikenal juga sebagai artificial intellegence simbolis, artificial intellegence logis, artificial intellegence murni dan artificial intellegence cara lama (GOFAI, Good Old Fashioned Artificial Intelligence).
Metoda-metodanya meliputi:
·      Sistem pakar: menerapkan kapabilitas pertimbangan untuk mencapai kesimpulan. Sebuah sistem pakar dapat memproses sejumlah besar informasi yang diketahui dan menyediakan kesimpulan-kesimpulan berdasarkan pada informasi-informasi tersebut.
·      Pertimbangan berdasar kasus
·      Jaringan Bayesian
·      Artificial intellegence berdasar tingkah laku: metoda modular pada pembentukan sistem artificial intellgence secara manual
Kecerdasan komputasional 
Melibatkan pengembangan atau pembelajaran interaktif (misalnya penalaan parameter seperti dalam sistem koneksionis). Pembelajaran ini berdasarkan pada data empiris dan diasosiasikan dengan artificial intellegence non-simbolis, artificial intelligence yang tak teratur dan perhitungan lunak.
Metoda-metoda pokoknya meliputi:
·      Jaringan Syaraf: sistem dengan kemampuan pengenalan pola yang sangat kuat.
·      Sistem Fuzzy: teknik-teknik untuk pertimbangan di bawah ketidakpastian, telah digunakan secara meluas dalam industri modern dan sistem kendali produk konsumen.
·      Komputasi Evolusioner: menerapkan konsep-konsep yang terinspirasi secara biologis seperti.
B.  Sistem Pakar
1.    Pengertian Sistem Pakar
Ditandai dengan berkembangnya salah satu sistem komputer yang merupakan adaptasi dari penalaran logis manusia yakni AI (Artificial Intelligence). Yang kini tengah mendapat perhatian dari banyak kalangan yang merupakan bagian khusus dari AI yakni Sistem Pakar (Expert System)yaitu sistem yang berfungsi sebagai seorang spesialis dalam suatu bidang
Sistem Pakar pertama kali dikembangkan oleh komunitas Artificial Intelligence (AI) pada tahun 1960-an. Sistem Pakar yang pertama kali adalah GPS (General Purpose Problem Solver) yang dikembangkan oleh Newel Simon. Menurut Efraim Turban, Sistem Pakar harus mengandung keahlian, ahli, pengalihan keahlian, inferensi, aturan dan kemampuan menjelaskan.
Sistem pakar merupakan sistem yang berusaha mengadopsi pengetahuan manusia ke komputer. Pengetahuan dalam sistem pakar diambil dari manusia yang ahli (yang pakar) dalam domain tersebut, dan sistem pakar menirukan metodologi serta kinerjanya. Perlu diketahui bahwa sistem pakar tidak untuk menggantikan kedudukan seorang pakar, melainkan memasyarakatkan pengetahuan dan pengalaman pakar tersebut, sehingga komputer dapat menyelesaikan masalah seperti yang biasa dilakukan oleh para ahli (pakar).
Sistem pakar adalah bagian dari kecerdasan buatan yang berisi kombinasi pemahaman teoritis tentang suatu persoalan dan sekumpulan aturan pemecahan heuristik yang dikembangkan oleh manusia untuk dapat memecahkan masalah.
Sistem pakar merupakan perangkat lunak yang digunakan untuk memecahkan masalah yang biasanya diselesaikan oleh seorang pakar. Aturan-aturan di dalamnya memberitahu program bagaimana ia memberlakukan informasi-informasi yangtersimpan. Berdasarkan itu program memberikan solusi-solusi atau bantuan pengambilan keputusan mengenai permasalahan tertentu, mirip dengan saran seorang pakar.
2.    Ciri-ciri Sistem Pakar
Sistem Pakar bisa disebut sebagai sistem yang ideal jika mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
a.    Terbuka untuk diperiksa
Hal ini penting untuk mempermudah penambahan sejumlah informasi atau aturan baru untuk memperbaharui basis pengetahuannya dalam rangka mengembangkan kinerjanya, memuaskan user akan kebenaran jawaban yang diberikan oleh sistem pakar, dan setiap keputusan yang diambil untuk mendapatkan solusi dapat dievaluasi dengan baik.
b.    Mudah dimodifikasi
c.    Fasilitas penalaran/ penjelasan
Adanya fasilitas penalaran membuat sistem pakar dapat memberikan informasi tentang kesimpulan yang diambil komputer dan memperlihatkan kaidah-kaidah yang dipergunakan.
3.    Tujuan Sistem Pakar dan Manfaat Sistem Pakar
       Tujuan sistem pakar yang paling utama adalah membuat sebuah sistem komputer yang mampu memberikan solusi terhadap suatu masalah layaknya seorang pakar. Sederhananya kurang lebih begini Sistem pakar ini diharapkan mampu mengganti keberadaan seorang pakar dalam perannya mengatasi sebuah masalah. Semisal di pertanian ada wabah penyakit pada tanaman. Namun para petani tidak tahu penyakit apa yang mereka hadapi. Kebetulan sekali, di daerah tersebut tidak ada seorang ahli pertanian. Nah, dengan bantuan komputer melalui sistem pakar petani hanya perlu memasukkan apa saja ciri-ciri dari penyakit tersebut kemudian sistem pakar akan memberikan jawaban penyakit apa yang dialami tanaman tersebut. Perlu digaris bawahi Tujuan utama dari sistem pakar bukan untuk mengganti kedudukan seorang ahli atau seorang pakar, tetapi hanya untuk memasyarakatkan pengetahuan dan pengalaman pakar-pakar yang sangat langka itu.
Dari paragraf di atas kita bisa mengambil poin-poin tujuan sistem pakar :
·      Memasyarakatkan pengetahuan dan pengalaman seorang pakar.
·      Dapat digunakan non-expert untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah dan untuk expert sebagai knowledge assistant.
·      Menyederhanakan pekerjaan dan memperbaiki kualitas.
·      Memecahkan masalah (sederhana) tanpa kehadiran seorang pakar.
4.    Cara Kerja dan Komponen Sistem Pakar
Cara kerja sebuah sistem pakar simpelnya bisa dilihat pada gambar “Diagram Blok Sistem Pakar”. Pada gambar tersebut komponen sistem pakar yang ada di dalam kotak merupakan komponen yang ada pada sistem komputer.  Komponen tersebut:
·      User Interface : Merupakan tampilan antar muka yang berhadapan langsung dengan pengguna (user).
·      Inference Engine : Merupakan sebuah mesin yang mengaplikasikan aturan-aturan logika yang ada di dalam basis pengetahuan (knowledge base) sehingga akan menghasilkan jawaban yang akan didapat oleh pengguna (user).
·      Knowledge Base : Merupakan sebuah kumpulan-kumpulan pengetahuan yang akan digunakan untuk mendapatkan jawaban dari fakta-fakta yang dimasukkan oleh pengguna melalui Inference engine terlebih dahulu.
·      Dan yang tidak kalah penting dari sebuah sistem pakar adalah pengguna itu sendiri (user).
Komponen sistem pakar tersebut saling berkaitan dan membentuk suatu alur kerja seperti berikut :
·      Pengguna memasukkan fakta-fakta ke dalam sebuah sistem pakar. Semisal menjawab pertanyaan ya atau tidak. Pengisian fakta-fakta tersebut dilakukan di User Interface (UI).
·      Kemudian fakta-fakta tersebut akan dikirim ke mesin inferensi (inference engine).
·      Mesin inferensi akan mengolah fakta-fakta tersebut berdasarkan aturan-aturan logika yang ada pada basis pengetahuan.
·      Basis pengetahuan menyediakan pengetahuan-pengetahuan yang dibutuhkan oleh mesin inferensi.
·      Ketika selesai diolah, sistem pakar akan memberikan output atau jawaban yang sudah diolah oleh mesin inferensi berdasarkan pengetahuan yang ada pada sistem pakar. Jawaban tersebut akan tampil di User Interface sistem pakar sendiri.

C.  Forward Chaining
1.    Pengertian Forward Chaining
Forward Chaining merupakan suatu penalaran yang dimulai dari fakta untuk mendapatkan kesimpulan (conclusion) dari fakta tersebut. Forward chaining bisa dikatakan sebagai strategi inference yang bermula dari sejumlah fakta yang diketahui. Pencarian dilakukan dengan menggunakan rules yang premisnya cocok dengan fakta yang diketahui tersebut untuk memperoleh fakta baru dan melanjutkan proses hingga goal dicapai atau hingga sudah tidak ada rules lagi yang premisnya cocok dengan fakta yang diketahui maupun fakta yang diperoleh.
Forward chaining bisa disebut juga runut maju atau pencarian yang dimotori data (data driven search). Jadi pencarian dimulai dari premis-premis atau informasi masukan (if) dahulu kemudian menuju konklusi atau derived information (then). Forward Chaining berarti menggunakan himpunan aturan kondisi-aksi. Dalam metode ini, data digunakan untuk menentukan aturan mana yang akan dijalankan atau dengan menambahkan data ke memori kerja untuk diproses agar ditemukan suatu hasil.
2.    Forward Chaining digunakan jika:
a.    Banyak aturan berbeda yang dapat memberikan kesimpulan yang sama.
b.    Banyak cara untuk mendapatkan sedikit konklusi.
c.    Benar-benar sudah mendapatkan berbagai fakta, dan ingin mendapatkan konklusi dari fakta-fakta tersebut.
3.    Adapun tipe sistem yang dapat menggunakan teknik pelacakan forward chaining, yakni:
a.    Sistem yang direpresentasikan dengan satu atau beberapa kondisi.
b.    Untuk setiap kondisi, sistem mencari rule-rule dalam knowledge base untuk rule-rule yang berkorespondensi dengan kondisi dalam bagian if.
c.    Setiap rule dapat menghasilkan kondisi baru dari konklusi yang diminta pada bagian then. Kondisi baru ini dapat ditambahkan ke kondisi lain yang sudah ada.
d.    Setiap kondisi yang ditambahkan ke sistem akan diproses. Jika ditemui suatu kondisi, sistem akan kembali ke langkah 2 dan mencari rule-rule dalam knowledge base Jika tidak ada konklusi baru, sesi ini berakhir.
Jika klausa premis sesuai dengan situasi (bernilai true), maka proses akan meng-assert konklusi. Forward chaining juga digunakan jika suatu aplikasi menghasilkan tree yang lebar dan tidak dalam.
4.    Pada metode forward chaining, ada 2 cara yang dapat dilakukan untuk melakukan pencarian, yaitu:
a.    Dengan memasukkan semua data yang tersedia ke dalam sistem pakar pada satu kesempatan dalam sesi konsultasi. Cara ini banyak berguna pada sistem pakar yang termasuk dalam proses terautomatisasi dan menerima data langsung dari komputer yang menyimpan data base, atau dari satu set sensor.
b.    Dengan hanya memberikan elemen spesifik dari data yang diperoleh selama sesi konsultasi kepada sistem pakar. Cara ini mengurangi jumlah data yang diminta, sehingga data yang diminta hanyalah data-data yang benar-benar dibutuhkan oleh sistem pakar dalam mengambil kesimpulan.

D.  Obesitas pada Balita
1.    Pengertian Obesitas pada Anak
Obesitas atau kegemukan yang berlebih dimaknai berbeda bagi setiap orang. Obesitas adalah kelebihan berat badan sebagai akibat dari penimbunan lemak tubuh yang berlebihan berdasarkan beberapa pengkuran tertentu. Obesitas pada anak adalah kondisi medis pada anak yang ditandai dengan barat badan di atas rata-rata dari indeks massa tubuhnya (Body Mass Index) yang di atas normal. Indeks Massa Tubuh (IMT) dihitung dengan cara mengalikan berat badan anak kemudian dibagi dengan kuadrat dari besar tinggi anak. Jika seorang anak memiliki IMT di atas 25 kg/m2,maka anak tersebut menderita obesitas.
Obesitas pada anak dapat dinilai dari beberapa kriteria selain IMT. Terkadang seseorang anak terlihat gemuk, namun belum tentu disebut obesitas. Beberapa metode dan teknik diagnosis dapat dilakukan untuk menilai apakah anak gemuk sudah memasuki tahap obesitas atau hanya over weight.
Saat ini, praktisi kesehatan anak di seluruh dunia, di negara maju maupun negara berkembang, mengkhawatirkan makin meningkatnya jumlah anak yang mengalami obesitas. Di negara-negara maju seperti Amerika Serikat atau Australia, sepertiga sampai setengah anak dan remaja mengalami obesitas. Di kota-kota besar di Indonesia, lebih dari 10% anak telah mengalami obesitas.
Obesitas merupakan masalah kesehatan yang penting, selain karena merupakan faktor risiko timbulnya penyakit kronis degeneratif di kemudian hari, obesitas juga sudah banyak menimbulkan masalah pada usia anak dan remaja. Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa obesitas pada masa anak berkaitan dengan kejadian obesitas pada masa dewasa. Berbagai pengamatan juga menunjukkan bahwa makin dini seorang anak mengalami obesitas, makin rendah usia harapan hidupnya akibat menderita penyakit-penyakit kronis degeneratif seperti diabetes mellitus tipe 2, penyakit jantung, stroke dan kanker. Pada masa anak dan remaja, obesitas juga dapat mengakibatkan hipertensi, sleep apnea, masalah pernapasan, masalah postur dan perkembangan tulang ekstremitas, masalah psikososial, masalah hormonal dan sistem reproduksi, alergi dan hipersensitivitas dan masih banyak lagi.
Pencegahan dan manajemen obesitas anak merupakan tantangan tersendiri, bukan hanya bagi petugas kesehatan tetapi juga bagi masyarakat secara umum. Secara umum, obesitas diatasi dengan membatasi asupan makan dan meningkatkan aktivitas fisik, tetapi hal tersebut sulit dapat dilakukan bila lingkungan sangat tidak mendukung. Mengurangi asupan kalori dapat dilakukan dengan menurunkan asupan lemak dan karbohidrat serta meningkatkan asupan serat dan air. WHO merekomendasikan asupan buah dan sayur minimum 5 porsi sehari, disertai cukup minum tanpa gula. Mengurangi asupan minuman bergula terbukti mampu menghambat peningkatan berat badan anak obes.
2.    Faktor Pemicu Obesitas
Banyak faktor yang dapat menyebabkan obesitas. Beberapa di antaranya saling berkaitan, yaitu:
·      Gaya hidup. Pola makan tidak sehat dengan kalori yang berlebihan dan tidak diiringi dengan aktif bergerak. Mengonsumsi makanan yang kaya kandungan lemak jenuh dan gula (seperti eskrim, coklat, permen), kelompok makanan cepat atau siap saji (fast food), serta minuman ringan atau minuman berenergi diduga menjadi penyebab utama obesitas. Pola makan yang disertai dengan kebiasaan duduk terlalu lama di depan TV atau di depan layar komputer ini menjadi penyebab utama obesitas di antara generasi muda.
·      Faktor genetis. Meski tidak mutlak, anak dengan anggota keluarga atau orang tua yang mengidap obesitas lebih berisiko mengidap obesitas. Selain bersifat keturunan, juga bisa diakibatkan oleh pola makan dan gaya hidup anak yang serupa dengan orangtuanya.
·      Faktor psikologis. Obesitas kadang-kadang dialami oleh anak atau remaja yang menjadikan makanan sebagai pelarian dari rasa frustrasinya atau stres psikologis terhadap pelajaran di sekolah, kebosanan, masalah, dan bentuk emosional lainnya.
Selain faktor-faktor di atas, praktik pemberian makan bayi dan anak yang tidak diperhatikan atau masih tradisional, dengan pilihan makanan yang mengandung sedikit nutrisi baik, juga menjadi faktor kontributor lain.
3.    Komplikasi Akibat Obesitas
Tidak hanya pada kesehatan, obesitas dapat berdampak pada hidup anak secara keseluruhan.
Dampak secara fisik
Berikut ini adalah kondisi-kondisi kesehatan yang dapat dipicu oleh obesitas:
Tekanan darah tinggi dan kolesterol tinggi. Keduanya berisiko menimbulkan plak yang menyebabkan penyempitan pembuluh arteri pada anak, sehingga dapat memicu stroke dan serangan jantung di kemudian hari.
Diabetes tipe 2. Gaya hidup yang kurang aktif bergerak, ditambah dengan kondisi obesitas, dapat memicu risiko diabetes tipe 2 yang memengaruhi metabolisme glukosa dalam tubuh Si Kecil.
Penyakit pernapasan. Bobot tubuh anak yang berlebihan bisa mengakibatkan saluran pernapasan anak menyempit, membengkak, dan membuatnya kesulitan bernapas sehingga berisiko menderita penyakit pernapasan seperti asma.
Gangguan pola tidur. Akibat obesitas, pernapasan anak bisa menjadi tidak normal, misalnya mendengkur saat sedang tidur. Kualitas istirahat atau tidur anak tersebut dapat menurun akibat gangguan pada pernapasannya. Hal ini dapat menyebabkan prestasi belajar di sekolah menurun karena anak sulit konsentrasi di kelas dan sering mengantuk di siang hari.
Penyakit perlemakan hati non-alkoholik (Non-Alcoholic Fatty Liver Disease/NAFLD). Obesitas dapat menyebabkan penumpukan lemak yang membahayakan organ hati.
Gangguan pada tulang yang menyangga kelebihan berat pada tubuh.
Dampak secara sosial dan emosional
Gangguan pada perilaku. Anak yang menderita obesitas cenderung lebih sulit untuk bersosialisasi dan lebih mudah khawatir mengenai pendapat orang lain terhadap berat badannya.
Tidak percaya diri. Tubuh dengan berat berlebihan kerap membuat seseorang menjadi tidak percaya diri dalam pergaulan.
Depresi. Rasa tidak nyaman dan percaya diri membuat anak rentan mengalami depresi.
4.    Cara Mendiagnosis Obesitas
Langkah paling awal jika Anda khawatir bahwa anak Anda mengidap obesitas adalah dengan memeriksakannya ke dokter agar dia mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.
Sebelum mengantar anak ke dokter, persiapkanlah hal-hal berikut ini:
·      Tulis keluhan, perilaku, aktivitas, dan kebiasaan anak yang dapat menyebabkan obesitas.
·      Catat kelompok makanan apa saja yang dikonsumsi anak dalam sepekan atau makanan yang sering ia konsumsi. Bawa juga catatan obat-obatan atau vitamin yang biasa dikonsumsinya.
·      Kemungkinan dokter juga akan menanyakan aktivitas dan pola makan keluarga sehari-hari, serta riwayat anggota keluarga yang mengidap obesitas.
·      Indeks Massa Tubuh (IMT)
IMT adalah pengukuran yang umum digunakan untuk menentukan apakah berat badan seseorang dapat diklasifikasikan sebagai di bawah berat normal, berberat badan normal, kelebihan berat badan, atau obesitas. IMT diukur dengan rumus berat (dalam kilogram) dibagi tinggi badan kuadrat (dalam meter2).
Contohnya seorang anak laki-laki berusia 8 tahun dengan berat badan 50 kilogram, dan tinggi badan 1,2 meter, maka IMT-nya adalah:
 50 kg/(1,20 m)2 = 50/1.44 ≈ 34,7 kg/m2
Pengukuran berdasarkan IMT anak Anda akan dibandingkan berdasarkan IMT anak-anak lain dengan jenis kelamin, usia dan tinggi badan yang sama.
·      Selain mengukur IMT anak, dokter akan memeriksa pola makan, tingkat aktivitas anak, riwayat obesitas dalam keluarga, dan masalah kesehatan anak yang lain.
·      Pemeriksaan kadar gula darah, kolesterol, keseimbangan hormon, kadar vitamin D, dan pemeriksaan terkait kondisi obesitas lain juga bisa dilakukan. Perhatikan bahwa umumnya tes darah ini mengharuskan anak untuk berpuasa selama 8-12 jam sebelumnya.
5.    Tipe-tipe Obesitas
Tipe obesitas berdasarkan Etiologinya:
a.    Obesitas Primer
Disebabkan oleh faktor nutrisi dengan berbagai faktor yang dapat mempengaruhi masukan makanan, yaitu masukan makanan berlebih dibanding dengan kebutuhan energi yang diperlukan tubuh.
b.    Obesitas Sekunder
Disebabkan adanya penyakit atau kelainan congenitall (mielodisklasia), endokrin (sindrom cushing, sindrom freulich, sindrom mauriach, pseudo-paratiroidisme), atau kondisi lain (sindrom klinefelter, sindrom turner, sindrom down, dll)
Tipe obesitas berdasarkan keadaan sel lemak:
a.    Kegemukan tipe Hyperplastik
Kegemukan tipe ini terjadi karena jumlah sel lemak yang lebih banyak dibandingkan keadaan normal tetapi ukuran sel-selnya tidak bertambah besar. Kegemukan ini biasa terjadi pada masa anak-anak.
b.    Kegemukan tipe Hypertropik
Kegemukan ini terjadi karena ukuran sel lemak menjadi lebih besar dibandingkan dengan keadaan normal, tetapi jumlah sel tidak bertambah banyak dari normal. Kegemukan tipe ini terjadi pada usia dewasa. Usaha untuk menurunkan berat badan pada kondisi ini lebih mudah dibandingkan pada kegemukan tipe hyperplastik.
c.    Kegemukan tipe Gabungan (Tipe Hyperplastik dan Hypertropik) Kegemukan terjadi karena jumlah dan ukuran sel lemak melebihi normal. Pembentukan sel lemak baru terjadi segera setelah derajat hypertropik mencapai maksimal dengan perantaraan suatu sinyal yang dikeluarkan oleh sel lemak yang mengalami hypertropik. Kegemukan ini bisa dimulai pada anak-anak dan berlangsung terus sampai dewasa. Upaya untuk menurunkan berat badan paling sulit dan resiko tinggi untuk terjadi komplikasi penyakit.


DAFTAR REFERENSI:
http://aroundinformatics.blogspot.com/2017/07/sistem-pakar-expert-system.html
https://nuranimahabbah.wordpress.com/2011/09/28/obesitas-pada-anak/



Tidak ada komentar:

Posting Komentar